Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Kepergian pemilik rumah makan Seribu Teratai meninggalkan duka di hati Hara. Selama 25 tahun menjadi yatim piatu, ia mengenal baik Engkong Lian. Tak terkecuali si polisi tua, Om Bayu, yang selalu protektif padanya sejak kecil.
Ke mana pun Hara pergi, ia memakai sarung tangan demi menyembunyikan rahasia; melihat masa lalu kala menyentuh benda mati. Hingga suatu hari, Hara melepas sarung tangannya saat menghadiri jamuan teh cucu Engkong Lian.
Siapa yang menyangka, di balik kelahiran Hara terjadi kasus tak terpecahkan dan tragedi kelam, hingga menelan keluarga Om Bayu.
Bahkan di balik cawan kosong masih terselip rahasia kecil tak bertuan.
Bukan sekadar membawa pembaca menyusuri sebuah misteri, melainkan mengajak kita memasuki ruang gelap tempat masa lalu yang menolak untuk dilupakan. Kepergian Engkong Lian membuka luka lama dalam kehidupan Hara, seorang yatim piatu yang selama 25 tahun tumbuh di bawah bayang-bayang rahasia kelahirannya sendiri. Sarung tangan yang selalu dikenakannya terasa seperti metafora tentang manusia yang berusaha menyentuh dunia tanpa harus disentuh kembali oleh masa lalunya. Latar etnis Tionghoa dan jejak kehidupan pada zaman Hindia Belanda memberikan lapisan historis yang membuat misteri personal Hara bersentuhan dengan luka sosial yang lebih luas. Perspektif stilistika pascakolonial, pilihan latar, nama, simbol, dan ingatan sejarah tersebut dapat dibaca sebagai cara teks menghadirkan kembali suara kehidupan secara terang, meski di era lampau pernah ditempatkan di pinggir narasi kolonial.