Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Fardan Fauzan percaya bahwa sebuah taman harus dibangun dengan perhitungan: ruang yang tertata, garis yang sempurna, dan keindahan yang berada dalam kendali manusia. Sebagai seorang arsitek, ia terbiasa merancang kehidupan sebagaimana ia merancang bangunan—terukur, kokoh, dan tanpa celah.
Namun, pertemuannya dengan Ghalia Tarifa mengubah cara pandangnya tentang kehidupan.
Ghalia memandang taman bukan sekadar kumpulan bunga, pepohonan, dan ruang yang indah. Baginya, taman adalah tempat manusia bertemu dengan dirinya sendiri, tempat kenangan tumbuh, dan tempat cinta menemukan akar.
Pertemuan mereka bermula di tengah senja yang diguyur gerimis, aroma melati yang menguar dari Griya Puspa Arum, serta secangkir teh hangat yang disuguhkan dengan senyum sederhana. Perbedaan pandangan yang semula melahirkan perdebatan perlahan berubah menjadi percakapan panjang tentang cinta, kehidupan, pengorbanan, dan waktu.
Di antara taman yang terus bertumbuh dan perjalanan hidup yang tak selalu mudah, Fardan dan Ghalia belajar bahwa cinta bukanlah sesuatu yang dapat dirancang seperti bangunan. Ia tumbuh perlahan, membutuhkan kesabaran, kejujuran, dan keberanian untuk membiarkannya hidup.
Hingga bertahun-tahun kemudian, ketika usia telah membawa keriput pada tangan dan memutihkan rambut mereka, sebuah taman tetap berbunga dan generasi baru tumbuh di dalamnya.