Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Di tengah riuhnya kota, di antara gerbong KRL yang penuh sesak, kafe-kafe, pusat perbelanjaan, dan percakapan sehari-hari yang tampak biasa, hiduplah Erwin Bimantara menjalani hidup yang tidak pernah benar-benar biasa.
Setiap pagi, ia membaca renungan dari Kitab Suci. Awalnya sederhana. Rutinitas. Kewajiban iman yang ia jalani tanpa banyak pertanyaan. Namun perlahan, sesuatu yang aneh mulai terjadi.
Apa yang ia baca, ah, itu seolah hidup. Ayat-ayat itu tidak berhenti di halaman. Mereka seperti keluar, berjalan bersamanya, lalu menjelma menjadi kejadian nyata di sekelilingnya. Teguran Paulus muncul dalam percakapan kasar di toko olahraga. Mazmur Daud terasa nyata dalam kegelisahan hatinya sendiri. Bahkan pertanyaan-pertanyaan tentang terang dan gelap, benar dan salah, tidak lagi menjadi konsep, melainkan pilihan yang harus ia ambil. Yang di saat itu juga.
Erwin mulai menyadari satu hal yang mengganggu. Apakah menjadi orang baik ternyata tidak cukup?
Di balik sikapnya yang tenang dan tidak bermasalah, tersembunyi banyak hal yang belum ia sadari. Ada ketakutan, luka lama, keengganan untuk terlibat, dan kecenderungan untuk diam ketika seharusnya ia berdiri. Setiap peristiwa kecil menjadi cermin. Setiap interaksi menjadi ujian. Sesungguhnya setiap hari adalah ruang untuk bertanya:
"Apa yang Tuhan mau dalam peristiwa ini?"
Namun perjalanan menjadi sisi terang tidak pernah mudah. Karena terkadang, kegelapan terbesar bukanlah yang ada di luar, melainkan yang diam-diam bersembunyi di dalam diri sendiri.
Bumantara adalah kisah tentang perjalanan batin seorang pria biasa di dunia yang tidak pernah benar-benar hitam-putih. Sebuah cerita reflektif, jujur, dan dekat dengan keseharian. Sebuah kisah remeh temeh tentang iman yang diuji, luka yang perlahan dibongkar, dan keberanian untuk melihat diri sendiri. Dari sudut pandang yang apa adanya.
Karena mungkin, seperti Erwin, kita semua pernah merasa bahwa hidup ini biasa saja, sampai suatu hari kita sadar. Bahwasanya sesungguhnya Tuhan sedang berbicara lewat hal-hal yang paling sederhana.