Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Gara-gara sang ayah mencuri setangkai mawar di pekarangan istana, Belle dikorbankan sebagai tawanan sang empunya mawar, yakni sesosok monster mengerikan bernama Beast. Segera saja Belle menyadari bahwa Beast hanyalah monster dalam penampilannya, sedangkan sikapnya amat sopan dan bermartabat. Setelah beberapa hari menghabiskan waktu di istana yang suram dan sepi, Belle mulai bermimpi tentang seorang pangeran yang memohon pertolongannya. Belle yakin sang pangeran sama seperti dirinya, tawanan Beast, dan dia bertekad untuk menyelamatkan pemuda tersebut.
Kalau tumbuh dengan versi Disney, membaca novel Beauty and the Beast memang terasa seperti memasuki cerita yang berbeda. Versi novelnya jauh lebih kelam, sunyi, dan psikologis. Beast bukan sekadar sosok lucu yang pemarah, melainkan figur yang benar-benar mengintimidasi, sementara istana terasa seperti penjara yang dipenuhi kesepian.
Yang paling menarik justru perubahan perasaan Belle. Cinta mereka tidak lahir dari lagu-lagu romantis atau petualangan yang meriah, tetapi dari percakapan, rasa hormat, dan kemampuan melihat kemanusiaan di balik rupa yang mengerikan. Mimpi tentang pangeran juga menambah lapisan misteri yang tidak banyak muncul dalam adaptasi Disney.
Bagi saya, versi novel terasa lebih dewasa. Ia berbicara tentang penampilan yang menipu, pengorbanan, kesepian, dan bagaimana kasih bertumbuh perlahan, bukan muncul seketika. Disney menghadirkan dongeng yang hangat, sedangkan novel aslinya menawarkan kisah yang jauh lebih gelap dan melankolis, namun justru di situlah pesonanya.