Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Darvian Niskara adalah seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun yang menderita Autism Spectrum Disorder (ASD). Sebuah kondisi yang membuatnya sering dianggap berbeda dari orang normal pada umumnya. Ia terlalu diam, terlalu kaku, dan sulit dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya.
Sejak kecil, Darvian lebih akrab dengan keheningan daripada percakapan. Ia tidak pandai berbasa-basi, tidak mengerti candaan yang terselip di antara kalimat, dan kerap menghindari tatapan mata terlalu lama. Namun di balik itu semua, pikirannya bekerja dengan cara yang luar biasa. Ia mampu melihat pola yang tidak disadari oleh orang lain, mengingat detail kecil yang sering terlewat, dan menyelesaikan masalah dengan ketenangan yang jarang dimiliki kebanyakan orang.
Darvian tidak pernah jatuh cinta. Tidak pernah menjalin hubungan. Bukan karena ia tidak ingin, tetapi karena ia tidak tahu bagaimana caranya.
Hingga suatu malam, semuanya berubah. Saat hujan turun tanpa henti, membasahi jalanan yang sepi dan dingin. Darvian yang baru saja pulang kerja menghentikan langkahnya ketika mendengar suara kecil lirih, bergetar, nyaris tenggelam oleh suara hujan. Tangisan.
Darvian menoleh, matanya menyapu sekeliling hingga berhenti pada sosok kecil di bawah lampu jalan yang redup. Seorang anak perempuan, berdiri sendirian, tubuhnya basah kuyup, dan matanya penuh ketakutan.
Darvian mematung. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, anak itu berlari kecil ke arahnya. . . lalu menggenggam tangannya dengan erat.
Sentuhan itu membuat tubuh Darvian menegang. Napasnya tertahan. Ia tidak menyukai sentuhan mendadak. Tapi anehnya. . . ia juga tidak menarik tangannya.
Anak itu mendongak, matanya berkaca-kaca, suaranya hampir tak terdengar saat berbisik,