Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Bagi banyak orang, aroma bawang goreng dan kaldu sapi pekat yang mengepul dari dapur adalah sebuah undangan pulang. Namun bagi Bumi, aroma rawon buatan Ibunya adalah sebuah mesin waktu mekanis yang memaksanya kembali menghadapi luka yang belum sembuh.
Setelah dua tahun menghindar, Bumi terpaksa pulang ke rumah masa kecilnya. Di sana, sebuah meja makan kayu mahoni tua telah menanti. Meja yang seharusnya menjadi tempat menyatukan yang retak, justru menjadi saksi bisu bagaimana dinginnya dendam Bumi terhadap almarhum ayahnya berbenturan dengan harapan tulus sang Ibu, Astri, serta keceriaan adik bungsunya, Mentari.
Bumi menolak hadir di peringatan seratus hari kematian pria yang sepanjang hidupnya hanya memberikan tuntutan dan makian. Namun, sebuah cangkir kopi tua yang tersisa di meja makan dan sebuah buku agenda usang bersampul kulit hitam mengubah segalanya.
Di balik aroma masakan rumah yang familier, ada rahasia-rahasia kecil yang tak pernah terucap semasa sang ayah hidup. Bab demi bab masa lalu mulai terbuka, memaksa Bumi memilih: tetap mengunci diri dalam ruang dendam yang pekat, atau membiarkan kehangatan meja makan membasuh lukanya yang paling dalam?
"Karena terkadang, cinta yang paling besar justru disembunyikan di tempat yang paling bising: di balik denting sendok dan aroma masakan Ibu."