Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Akhirnya Luna pulang. Ia melewati pintu jati yang terlihat kokoh itu, namun, segalanya tampak seperti memori yang membeku dalam kaindahan. Aroma masakan Ibu yang gurih masih mengepul di meja makan, tawa renyah Ayah masih terdengar dari ruang tamu, dan celotehan hangat kedua adiknya, Brian dan Bianca, seolah menghapus pahitnya tahun-tahun pelarian Luna di kota.
Namun, siapa sangka? Kebahagiaan itu mulai menunjukkan retakkan yang nyata?
Sesekali aroma masakan Ibu yang sedap berubah menjadi bau tanah yang membusuk? Mengapa sang Ayah selalu memperban kedua tangannya? Mengapa pelukan Bianca seolah tak pernah sampai di hangat kulitnya? Dan, Brian, ada apa dengan Brian yang sesekali terlihat lebih murung di wajahnya yang ceria itu?
Di rumah ini, setiap tawa adalah benang yang dirajut untuk menutupi lara, dan setiap sudut ruangan adalah sebuah labirin yang menolak kebenaran.
Dan Luna harus memilih: tetap tinggal dalam perjamuan indah yang ia ciptakan sendiri, atau membuka pintu kamar yang terkunci dan menghadapi nisan yang selama ini ia sebut sebagai rumah.