Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
AMBANG SENJA: Ujung Sejarah Melayu Deli dan Langkat
Sumatra Timur, 1946. Ketika Republik Indonesia memasuki masa-masa awal kemerdekaannya, Kesultanan Melayu Deli dan Langkat justru berdiri di ambang keruntuhan. Di tengah pergolakan Revolusi Indonesia, dunia lama yang dibangun di atas tradisi, kehormatan, dan daulat kesultanan berhadapan dengan arus perubahan yang tak lagi terbendung.
Irwansyah, seorang pemuda berdarah rakyat jelata yang tumbuh di lingkungan bangsawan Melayu, memilih jalan yang nyaris mustahil: menjadi jembatan antara istana dan pergerakan nasional. Baginya, masa depan tanah kelahirannya harus dibangun tanpa mengorbankan martabat dan warisan Melayu.
Perjuangan itu membawanya menempuh perjalanan berbahaya melintasi Eropa di tengah Perang Dunia II, sebelum menerobos kepungan Jepang di Malaya untuk kembali ke Sumatra. Namun, ketika ia akhirnya pulang, tanah air yang hendak diselamatkannya telah berubah.
Di sisi lain berdiri Syam, tokoh pergerakan kiri yang radikal. Bagi Syam, Indonesia yang baru tidak membutuhkan ruang bagi kaum feodal dan kekuasaan lama. Pertentangan keduanya perlahan berkembang menjadi benturan antara dua pandangan tentang masa depan Indonesia.
Fitnah, pengkhianatan, persahabatan yang retak, dan ambisi ideologi membawa mereka menuju sebuah tragedi. Ketika pergolakan politik menyapu Sumatra Timur, titian damai yang dibangun Irwansyah patah satu demi satu. Ia akhirnya harus menyaksikan dunia yang dicintainya runtuh bersama berakhirnya daulat para sultan Melayu Deli dan Langkat.
Ambang Senja adalah novel sejarah tentang Revolusi Indonesia, Kesultanan Melayu Deli dan Langkat, serta manusia-manusia yang terperangkap di antara runtuhnya sebuah zaman dan lahirnya Indonesia yang baru.
Sebuah kisah tentang persahabatan, pengkhianatan, cinta pada tanah leluhur, dan harga yang harus dibayar ketika sejarah bergerak tanpa menunggu siapa pun.
Done. Akhirnya tamat juga baca di Ambang Senja, lengkap dengan drama gangguan jaringan Kwikku yang kerap membuatku harus login ulang ke akun sendiri.
Penulisan yang apik sekali, alur yang manis. Penceritaan yang sangat berkesan. Bahkan aku merasa seperti bukan membaca melainkan menonton. Persis seperti menonton Ipin dan Upin.
Meski harus bolak-balik scroll ke atas dan ke bawah untuk lihat footnote, tapi tak mengurangi keasyikan membaca, karena memang aku sangat suka sekali cerita sejarah seperti ini. Paling suka plot twist-nya. Dari awal baca sampai ke tengah hingga menjelang akhir, aku sudah mulai meraba, jangan-jangan masing-masing tokoh nanti akan terkait di bagian akhir, ternyata benar. Aku percaya sekali penulis yang satu ini pandai menjalinkan benang konflik hingga akhir.
Jujur saja sempat mencari tahu di Wikipedia tokoh-tokoh pahlawan perjuangan di Langkat, saking penasarannya sama Atuk Irwansyah.
Sukses selalu untuk Kang Indra Wibawa.
Nggak diikutsertakan kompetisi 500jt ya bang? padahal salah satu pemenang kompetisi yang judulnya Tunggu Aku di Batavia juga romance fiksi sejarah. Menurut saya bagus ini novelnya bang. Detail tentang kondisi Sumatra Timur dan konflik sejarahnya dapet vibesnya. Berasa hadir di sana masa itu.