Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Seberapa banyak dunia boleh dikendalikan sebelum kendali itu sendiri menjadi kehancuran?
Selama berabad-abad, Benua Arlenthia tunduk di bawah kendali dingin Menara Sihir Muccus yang memonopoli arus energi dunia. Keseimbangan dijaga ketat, hingga hari ketika Pegunungan Elizabeth berguncang hebat dan merobek langit benua.
Princess Aelthira dari Aerithra telah menyentuh sesuatu yang seharusnya tetap tersegel: Dark Ophius, reaktor mana purba dari era kehancuran The Age of Fracture.
Bagi Pemimpin Tertinggi Menara, Lord Dorion, Aelthira bukan lagi seorang gadis, melainkan ancaman kepunahan peradaban yang harus dimusnahkan. Namun bagi raja-raja lain yang pragmatis, ini adalah kesempatan emas untuk meruntuhkan tirani menara. Perang global pecah, dan dengan satu ledakan emosi yang tak terkendali, Aelthira menghabisi ribuan penyihir dan membunuh Lord Dorion dalam sekejap.
Menara Muccus runtuh, distribusi energi dunia lumpuh, dan black market mana mulai bermunculan di dapur rakyat biasa. Di tengah dunia tanpa kendali yang mulai kacau, para penguasa mulai memakai topeng politik; mereka memuja Aelthira sebagai pahlawan, sembari diam-diam bersiap menghadapi potensi ledakan berikutnya.
Di balik sorak-sorai palsu itu, Aelthira sedang sekarat di dalam ruang hampa jiwanya. Kehilangan ksatria pelindungnya, diburu bagai monster oleh fraksi bawah tanah, dan perlahan kehilangan kendali atas otaknya sendiri, sang putri kini harus mengemban takdir yang mengutuknya—menjadi ratu tunggal di atas takhta tertinggi, memerintah sebuah benua yang ia hancurkan dengan tangannya sendiri.