Halaman ini mengandung Konten Dewasa. Jika usia kamu dibawah 18 tahun, mohon untuk tidak mengakses halaman ini
Fitur ini untuk akun Premium
Upgrade ke premium untuk fitur lengkap Kwikku
Baca karya premium
Lebih banyak diskon
Fitur lebih banyak
Waktunya berkarya
Jangan tunggu nanti tapi sekarang. Hari ini menentukan siapa kamu 5 sampai 10 tahun kedepan
Hallo Author
Kunjungi halaman author untuk memublikasikan karyamu di Kwikku, mulai dari Novel, Webtoon, Flash Fiction, Cover Book, dan Skrip Film
Kami mencoba menghargai author dari tindakan "Pembajakan", dan kami juga mengharapkan Anda demikian
Paket Berlangganan
Dengan menjadi bagian dari pengguna berlangganan. Kamu bisa mengakses berbagai manfaat yang kami berikan. Selain itu kamu juga bisa membaca ribuan cerita berbayar (yang berpartisipasi) tanpa perlu biaya tambahan
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi Kwikku...
Unduh kwikku untuk akses yang lebih mudah
Scan untuk mengakses karya atau profil secara langsung.
Menyoal tentang Papua, selama ini pasti terbayang di benak masyarakat yang terbelakang, animisme, koteka, konflik bersenjata ataupun perang antar suku. Namun tidak dengan Intan, mahasiswi kedokteran Universitas Indonesia, baginya masyarakat Papua juga bagian dari NKRI yang juga memiliki hak yang sama sebagai warga negara Indonesia. Baginya masyarakat Papua adalah saudara sebangsa setanah air. Masih ada cinta di masyarakat Papua.
"Jika masih ada cinta, kenapa harus ada perang. Kita semua bersaudara sebangsa setanah air Indonesia. Sudah saatnya bersama-sama membangun Papua yang lebih maju." -
Meskipun awalnya tidak disetujui oleh orangtuanya, selepas wisuda sarjana kedokteran, Intan tetap bersikukuh menerima tugas pengabdian sebagai dokter PTT di Oksibil, pedalaman Wamena, Papua. Oksibil merupakan kawasan zona merah, karena masih sering terjadi penyerangan antara gerombolan bersenjata dengan aparat keamanan baik TNI maupun kepolisian. Dari kehidupan keluarga yang humanis, penuh kehangatan dan cinta kasih, dengan penuh keyakinan gadis muda itu berani meninggalkan semuanya untuk berangkat ke Oksibil dengan kehidupan masyarakat yang bertolak belakang dengan kehidupan yang dijalaninya selama ini. Akhirnya dua bulan kemudian, Intan berangkat ke Wamena, Papua. Setibanya di Wamena, dia segera bertolak menuju Oksibil, wilayah tugasnya. Meski dengan segala keterbatasan peralatan medis dan obat-obatan, Intan dibantu oleh Bertha, tenaga paramedis puskesmas untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat setempat. Hingga dalam sebuah acara Festival Lembah Baliem, secara tidak sengaja Intan bertemu dengan Bram, seorang pemuda tampan yang juga hobi fotografer. Bermula dari perkenalan singkat itu, telah menumbuhkan rasa suka di hati Bram kepada dokter cantik itu. Pucuk dicinta ulampun tiba, rasa suka Bram tidak bertepuk sebelah tangan, ternyata Intan juga memendam rasa yang sama terhadap Bram. Kedekatan mereka semakin terjalin hingga diketahui ternyata Bram adalah seorang remaja 'broken home' yang terjebak narkoba. Dia melarikan diri dari masa rehabilitasinya di Amsterdam, Belanda. Atas bujuk rayu Intan, akhirnya Bram memutuskan kembali meneruskan masa rehabilitasinya di Belanda dan menerima perjodohannya dengan Sandra, seorang gadis pilihan orangtuanya. Suatu malam, kejadian buruk dialami oleh Intan, dia diculik oleh sekelompok orang bersenjata dan menyekapnya di suatu tempat yang tidak diketahui oleh siapa pun. Dalam keadaan depresi dan trauma, dengan taruhan keselamatan dirinya, gadis muda itu dipaksa melakukan operasi bedah terhadap salah seorang pimpinan mereka yang barusaja tertembak oleh aparat kepolisian dalam penyerangan kemarin malam. Dengan todongan senjata api dan peralatan medis seadanya, dokter Intan melakukan operasi bedah untuk mengeluarkan beberapa butir peluru timah yang bersarang di tubuh salah seorang pemimpin mereka. Akhirnya Intan dibebaskan secara diam-diam karena telah berhasil melakukan pertolongan medis kepada pemimpin mereka. Karena dedikasi dan pengorbanannya sebagai seorang dokter, Intan menerima beasiswa melanjutkan kuliah S2 di negri Van Orange, Belanda. Di Belanda, dia kembali dipertemukan dengan Sandi, sahabatnya yang sejak kecil tinggal bersama di sebuah panti asuhan sebelum dirinya di adopsi oleh keluarga Pak Thomas. Setelah sekian waktu tidak diketahui lagi soal keberadaan Bram, membuat kerinduannya semakin membuncah. Namun dia masih yakin dan berharap Bram selamat dari kecelakaan pesawat terbang setahun yang lalu dan akan kembali menemuinya di Belanda. Karena sebagai sahabat, meski dia harus mengorbankan perasaannya, Sandi merelakan cinta Intan untuk Bram. Hanya satu yang menjadi harapan Sandi, dia ingin melihat Intan bahagia, meski dia harus rela mengubur dalam-dalam rasa cintanya kepada gadis cantik tersebut.