Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Andai Aku Bisa
7
Suka
28,958
Dibaca

Aku tahu dia tidak sanggup mengeluarkan suara. Emosinya hancur lebur menjadi uap. Matanya tidak mengijinkan meluapkan sisa badai.

"Bagaimana menurutmu?" tanya lelaki di sebelahnya.

Dia enggan menoleh. Waktu berlalu sebentar namun seakan dia telah melalui satu abad.

Lelaki itu meneruskan perkataanya. "Andai aku bisa menghentikan semua ini. Tapi, kita berdua setuju untuk melakukannya."

Akalnya memberontak tapi dia hanya menggeleng terpaksa. "Aku yang menyuruhmu melakukan ini. Maafkan aku. Seharusnya aku membiarkanmu yang memilih, Mas."

"Jangan berkata seperti itu, Din. Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk memutuskan tentang ini. Kita berhasil menjalaninya sampai akhir," ucap lelaki itu tegas.

Dia mengusap mukanya lelah. "Aku capek. Aku nggak mau lagi. Aku nggak mau mencoba-coba. Seharusnya Mas yang memilih. Bukan aku."

"Seandainya aku yang memilih, kamu pasti lebih kecewa dan tidak mau bersamaku lagi," ujar lelaki itu sedikit muak.

Dia sadar ucapan lelaki itu benar. Sangat benar. "Jadi semua dari awal salahku? Mas kecewa sama aku?

Lelaki itu mendesah berat. "Kamu tahu, Din. Keinginanku sesungguhnya bukan ini. Kita tahu kita sangat berbeda. Aku menghormati maumu, namun kamu memaksaku melewati semua ini tanpa membiarkanku istirahat."

"Jadi semua salahku, Mas?"

Lelaki itu mengangguk. "Iya! Aku tak tahan denganmu yang nggak berhenti ngomong. Cobalah diam dan menghargai. Jangan protes dan koreksi sana- sini."

"Mas nggak merasakan apa yang kurasakan? Mas tahan dua jam yang kita lalui?" tanya dia tak percaya.

Aku memandang pasutri baru itu di seberang sofa. Sebelum mereka lanjut beradu argumen kujeda dengan satu pertanyaan. "Tunggu, pertengkaran kalian ini masih tentang film horor lokal yang barusan tadi kita tonton, kan?"

"Kakak iparmu tuh! Sudah kubilangin jangan nonton film horor kek gitu. Mau coba lah katanya. Eh, mulutnya gak bisa berhenti jadi kritikus."

"Apaan sih, Mas! Kamu bilang terserah aku. Kakakmu itu aneh banget, Han."

Aku menikmati es sirup melon dan homemade popcorn sambil memandang pasutri itu berdebat kembali seperti biasanya.

"Kalian romantis sekali," kataku di antara kunyahan popcorn. "Andai aku bisa melepas hearing aid ini. Bunda nggak bolehin sih."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Lakuna
yuliandap
Novel
Jejak Sampai ke Bintang
Gabriella Gunatyas
Komik
Bronze
Komik Alasantri
Kharisma Putri
Skrip Film
The Reason I Came From The Future
Jordi Dharmawan Wijaya
Skrip Film
Anoksia
Alfian N. Budiarto
Flash
Andai Aku Bisa
Ralali Sinaw
Flash
Making Bread with You
Yattis Ai
Flash
Bronze
my wife di dunia maya
Okhie vellino erianto
Novel
Bronze
Route
Hendika A. Cantona
Komik
Bronze
Magical Dream
Agam Nasrulloh
Flash
Bronze
Malam di Bulan November
qiararose
Flash
Bronze
Untuk Ayah dan Ibu
Faisal Susandi
Flash
Bronze
Ibu, Aku Ingin Ada Nama Ayah di Binti Akta Kelahiranku!
Silvarani
Flash
Bronze
Cincin Mahar Saturnus
Silvarani
Novel
Bronze
Cahaya dari setitik harapan
Rian feb rino
Rekomendasi
Flash
Andai Aku Bisa
Ralali Sinaw
Skrip Film
One of The Finest Memories
Ralali Sinaw
Novel
Bronze
Spill the Tea?
Ralali Sinaw
Novel
BYSTANDER
Ralali Sinaw
Flash
Kisah Masa Lalu
Ralali Sinaw
Flash
Spidol Biru
Ralali Sinaw
Flash
Angan Selintas
Ralali Sinaw
Skrip Film
Sejak Juni Menjadi Dingin
Ralali Sinaw
Flash
Selamat Ultah, Bocil!
Ralali Sinaw
Flash
1 Pesan Baru
Ralali Sinaw
Flash
Bubar dari Resepsi Nikahan
Ralali Sinaw
Cerpen
Nada dan Canda
Ralali Sinaw
Skrip Film
Blok E
Ralali Sinaw
Flash
Hari Ini, Aku Sadar
Ralali Sinaw
Novel
Badal Haji
Ralali Sinaw