Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Namamu, Namaku
26
Suka
23,500
Dibaca

Sudah dua bulan sejak pertama kali aku melihat dan menyadari keberadaannya. Setiap pagi, tepat pukul 06.00 WIB, aku akan menaiki bus yang sama dengannya. Aiden Ardiya adalah tulisan yang tertera pada papan nama di dada kanan seragam SMUnya.

Setiap bertemu, meskipun pipiku memerah, aku selalu mencoba untuk duduk di kursi bus terdekat dengannya. Mulai dari lima baris di belakangnya, maju terus mendekati, hingga hari ini aku berhasil duduk di samping kirinya. Jarak kami hanya dipisahkan oleh lorong bus sejauh setengah meter. Aku tahu pemuda itu mungkin tidak menyadari keberadaan dan usahaku, tapi bisa berada di dekatnya mampu membuat kopi hitam terasa bak madu bagiku.

Dadaku selalu berdebar memandang punggung dan bahu tegapnya dari kursi belakang, atau ketika dirinya memperbaiki posisi kacamata di hidung mancungnya. Tampan sekaligus cerdas. Walaupun saat ia berada tepat di sampingku, tubuhku mendadak kaku, bibirku kelu. Sekedar melirik saja hatiku tidak mampu melakukannya.

Akhirnya kuberanikan diri, meskipun dengan tangan bergetar, kujatuhkan sebuah memo kecil ke lantai lorong di dekat kaki Aiden.

Aiden menunduk, ia mengambil memoku, dan berbalik menghadapku. Ia melepaskan earphone dari telinga. Aku terpaku menatapnya tanpa berkedip dan jantung yang hampir melompat keluar, bahkan kedua telingaku memanas. Sambil tersenyum, Aiden memberikan memo itu padaku. Tanpa sepatah kata, hanya senyuman sebelum ia kembali memakai earphonenya.

“Permisi, boleh geser?” seorang ibu paruh baya menyadarkanku, ternyata bus sedang berhenti di salah satu halte, cukup banyak penumpang naik dari halte ini, hingga lorong bus menjadi sesak. Dengan terpaksa aku bergeser sampai terpojok di dekat jendela. Hilang sudah kesempatanku untuk lebih dekat dengan Aiden, bahkan tidak terucap kata terima kasih dari bibirku. Aku menunduk lemas, menyesali kegugupanku hingga bus melaju kembali dengan penumpang yang padat.

Terlalu banyak penumpang di dalam bus memang membuat udara terasa panas, namun entah mengapa sekarang udara terasa lebih panas, pengap, dan bau.

“Api, api, ada api dari belakang bus!” seorang penumpang berteriak histeris. Api semakin membesar terkena hembusan angin. Kernet bus yang berjaga di bagian belakang turut berteriak, “mesin terbakar, berhenti, berhenti, minggir, minggir!”

Serta-merta sopir menepikan bus, pintu dibuka, seluruh penumpang histeris, berdesakan mencoba keluar menyelamatkan diri. Sedangkan aku yang duduk di posisi tengah bus, terjepit, panik, dan kalut. Tanganku sedingin es, mataku membelalak menyaksikan kobaran api, serta pintu bagian depan dan belakang bus yang dipenuhi penumpang kocar-kacir.

Tubuhku terguncang, seseorang memanggil namaku, suaranya memabukkan, “Rania! Rania! Rania!” begitu pandanganku terfokus, Aiden menyampirkan tasku di bahunya, kemudian menarik tubuhku, “lihat aku, lihat aku saja!” sambil menarikku menerobos kerumunan orang, keluar dari bus yang mulai terbakar.

Genggaman Aiden terasa erat, hangat, dan nyaman, ia menarikku terus berjalan menjauh dalam diam yang menyejukkan. Begitu kami berada dalam jarak yang cukup aman, ia berbalik, kedua matanya menatap teduh diriku.

“Rania, kau baik-baik saja?”

Aku mengangguk pelan.

“Kau..tahu..namaku?” suaraku hampir tertelan ketika melihat telinga Aiden memerah.

“Eh..Emm, itu!” Aiden menunjuk papan nama di dada kanan seragam sekolahku.

“A..Aku sudah memperhatikanmu sejak pertama kali melihatmu, dua bulan lalu.” Aiden menunduk sambil menggaruk-garuk belakang kepala dengan tangannya yang bebas.

Aku tersenyum memandangnya, dan tangan kami masih terpaut satu sama lain.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (23)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Namamu, Namaku
Vica Lietha
Novel
Bronze
Anak Kolong Bendungan
Ahmad Muzaki
Flash
Orang asing bercerita
Lentera jingga
Flash
Bronze
Bukan Kamu
Leni Juliany
Flash
My Battery
lidia afrianti
Flash
Tentang kita
Lukitokarya
Cerpen
Cara Teraman Mencintaimu
Lail Arahma
Komik
The Singing Moon
Fakhri Ilham Pratama
Cerpen
Bronze
JELAGA
Mada Elliana
Novel
Mentari :Fajar&Senja
Bintang Rahadhian
Cerpen
Bronze
Untukmu, Muara Rinduku
Aizawa
Novel
Bronze
Penantian Berharga
Syafina novita sari
Novel
From China, With Love
Cristal Chung
Novel
Bronze
Two Seasons of Marriage
Dewi pratiwi
Cerpen
Bronze
Badek-badekan
Nirankara B. Saschadi
Rekomendasi
Flash
Namamu, Namaku
Vica Lietha
Flash
Lycoris Radiata
Vica Lietha
Flash
PULANG
Vica Lietha
Novel
Bronze
Black Indigo
Vica Lietha
Flash
NINI!
Vica Lietha
Flash
DUEL
Vica Lietha
Flash
PILIHAN!
Vica Lietha
Flash
DEEP INTERVIEW
Vica Lietha
Novel
Selamat datang, 62!
Vica Lietha
Flash
GOTCHA!
Vica Lietha