Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Tempat Cuci Piring
9
Suka
37,513
Dibaca

Tehkep ikut antrian pada saat makan siang diatas kapal sungai hari itu. Mereka menaiki tambang air atau biasa di sebut motor Bandung dengan tujuan Pontianak. Hal ini mereka lakukan karena jalan darat tidak bisa dilewati kendaraan, karena sedang musim hujan sehingga jalannya tergenang sangat dalam oleh serangan banjir dahsyat.

Dia naik ke kapal tambang ini hanya ikut-ikutan saja, karena dia sama sekali belum pernah ke Pontianak. Melihat kawan-kawannya begitu semangatnya turun kuliah, dia pun nekat juga meskipun uangnya hanya pas-pasan untuk biaya tambangnya saja. Ayahnya di kampung sama sekali tidak tahu jika dirinya ikut turun ke kota untuk melanjutkan sekolah.

Bagaimana kelanjutan urusannya di Pontianak dalam keadaan tidak mempunyai uang dan sama sekali tidak ada sanak family, nantilah dipikirkan, kata Tehkep dalam hatinya. Semenjak ibunya meninggal dunia dan hidup serta sekolahnya disupport oleh ayahnya saja. Maka Tehkep selalu berpikir singkat dan cenderung tidak perduli resiko. Mati hidup adalah urusanan Tuhan, sehingga membuatnya cenderung hidup nekat. Jika mati pun ya sudah, toh tidak ada manusia yang hidup abadi.

Meskipun Tehkep melihat porsi nasi dan sayur untuknya sepertinya sangat sedikit untuk ukuran kebiasaan makannya, tetapi karena melihat yang lainnya juga mendapatkan porsi dengan ukuran yang kurang lebih sama, maka diapun diam saja.

Hanya saja hal yang mengherankan Tehkep adalah semua piring dan gelas yang mereka gunakan semuanya terbuat dari plastik tipis. Baik piringnya begitu juga cangkir untuk mereka minum. Sungguh sangat pelit pemilik tambang ini, pikir tehkep. Massa semua piring dan cangkir untuk penumpang dibelikan dari plastik? Sangat tipis lagi.

Namun Tehkep tidak mau memikirkannya lebih jauh lagi, karena perutnya sudah berdendang. Dia melahap makanannya hanya dalam waktu singkat, karena porsi yang didapatnya itu kurang lebih seperempat saja untuk kebiasaan makannya. Hingga dia sama sekali tidak merasa kenyang. Tapi masalah menahan lapar baginya bukanlah persoalan, karena sudah terlalu sering dirinya sampai lima hari tidak merasakan sebutir nasipun.

Sesuai kebiasaan yang selalu diterapkan oleh almarhumah ibunya, maka begitu selesai makan Tehkep membawa piring dan cangkirnya itu ke arah dapur atau tempat cucian yang sempat dilihatnya tadi sewaktu ke WC.

“Eh, mau di bawa kemana piringnya?” Tanya seorang penumpang ketika melihat kelakuan Tehkep.

“Ke tempat cucian.”

“Oh, salah itu!”

“Kok salah?”

“Bukan di sana tempat mencucinya...”

“Memangnya di mana?”

“Apakah kamu baru kali ini naik tambang air?” tanya orang itu lagi.

“Ya.”

“Oh, begitu. Sini saya ajarkan!” katanya sambil mengambil piring plastik dan gelas plastik itu dari tangan Tehkep lalu kemudian melemparkan piring dan gelas itu ke sungai.

“Eh? Kok begitu?” Tanya Tehkep kebingungan.

“Saya kasi tahu kamu, begitulah cara mencuci piring di motor Bandung itu. Tempat mencucinya ya di sungai.’

“Tapi...Tapi kan sayang...”

“Aaahh. Jangan dipikirkan. Seberapalah harganya piring plastik tipis begitu bagi pemilik motor Bandung ini,” kata orang itu.

Tehkep tentu saja kebingungan. Menurutnya hal demikian adalah suatu pemborosan dan polusi. Kalau hanya satu orang saja sih iya, tapi bayangkan kalau seratus orang dikalikan 30 hari dikalikan 12 bulan dikalikan sepuluh tahun. Tidak bisa dibayangkan berapa harga yang harus dikorbankan. Belum lagi sampah plastik yang menumpuk disungai dan akhirnya hanyut kelaut.

 

***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Menggoda Janda
rhee
Novel
Mereka Bilang Dia Tetap Ayah Kami
A. F. Ferdians
Flash
Tempat Cuci Piring
Yovinus
Novel
Bronze
Kembar dari Hongkong
Rahma Nanda Sri Wahyuni
Novel
Bronze
Suratan Takdir
Rita wedia
Novel
Bronze
Surat Yang Tak Terbalas
Lail Arrubiya
Flash
Keracunan Apel
Tirani K. C.
Cerpen
Lullaby dari Ruang Hampa
Amir Ghozaly Prasetyo
Cerpen
Bronze
Dive
Willia Mangun Putr
Skrip Film
Rawon Rowena
revin palung
Flash
BANG SATE
Mega Puji Indrawati
Cerpen
Bronze
Kupu-Kupu Amnesia
Weny Aptini
Cerpen
Bronze
MALAM TERAKHIR DI LUMBUNG
Tourtaleslights
Novel
Bronze
KEDUA KALI
Novya
Skrip Film
Anak Ibu
Sika Indry
Rekomendasi
Flash
Tempat Cuci Piring
Yovinus
Flash
Buah Langsat Gratis
Yovinus
Novel
Integritas Penyelenggara Pemilu
Yovinus
Cerpen
Mulut Mu Adalah Harimau Mu
Yovinus
Novel
Ehing Boburing Bullou (Ikan Surga Bersisik Emas)
Yovinus
Novel
Bronze
Orang Orang Di Atas Angin
Yovinus
Cerpen
Pengorbanan Tanpa Batas Sang Ayah
Yovinus
Cerpen
Klitsco vs Ras Terkuat
Yovinus
Novel
Reinkarnasi
Yovinus
Cerpen
Bronze
Kokoliko, Indonesia-Australia: Demi Hidup Yang Lebih Baik
Yovinus
Flash
Selamat Ulang Tahun
Yovinus
Cerpen
Di Belakang Layar Kekuasaan
Yovinus
Cerpen
Petasan Yang Kontroversial
Yovinus
Flash
Sembilan Ribu Bintang
Yovinus
Novel
Satu Hati Dua Cinta
Yovinus