Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Thriller
Glitch
4
Suka
16,207
Dibaca

Glitch

Aku dan pacarku mendaki Gunung La. Aku ingin sekali membunuhnya hari ini. Setiap kali aku melihat jurang, setiap kali dia berdiri di sampingku, ketika dia di belakangku untuk menjagaku agar tidak jatuh, aku ingin sekali mejatuhkannya ke dalam kegelapan.

Aku membencinya?

Tidak. Aku hanya ingin membunuhnya. Pernah suatu kali aku katakan padanya, “Ayolah, katakan bahwa kamu ingin berselingkuh, aku tak ingin kamu menjadi manusia setia seumur hidupmu. Lakukan, agar ada sesuatu yang bisa kita pertengkarkan.”

Perkataanku malah mengundang senyum di wajahnya. Lalu, aku muak dengan senyumannya.

Perjalanan naik bukit kami lalui saat gerimis, membuat baju kami basah. Ketika hujan reda, kami harus ganti pakaian supaya tidak masuk angin. Aku mengganti pakaianku di balik semak dan saat itu kuminta pacarku untuk berjaga. Aku berdiri menghadap jurang sambil melepaskan helai demi helai pakaian basah dari tubuhku. Sambil berganti pakaian, aku melihat pemandangan. Aku melihat langit.

“Kenapa kau begitu tenang setelah menurunkan gerimis yang sempat membuatku gelisah? Apa begitu caramu membangkitkan perasaan-perasaan gelap dari kedalaman alam bawah sadar manusia?” hatiku berkecamuk, protes pada semesta.

Lalu aku melihat pacarku, siluetnya kelihatan di antara tanaman perdu yang kujadikan pagar penutup tubuhku selagi aku ganti pakaian. Dia sedang berdiri memunggungiku dan dia sudah ganti pakaian. Aku melihat punggungnya yang kotak, di balik pakaiannya ada tulang yang kokoh dikelilingi oleh otot-otot kuat yang dijaganya dengan olahraga teratur. Keteraturannya dalam menjaga kesehatannya membuatnya hampir tidak pernah sakit seumur hidup kecuali jika terjadi suatu kecelakaan di luar kendalinya. Dia punya jadwal teratur untuk makan, olahraga, bekerja, dan tidur.

Tatapanku turun ke pinggangnya, ada bagian empuk yang bisa kujadikan sasaran ujung pisau. Pinggang itu yang jadi kebanggaannya. Dia menjaganya agar tetap berada di ukuran yang selalu diidam-idamkannya. Dia tidak pernah mau kehilangan ukuran perfect baginya yang didapatnya dengan latihan rutin itu.

Aku muak dengan rutinitas dan perfectionismenya. Karena itu, aku berencana membunuhnya hari ini. Segera setelah aku menikam ginjal dan jantungnya dengan pisau, tempat ini menjadi bukit berdarah.

Dia yang kebingungan menatapku dengan marah lalu membalas dendam, akhirnya terjadi pertumpahan darah di antara kami, lalu dia mati di tanganku. Betapa melegakan jika aku juga ikut bersimbah darah dan kemudian mati. Aku ingin pergi ke tempat yang berbeda dengannya. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Bahkan jika ada kehidupan selanjutnya setelah kematian, aku tidak ingin berjumpa dengannya. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Flash
Glitch
mutaya saroh
Novel
ALMIRA
Andi Sukma Asar
Novel
Rahasia Tante Nina
Johanes Gurning
Novel
Sang Pemangsa di Gunung Lawu
Xie Nur
Flash
Saturnight
Mae Takata
Flash
Bronze
Membunuh Biang Bunuh Diri
Omius
Flash
Bronze
Aku Koruptor
C. Gunharjo Leksono
Novel
Ritual Sugih Ni Putri Anjani
E. N. Mahera
Novel
11.11 AM
Imelani Katarina Solin
Skrip Film
Cerai Kontrak
Rima Rahmawati
Flash
SENYUMIN AJA
Aston V. Simbolon
Flash
Elezier
Adel Romanza
Novel
Bronze
Jeles
Andriyana
Novel
Bronze
ASTAGHFIRULLAAH (Suropati)
Hermawan
Flash
DUNIA YANG SAMA
Deswara Syanjaya
Rekomendasi
Flash
Glitch
mutaya saroh
Flash
One Night Stand
mutaya saroh
Novel
Bronze
Siapa "Aku" Sebenarnya?
mutaya saroh
Novel
Bronze
Supranatural Experience 1998
mutaya saroh
Flash
Sesuatu yang Tak Dimiliki Pak Guru
mutaya saroh
Flash
Pertengkaran (unfaedah) Politik
mutaya saroh