Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Religi
Senandika di Peron Dua Belas
7
Suka
19,821
Dibaca

Lolongan membelah pagi di bumi yang baru bersujud bersama arunika. Subuh belum lama berlalu dan sajadah masih terhampar, menyisakan cetakan kening pada beledu tipis termakan usia. 

Lolongan itu singgah begitu saja di telingaku, menggulirkan memori puluhan purnama yang masih segar berdarah. Darah akibat kerinduan yang terkoyak waktu. Lukanya pun masih menganga.

"Kanda!" Kakiku kebas, tetapi ia menolak untuk berhenti mengiringi lokomotif yang mulai bergerak meninggalkan peron dua belas. 

"Aku hanya pergi dua belas purnama!" sahutmu sebelum kita berpisah. Kau pun mengucap sumpah atas nama Allah.

Demi Allah, aku selalu mengingat setiap detik pagi itu. Juga setiap baris kalimatmu yang kupegang teguh hingga kini. Angka itu telah lama terlewati dengan jejak kabarmu yang seolah lenyap tanpa pertanda.

"Astagfirullah." Kuusir penak keraguan yang mulai terlahir dalam sanubari. Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Hanya saja, bolehkah aku berharap kau pulang meski sejenak, Kanda? Apalagi ini adalah hari istimewa kita. 

Dengan harap yang tak pernah surut, aku pun berbenah, memasang jubah lusuh pemberianmu terakhir kali. Hanya ini pakaian terbaik yang kupunya untuk menyambutmu.

"Aku akan mengadu nasib di kota besar. Kau, jagalah diri baik-baik di sini," pesanmu. Anggukan takzimku mengokohkan niatmu. 

Kini, dengan debar yang gagal teredam di balik dada, kutunggu tanda-tanda kepulanganmu. Kutatap jemari yang tak letih menghitung. Hari yang sama, di waktu yang sama, kulakukan ini setiap tahun. Demi Allah, aku rindu. Malam-malam menjadi saksi kala kupanggil nama-Nya untuk mendoakanmu. 

Namun, waktu itu sepertinya tidak akan datang hari ini. Hingga lokomotif terakhir bersandar di peron, tak kujumpai batang hidung sang lelaki belahan jiwa. 

"Kanda ... aku tidak akan pernah lelah menantimu. Kutitipkan rindu ini bersama lantunan asma sang Khalik. Jika kau tidak rindu kepadaku, setidaknya pulanglah. Pulanglah bertandang ke pusara ayah ibu kita. Hari ini adalah peringatan wafat mereka." 

Kututup senandika seraya menggamit keranjang bekas taburan bunga, lalu beranjak menuju musala dekat stasiun. Mengakhiri hari dengan salat wustha, sebelum kumandang azan berakhir di peron dua belas.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Religi
Flash
Senandika di Peron Dua Belas
Ravistara
Flash
Barata dan Bahubali
Vitri Dwi Mantik
Flash
Doa Meminta Keburukan
Binar Bestari
Novel
Melamarmu
Rindiani Apriliyanti
Novel
Two Different World
Zaafatm
Flash
Bronze
Hujan Rintik-Rintik
Anisah Ani06
Flash
Bronze
The Groom
Farida Zulkaidah Pane
Skrip Film
Philophobia
ani__sie
Novel
Kitab tajwid
roma dhon
Cerpen
Bronze
Natal Gracia yang Berbeda
Nuel Lubis
Novel
Bronze
BORASPATI
Marfenas Marolop Sihombing
Cerpen
Bronze
Bala Riba
Maldalias
Flash
Bronze
Iblis Pun Berdoa Masa Kamu Nggak
Mukti Dwi Wahyu Rianto
Flash
Bronze
Perpisahan
Nisa Amalia
Novel
Gold
Hijrah Itu Cinta
Bentang Pustaka
Rekomendasi
Flash
Senandika di Peron Dua Belas
Ravistara
Novel
Bronze
I Love You, My Cousin
Ravistara
Novel
ATLAS
Ravistara
Flash
Jurit Malam
Ravistara
Novel
Bronze
Bocah Angin & Turbulensi Waktu
Ravistara
Novel
LE SOLEIL DE MA VIE
Ravistara
Novel
My Little Pirate
Ravistara
Skrip Film
AVICENNA
Ravistara
Skrip Film
Keluar Jalur
Ravistara
Flash
Memento
Ravistara
Skrip Film
Preloved
Ravistara
Flash
Rindu di Balik Jendela
Ravistara
Novel
Bronze
Penjara Sukma
Ravistara
Cerpen
Bronze
Serenade Untuk Hafizah
Ravistara
Novel
Petala
Ravistara