Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Religi
Senandika di Peron Dua Belas
7
Suka
23,836
Dibaca

Lolongan membelah pagi di bumi yang baru bersujud bersama arunika. Subuh belum lama berlalu dan sajadah masih terhampar, menyisakan cetakan kening pada beledu tipis termakan usia. 

Lolongan itu singgah begitu saja di telingaku, menggulirkan memori puluhan purnama yang masih segar berdarah. Darah akibat kerinduan yang terkoyak waktu. Lukanya pun masih menganga.

"Kanda!" Kakiku kebas, tetapi ia menolak untuk berhenti mengiringi lokomotif yang mulai bergerak meninggalkan peron dua belas. 

"Aku hanya pergi dua belas purnama!" sahutmu sebelum kita berpisah. Kau pun mengucap sumpah atas nama Allah.

Demi Allah, aku selalu mengingat setiap detik pagi itu. Juga setiap baris kalimatmu yang kupegang teguh hingga kini. Angka itu telah lama terlewati dengan jejak kabarmu yang seolah lenyap tanpa pertanda.

"Astagfirullah." Kuusir penak keraguan yang mulai terlahir dalam sanubari. Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Hanya saja, bolehkah aku berharap kau pulang meski sejenak, Kanda? Apalagi ini adalah hari istimewa kita. 

Dengan harap yang tak pernah surut, aku pun berbenah, memasang jubah lusuh pemberianmu terakhir kali. Hanya ini pakaian terbaik yang kupunya untuk menyambutmu.

"Aku akan mengadu nasib di kota besar. Kau, jagalah diri baik-baik di sini," pesanmu. Anggukan takzimku mengokohkan niatmu. 

Kini, dengan debar yang gagal teredam di balik dada, kutunggu tanda-tanda kepulanganmu. Kutatap jemari yang tak letih menghitung. Hari yang sama, di waktu yang sama, kulakukan ini setiap tahun. Demi Allah, aku rindu. Malam-malam menjadi saksi kala kupanggil nama-Nya untuk mendoakanmu. 

Namun, waktu itu sepertinya tidak akan datang hari ini. Hingga lokomotif terakhir bersandar di peron, tak kujumpai batang hidung sang lelaki belahan jiwa. 

"Kanda ... aku tidak akan pernah lelah menantimu. Kutitipkan rindu ini bersama lantunan asma sang Khalik. Jika kau tidak rindu kepadaku, setidaknya pulanglah. Pulanglah bertandang ke pusara ayah ibu kita. Hari ini adalah peringatan wafat mereka." 

Kututup senandika seraya menggamit keranjang bekas taburan bunga, lalu beranjak menuju musala dekat stasiun. Mengakhiri hari dengan salat wustha, sebelum kumandang azan berakhir di peron dua belas.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Religi
Flash
Senandika di Peron Dua Belas
Ravistara
Novel
Jodoh Untuk Adel
NURHIDAYAH
Novel
Gold
Islam Risalah Cinta dan Kebahagiaan
Noura Publishing
Novel
Bronze
Al Kamayel
Yuanita Faridatun Ni'mah
Novel
Bronze
Cahaya Humaira
Vira Ayu Safila
Novel
Gold
Assalamualaikum, Calon Imam
Coconut Books
Novel
Gold
Ngaku Gaul Kok Galau
Bentang Pustaka
Novel
HASANA (Jalan Hijrah sang Gadis Mafia)
Ayu Fitri Septina
Novel
Bronze
Hidayah Aisyah
Rinaha Ardelia (Seorin Lee)
Novel
Gold
Sayap Surgaku
Coconut Books
Novel
Bronze
If You Believe That You Can
Andini Maulana
Novel
Gold
Cinta Dalam Diam
Coconut Books
Novel
Bronze
Sita Permata Syurga
Rahmi Susan
Novel
Bara
Kumbang Kumbara
Novel
Bronze
Rossa: Rembulan di Balik Kabut
Imajinasiku
Rekomendasi
Flash
Senandika di Peron Dua Belas
Ravistara
Novel
ATLAS
Ravistara
Cerpen
Bronze
Solitary
Ravistara
Novel
Beyond Theta
Ravistara
Flash
Jurit Malam
Ravistara
Skrip Film
AVICENNA
Ravistara
Flash
Api yang Berdamai dengan Hujan
Ravistara
Novel
Bronze
Uri, Suatu Hari di Ruang Bersalin
Ravistara
Novel
Tak Seindah Fiksi
Ravistara
Novel
Bronze
Tidak Apa-apa Tidak Sempurna
Ravistara
Novel
Bronze
Putih Polos Avicenna
Ravistara
Novel
Bronze
Bocah Angin & Turbulensi Waktu
Ravistara
Flash
Modus Baju
Ravistara
Novel
Bronze
Penjara Sukma
Ravistara
Flash
Wajah-wajah Sang Aktor
Ravistara