Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Religi
Senandika di Peron Dua Belas
7
Suka
17,708
Dibaca

Lolongan membelah pagi di bumi yang baru bersujud bersama arunika. Subuh belum lama berlalu dan sajadah masih terhampar, menyisakan cetakan kening pada beledu tipis termakan usia. 

Lolongan itu singgah begitu saja di telingaku, menggulirkan memori puluhan purnama yang masih segar berdarah. Darah akibat kerinduan yang terkoyak waktu. Lukanya pun masih menganga.

"Kanda!" Kakiku kebas, tetapi ia menolak untuk berhenti mengiringi lokomotif yang mulai bergerak meninggalkan peron dua belas. 

"Aku hanya pergi dua belas purnama!" sahutmu sebelum kita berpisah. Kau pun mengucap sumpah atas nama Allah.

Demi Allah, aku selalu mengingat setiap detik pagi itu. Juga setiap baris kalimatmu yang kupegang teguh hingga kini. Angka itu telah lama terlewati dengan jejak kabarmu yang seolah lenyap tanpa pertanda.

"Astagfirullah." Kuusir penak keraguan yang mulai terlahir dalam sanubari. Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Hanya saja, bolehkah aku berharap kau pulang meski sejenak, Kanda? Apalagi ini adalah hari istimewa kita. 

Dengan harap yang tak pernah surut, aku pun berbenah, memasang jubah lusuh pemberianmu terakhir kali. Hanya ini pakaian terbaik yang kupunya untuk menyambutmu.

"Aku akan mengadu nasib di kota besar. Kau, jagalah diri baik-baik di sini," pesanmu. Anggukan takzimku mengokohkan niatmu. 

Kini, dengan debar yang gagal teredam di balik dada, kutunggu tanda-tanda kepulanganmu. Kutatap jemari yang tak letih menghitung. Hari yang sama, di waktu yang sama, kulakukan ini setiap tahun. Demi Allah, aku rindu. Malam-malam menjadi saksi kala kupanggil nama-Nya untuk mendoakanmu. 

Namun, waktu itu sepertinya tidak akan datang hari ini. Hingga lokomotif terakhir bersandar di peron, tak kujumpai batang hidung sang lelaki belahan jiwa. 

"Kanda ... aku tidak akan pernah lelah menantimu. Kutitipkan rindu ini bersama lantunan asma sang Khalik. Jika kau tidak rindu kepadaku, setidaknya pulanglah. Pulanglah bertandang ke pusara ayah ibu kita. Hari ini adalah peringatan wafat mereka." 

Kututup senandika seraya menggamit keranjang bekas taburan bunga, lalu beranjak menuju musala dekat stasiun. Mengakhiri hari dengan salat wustha, sebelum kumandang azan berakhir di peron dua belas.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Religi
Flash
Senandika di Peron Dua Belas
Ravistara
Novel
Gold
A Tribute
Mizan Publishing
Novel
Gold
Pemimpin yang Tuhan
Bentang Pustaka
Novel
Gold
Pasutri Gaje
Falcon Publishing
Novel
Aku Ingin Kembali Ke Asal Namaku
Iir
Flash
Karena Kehendak-Nya
Nuzulul Rahma
Skrip Film
Guru Ngaji
Eko S. Ayata
Novel
Bronze
Bulan di Darah Awan
Affad DaffaMage
Novel
Bukan Ayat-ayat Cinta
Nikmatul Choeriah
Flash
Inun
Muhammad Yunus
Cerpen
Bronze
History of A City
DMRamdhan
Novel
Jump on the Bandwagon
Dita Anggita
Novel
MUKJIZAT PELUKAN
Zainul Muttaqin
Novel
LE SOLEIL DE MA VIE
Ravistara
Cerpen
Muazin Terakhir
Handi Yawan
Rekomendasi
Flash
Senandika di Peron Dua Belas
Ravistara
Cerpen
Bronze
Forget Me Not Case
Ravistara
Novel
LE SOLEIL DE MA VIE
Ravistara
Flash
Rindu di Balik Jendela
Ravistara
Skrip Film
Kekasih Titipan
Ravistara
Flash
Sebatang Rosewood
Ravistara
Flash
Bronze
Gandewa
Ravistara
Novel
Bronze
Putih Polos Avicenna
Ravistara
Novel
Ariana of Zarya
Ravistara
Flash
Jurit Malam
Ravistara
Flash
Bulan Biru
Ravistara
Novel
Bronze
Sang Peneduh Hati
Ravistara
Novel
Petala
Ravistara
Skrip Film
AVICENNA
Ravistara
Novel
Bronze
Tidak Apa-apa Tidak Sempurna
Ravistara