Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
SSB
27
Suka
37,677
Dibaca

-- Untuk Boy --

"Anak baru, ya?" Kusodorkan tangan sambil menyebut nama, "Zain." Anak tak berseragam itu menyambut malu-malu, "Reyhan." Kami duduk di rumput sambil menunggu rekan yang lain. Kali ini aku memang datang kepagian.

Ingatanku menerawang ke tahun lalu. Aku baru bergabung dengan Sekolah Sepak Bola Elang ini. Perasaanku waktu itu tak karuan. Tentu senang karena ayah meluluskan keinginanku, tapi rasa itu bergantian dengan takut, malu, canggung. Banyak lah! Untung kemudian ada Rafly yang langsung mengakrabiku di hari pertama. Seumuran denganku tapi lebih dulu masuk SSB, Rafly selalu memompa semangatku.

Minggu-minggu pertamaku yang canggung terasa berat. Bukan hanya kesulitan menghafal nama dan wajah rekan-rekan setimku, aku memang sulit mengingat wajah. Aku sering salah memanggil Adit adalah Rafly, Septian adalah Dimas. Yang lebih berat adalah kemampuanku jelas tertinggal dibanding rekan seusiaku yang bergabung lebih awal. Sekilas pun sudah terlihat, mereka lebih jago dariku. Berkat Rafly, kemampuan dan kepercayaan diriku meningkat hingga pelatih berkali-kali memujiku ketika latihan.

Pada turnamen pertama yang kami ikuti, pelatih juga mengangkatku ke angkasa. "Tadi kalian main cukup bagus. Terutama kamu, Zain, dan kamu Rafly. Kalian jadi motor tim. Tidak apa-apa kalah, SSB Kijang memang paling bagus di kota ini. Kalian semua sudah membuat Bapak bangga." Aku melirik Rafly yang kulihat juga melirikku sebelum kami menunduk lagi. Berkat umpan Rafly, aku berhasil mencetak satu-satunya gol meski tak mampu mengejar tiga gol lawan.

Kesedihan akibat tidak lolos babak selanjutnya sedikit terobati oleh pujian khusus itu. Minggu-minggu berikutnya kami berlatih lebih keras. Aku yakin, jika ada turnamen lagi, kemampuan dan mentalku sudah lebih baik. Takkan kulupakan, semua berkat Rafly.

Aku berharap apa yang dilakukan oleh Rafly padaku bisa kutiru. Ini kesempatanku mengubah bocah pemalu di depanku menjadi kekuatan tambahan tim kami di masa depan. Kami akan berbalik mengalahkan SSB Kijang di turnamen berikutnya.

"Aku juga baru setahun latihan. Harusnya lebih awal, sih. Kita termasuk terlambat," aku mengulang ucapan Rafly tahun lalu. "Tapi tenang saja, asal kita tekun berlatih, kemampuan kita akan meningkat," lanjutku. "Latihan terus. Di sini, di rumah, di mana saja selama ada kesempatan. Dan, jangan sombong." Semua yang dikatakan Rafly kutirukan, sambil menepuk pundak Reyhan yang mengangguk-ngangguk tanpa melepas pandang dari rumput dekat kakinya. Dasar pemalu, batinku. Dari senyumnya kulihat ia senang ada yang langsung akrab dengannya. Aku tahu rasanya.

Terlintas pujian pelatih padaku. "Dulu aku juga malu dan tak bisa apa-apa. Setelah berlatih keras, kemarin aku berhasil cetak gol ke Kijang. Kau tahu? SSB terkuat di kota ini," sambungku serendah mungkin, tak ingin terdengar sombong. Terdengar sedikit juga tak mengapa, toh? Reyhan mengangkat kepalanya.

"Wah, Zain udah akrab aja nih sama Reyhan," suara Rafly mengejutkanku. Ia merangkul pundak kami dari belakang. "Rey, ini kukembalikan sepatumu. Makasih, ya," katanya sambil menyodorkan bungkusan kepada Reyhan.

"Eh? Kau kenal Reyhan?" tanyaku.

"Lah, gimana sih Zain? Reyhan ini yang cetak dua dari tiga gol ke gawang kita. Mereka juaranya. Itu piala ketiga untuk Kijang tahun ini! Reyhan top scorer di setiap turnamen."

"Dan Zain satu-satunya yang mampu membobol gawang kami di turnamen itu. Kalian hebat!" Ucapan Reyhan membuatku tak karuan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (4)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Claire eister
Pamela gita
Skrip Film
Love From The Sea
Affa Rain
Flash
SSB
Deden Darmawan
Flash
Bronze
Penumpang Tak Terduga
Yitro
Skrip Film
Bakti Ayah Belia (Screenplay)
Chika Manupada
Flash
Senyap Senyum
Itata
Cerpen
Bronze
Pesan maaf Inka
Desy Sadiyah Amini
Cerpen
Hidup akan terus berjalan, bukan?
Nadiyaaa
Skrip Film
Kabar Luka
Aura Putri Cantika
Cerpen
Bronze
Bapak Tidak Pernah Menangis
Feilia Song
Novel
Yang Ingin Kukatakan, Tapi Tak Pernah Terucap
B12
Flash
Tiket Terakhir
Yuli Harahap
Novel
Bronze
Kau Berkata
Dewinda
Novel
Bronze
Duka Manis - Balikpapan 1995
Habel Rajavani
Skrip Film
CON'T
Chibi Chan
Rekomendasi
Flash
SSB
Deden Darmawan
Flash
Kue Ulang Tahun Istriku
Deden Darmawan
Flash
Perbaikan
Deden Darmawan
Flash
Jangan Korupsi, Nak!
Deden Darmawan
Flash
Cabai
Deden Darmawan
Flash
Baju Pantas
Deden Darmawan
Novel
Sejati
Deden Darmawan
Flash
Petuah Ayah
Deden Darmawan
Flash
Pilih Baju Lagi
Deden Darmawan
Flash
Rapat Dekom
Deden Darmawan