Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Tikus Di Kamar
10
Suka
26,085
Dibaca

Malam ini cukup dingin, angin malam berhembus masuk ke dalam celah-celah rumah dan dari pintu yang sedikit terbuka. Dari kejauhan ia melihat dari arah dapur seekor makhluk kecil berbulu coklat kehitam-hitaman. Dia berjalan pasti melewati pintu terus masuk lebih dalam lagi.

Riana gak ambil pusing, asalkan bukan kamarnya saja yang dimasuki oleh tikus kecil itu. Namun, ternyata tikus itu membawa kejadian yang gak pernah terlintas di pikirannya sama sekali. Membawa kecemasan setiap memasuki kamar itu, karna kamar yang telah dimasuki seekor tikus itu adalah tempat biasanya kami melakukan salat lima waktu. Setiap memasuki kamar yang terkadang dia menggila di bawah lemari.

Riana gak tau ntah apa yang membuatnya begitu takut dengan tikus, jika diingat-ingat, ia tidak pernah mengalami trauma yang disebabkan tikus, tapi ntahlah, Riana bukan pengingat yang baik, ia begitu buruk dalam mengingat dan merekam kejadian lampau. 

Sayup-sayup ia mendengar suara begitu pelan di telinga, lama-kelamaan suara itu semakin keras, membuat mata semula terpejam langsung terbuka walaupun rasa kantuk masih mendominasi. Seperti biasa, itu suara ibunya membangunkan untuk melaksanakan salat subuh. 

Tadi malam ia mengata-ngatai tikus aneh itu, ia hanya bisa melakukan itu, memukuli ataupun menangkapnya sangat mustahil akan bisa ia lakukan, sedangkan melihatnya saja sudah membuat takut setengah mati, apalagi manakut-nakutinya balek.  

Baru saja ia mengambil mukenah, suara krasak-krusuk dari bawah lemari terdengar. Ia mulai panik, tapi Riana mencoba menjernihkan pikiran. Ketika ia sudah berdiri dengan tegak, bersiap-siap untuk mengangkat tangan, tiba-tiba dari ekor matanya terlihat seekor tikus baru keluar dari bawah lemari. Sontak saja pikiran jernih yang ada di kepalanya hilang ntah kemana, ia berteriak dan langsung berlari ke arah pintu, dan ternyata tikus itu juga berlari ke arah yang sama, membuat Riana berteriak untuk kedua kalinya.

Tikus ini gila, sangat gila, yang membuatnya takut setengah mati. Tikus yang sedang kegilaan ini berputar-putar di kakinya gak tentu arah, kehilangan arah.

Tanpa sadar, ia menginjak tikus yang sedang kehilangan arah, yang membuatnya langsung menangis ketakutan.

Ia berlari ke arah ibunya yang sedang mengaji di depan televisi. Ia peluk ibunya sambil menangis.

“Memang tikus itu, memangnya di sini tempat tinggalnya, dari semalam dia membuat ulah terus, ntah apa dilakukannya di kamar itu.” Ibunya mengomel memarahi tikus.

“kenapa? Kena gigit kaki kamu sama tikus itu?” 

“enggak, aku menginjaknya.”

“Ya udah biarin aja, biar gak masuk-masuk lagi dia ke rumah ini.” ibunya masih saja kelihatan marah.

Tiba-tiba terdengar suara adiknya, berlari-lari dari arah dapur. “ibu, lihatlah di depan kamar mandi, tikus itu gak bisa bergerak, udah disiram pakai air tetap dia gak mau pergi, kayaknya dia mati.”

Mendengar itu, sontak saja Riana kembali berteriak kencang. Dia mati, dan matinya gara-gara dirinya. 

Ia gak tau, tikus itu benar-benar mati atau tidak, ia tidak ingin mengetahuinya. Yang pasti bayangan-bayangan kejadian tadi, masih belum hilang di kepala, bulunya yang halus-halus ntah gimana itu masih sangat terasa di telapak kakinya. Ia berpikir dan termenung sendiri, tikus yang hanya ia sendiri melihatnya masuk ke dalam kamar, ternyata yang membuatnya keluar pun gara-gara dirinya. Ntah tikus itu yang malang, atau dirinya yang semakin parnoan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Tikus Di Kamar
Viola khasturi
Flash
Bronze
Sahabat Lawan Jenismu
Silvarani
Flash
Bronze
Senjum Perdjaka untuk Perawannja
Silvarani
Cerpen
Senyum Matahari
renny yulia
Cerpen
Bronze
Arti Dari Ketulusan
Laskar ibrahim
Cerpen
Bayang-bayang Tarim
Dian Pafilay
Komik
Bronze
Paralel Signal
[Raven_Owl]
Komik
Bronze
Terb(it)enam
Bayu M. I.
Skrip Film
Perfect Husband to My Sister
mahes.varaa
Flash
Tuan Pembawa Sial dan Bunga Merah Ribuan Tahun
Adinda Amalia
Flash
Just Go
Azuma.H
Cerpen
Hitam Tidak Selalu Kotor.
Fandy Fransisco
Cerpen
Bronze
Es Krim di Surga
Muhammad Ikhsan
Cerpen
Bronze
Maafkan Mama
Moycha Zia
Novel
Bronze
Regression
Dini Atika
Rekomendasi
Flash
Tikus Di Kamar
Viola khasturi
Flash
Kecupan Terakhir
Viola khasturi
Flash
Ucapan
Viola khasturi
Flash
Peristirahatan Terakhir
Viola khasturi
Flash
Apa itu cinta
Viola khasturi
Cerpen
Bronze
Tetangga Baru
Viola khasturi
Flash
Pandemi
Viola khasturi
Novel
Aku Cinta Kamu
Viola khasturi
Novel
Bronze
Pilihan Hati
Viola khasturi