Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Jalan Sepajang Malam
14
Suka
39,274
Dibaca

Tentu saja aku sadar bahwa aku sudah mati, dan yang berjalan di sampingku adalah Kematian itu sendiri. Dia tidak jauh berbeda dengan yang selama ini kubayangkan. Wajahnya setua pohon-pohon di belantara dan rambutnya dipenuhi uban sehalus gerimis. Badannya kurus, tapi tidak kering. Aku mencari matanya di balik kacamata berbingkai perak yang gagangnya sudah sedikit berkarat, tapi tidak menemukan apa pun, selain gurat lelah di pelipisnya. Di bibirnya terselip sebatang rokok separuh terbakar. Dia tidak banyak bicara. Seolah menyampaikan sepatah kata saja mampu menghabiskan seluruh energinya. 

“Aku tak menyangka kau merokok juga,” kataku.

Dia mengambil rokoknya, lalu memandangnya lama. Akhirnya aku melihat matanya—tua dan getir. Bukankah dia sudah ada sejak permulaan waktu? 

“Entahlah. Menurutmu, bagaimana aku mampu melakoni pekerjaan sesunyi ini tanpa merokok?” Dia mengambil kotak rokok di saku kanannya, lalu menepuknya lembut sampai sebatang rokok menyembul. “Kau mau?” tawarnya. "Ambil, lah."

Aku menolaknya. Namun, dia tahu aku mau. Lagipula, aku sudah mati, jadi tidak perlu menahan diri. Tak ada yang bisa membunuhku—lagi. Saat aku menerima tawarannya, dia terkekeh, lalu menyulut rokokku dengan ujung rokoknya. Suara desis terdengar empuk saat aku mengisapnya. Asap putih mengepul kental begitu aku mengembuskannya. Rasanya lebih nikmat dari yang kuingat.

“Omong-omong, ada angkringan di dekat sini. Kopinya enak. Mau mampir?” dia tiba-tiba bicara dan aku mengiyakan saja. Setelah setengah jam berjalan seolah tanpa tujuan, akhirnya kami tiba di tempat yang dia maksud—sebuah tenda terpal dengan lampu oranye seredup kunang-kunang. Begitu kami memasuki ruangan, seorang pria mengantarkan dua cangkir kopi, lengkap dengan pisang gorengnya. Setelah menaruh rokok di ujung meja, aku menyesap kopiku. 

Bau tanah mulai merayap di udara dan tetes air jatuh di permukaan tenda. Angin mengubah hujan yang tadinya gerimis, menjadi deras. Aku mengintip sebentar. Di luar, halimun memanjat pohon-pohon dan kabut memamah batu-batu. Dingin menjilat-jilat kulit. Aku merapatkan jaket, lalu mengancingkannya. Setelah membuang lelatu di ujung rokok, aku mengisapnya lagi.

Ketika hujan menderas, seraya menutup kepala dengan tangan, beberapa pelanggan buru-buru memasuki tenda. Mereka memesan secangkir kopi, sama seperti kami. Aku tidak tahu, apakah mereka pernah hidup atau tidak, atau mungkin adalah Kematian itu sendiri—seperti dia yang kini duduk di sampingku. Rekanku menumpahkan kopinya ke pisin, lalu menyesapnya dengan sangat hati-hati. Ketika dia mendekatkan ujung piring ke bibir, tangannya bergetar

Hujan mengaburkan seluruh jalan. Tenda mulai ramai. Mungkin sebentar lagi asap rokok dan obrolan tak berarti memenuhi tempat ini. Mungkin malam ini akan berlangsung selamanya. Tanpa rumah untuk pulang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (4)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Jalan Sepajang Malam
Rafael Yanuar
Flash
Bronze
Habis Kuota
Reyan Bewinda
Cerpen
Bronze
Waris
De Lilah
Novel
Gold
Hello Salma
Coconut Books
Komik
Kilogram
Dwirns
Komik
Bronze
Brother Act
Helsy Ariesta
Skrip Film
Serenada Cinta
syafetri syam
Flash
Pepatah Bilang.....
AlifatulM
Flash
Bad Breath
Fann Ardian
Flash
Bronze
Es Krim Dari Kakek
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Merah Putih, Satu Hati , Satu Desa
muhamad jumari
Novel
Bronze
KEDUA KALI
Novya
Skrip Film
THE GREAT FOX SCRIPT
Wuri
Flash
Bronze
Seseorang yang putus asa
AlifatulM
Flash
Pulih. . .
AlifatulM
Rekomendasi
Flash
Jalan Sepajang Malam
Rafael Yanuar
Flash
Kepada Mantan Kekasihku
Rafael Yanuar
Cerpen
Sofia
Rafael Yanuar
Cerpen
Toko Buku Kecil di Kaki Bukit
Rafael Yanuar
Flash
Ding Dong, Bioskop, dan Kafe
Rafael Yanuar
Flash
Kekasih Hujan
Rafael Yanuar
Flash
Clair de Lune
Rafael Yanuar
Flash
Dunia dalam Tas
Rafael Yanuar
Cerpen
Selembar Dunia
Rafael Yanuar
Cerpen
Racau
Rafael Yanuar
Novel
Jalan Setapak Menuju Rumah
Rafael Yanuar
Cerpen
Gubuk Kecil di Kota Kuning
Rafael Yanuar
Flash
Ternyata Aku Masih
Rafael Yanuar
Flash
Merayakan Tahun Baru
Rafael Yanuar
Flash
Warna Pelangi
Rafael Yanuar