Explore
Pilihan
Genre
Imaji Estetika
Isi hati seorang lelaki bernama Galih; mengenai perasaannya terhadap temannya yang bernama Arumi Estetika.
Imaji Estetika

"Galih."

"Tika."

Gue bahkan udah tau nama lengkapnya: Arumi Estetika. Anak-anak seangkatan gue, di kampus ini, mana ada sih yang enggak tau dia. Di Instagram, followers dia udah puluhan ribu dan gue udah follow dia lumayan lama.

Ternyata, pas ketemu langsung, dia jauh lebih cakep. Gila, cakep parah. Bisa-bisanya si Rio baru ngenalin dia ke gue, padahal udah berbulan-bulan kenal sama Tika karena mereka sejurusan.

Gue... terpesona.

***

"Tik, gue denger dari Rio, katanya elo aslinya orang Batam?"

"Iya."

"Duh, enak banget, sih..."

"Kenapa?"

"Kalau belanja online dari toko-toko di Batam, pas checkout enggak usah pusing mikirin ongkir!"

"Hahahaha! Apaan sih, lo!"

Kata orang-orang, Tika itu orangnya jutek banget. Emang! Tapi kalau udah kenal, dia friendly banget. Gampang ketawa juga. Kayak sekarang ini, nih. Kalau dia lagi ketawa lepas begini, cantiknya paling paling sedunia.

Gue.... seneng banget.

***

"Tik, yang tadi itu siapa?"

"Ooh, itu Kak Timmy. Kakak asprak jurusan gue."

"Gue pikir pacar lo, Tik."

Gue agak panik, tapi tetep nyengir. Dan jujur, gue nyesel kenapa gue ngomong gitu karena gue ngeliat tatapan itu lagi; tatapan penuh harapnya Tika.

Gue... takut.

***

Gue lagi jalan di toko buku, nemenin Gina, adik gue. Terus gue ngeliat Tika. Gue pikir dia sendirian, ternyata di sampingnya ada Timmy, si kakak asprak yang ganteng dan keren itu, dan mereka berdua lagi liat-liat buku impor berbahasa Inggris.

Langkah gue terhenti dan gue sembunyi di balik rak.

Gue liat Tika ketawa dan matanya lekat mandangin Timmy yang lagi entah ngomongin apa.

Oh, begini rasanya nontonin Tika ketawa lepas sama orang lain dari kacamata pihak ketiga?

Gue... bingung. Sama diri gue sendiri.

***

Seminggu yang lalu, gue liat Tika sama Timmy di toko buku.

Tiga hari yang lalu, gue liat Tika sama Timmy di bioskop.

Dua hari yang lalu, gue liat Tika dan Timmy jalan ke parkiran, payungan berdua.

Kemarin, gue liat Tika dan Timmy di makan berdua di kantin.

Hari ini, gue liat Tika dan Timmy jalan gandengan tangan di koridor kampus.

Gue... enggak rela. Tapi enggak tau harus gimana.

***

"Gal."

"Nape, Tik?"

"Kak Timmy nembak gue kemarin. Menurut lo gimana?"

Gue diem. Gue ngerti apa maksudnya Tika ngomong begini. Otak dan hati gue kompak nyeramahin betapa beruntungnya gue karena Tika bersikap begini.

Gue berdeham. Dan sial, yang keluar malah omongan lain lagi.

"Kak Timmy keren tau, Tik. Emangnya lo enggak suka sama dia?"

Galih, Galih, kok lo goblok bener, sih? Bukan ini yang mau gue omongin ke Tika. Bukan!!

"Gal, Kak Timmy mau jadi pacar gue."

Diperjelas sama Tika. Gue harus berani mengambil sikap!

"Ya kalau lo suka dia, ya terima dong, dia. Gue sebagai temen lo, ngedukung segala keputusan lo, Tik. Hehe."

Goblok!

Galih goblok!

Tika senyum. Gue senyum. Tapi sama-sama enggak dari hati.

Gue... goblok. Banget.

***

"Gal, kenalin. Ini Kak Timmy, cowok gue. Kak, ini Galih. temen aku."

"Eits, pacar si Tika!"

"Hai, Galih. Tika sering banget nih cerita soal lo ke gue dari dulu. Katanya lo tuh lucu banget kayak badut."

Gue ketawa.

Gue.... emang badut.

9 disukai 4.2K dilihat
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction