Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Dua Bola Mata
Sungguh, benar-benar lengang, kosong melompong. Tidak ada keliar maupun lenggang di jalan-jalan dan pasar, tidak ada sama sekali. Yang ada hanyalah syak wasangka berkembang di benak mereka yang menerka-nerka.
Terlebih setelah Kades Madukara belakangan sering keluar malam, baik berkendara maupun jalan kaki sebelum kemudian sesekali menemui saya. Sebagai orang terdekat dengan kediktarorannya, tidak ada saya merasa gemetar apalagi takut terhadap keganjilan di seputar wilayah kekuasaannya.
Saya ingat sekarang tentang sosok yang membuat warga Madukara ketakutan itu. Dua bola mata makhluk itu tidak bersarang di cangklongnya, melainkan digenggam di kedua tangan. Mungkin saja ia akan memata-matai atau meneror seluruh kampung. Baik lingkungan yang alim maupun lingkungan awam seputar Desa Madukara.
Orang-orang kaget dan ketakutan. Sosok yang berjalan dengan dua bola mata berlepotan darah di tangan itu konon sering muncul secara tiba-tiba. Tatapan cangklong matanya yang bolong, mencorong tajam seperti raja siluman yang tengah murka.
"Gusti Allah, apa dunia ini akan segera berakhir?!" keluh seseorang terkait kemunculan sosok lelaki tak ubahnya hantu itu.
"Mungkin sepasang matanya terlepas karena suatu kutukan."
"Bukan begitu, menurutku tak ada alasan apa pun. Yang namanya hantu tentu tak akan sempurna. Apakah kamu belum mendengar kisah-kisah horor sebelumnya, di mana tersiar kabar ada hantu yang menyala pada bagian lututnya?"
Orang-orang di seputar wilayah Madukara tak hentinya mempergunjingkan lelaki tak bermata itu. Di balik kecemasan dan ketakutan yang mendera, kadang mereka pun menepuk jiidatnya sendiri mengingat sosok itu sering pula berjalan siang hari, pergi ke pasar membeli sembako, kopi, dan rokok.
"Kalau begitu ia bukan hantu. Ia jelas-jelas manusia. Tepatnya manusia buta. Buta mata lahirnya. Tak sedikit orang yang melihatnya sering melakukan salat di masjid."
Saya hanya mengangguk, mendengarkan sambil menyesap kopi di warung yang telah menjadi markas pergunjingan warga. Tidak bisa disangkal memang, apa-apa yang mereka bicarakan bukanlah suatu rekayasa atau ilusi, melainkan fakta yang telah diketahui banyak orang. Tapi siapakah sosok tanpa mata itu sebenarnya?
"Apa mungkin dia seorang malaikat yang menyamar dan menguji keyakinan kita. Atau setan yang ingin menyesatkan umat manusia?"
"Bisa jadi. Ia seperti tengah memata-matai kehidupan kita. Bukankah selama ini kita telah mengabaikan agama yang kita anut?"
Buram bergulung di kepala warga Madukara, termasuk saya sendiri. Tetap tak ada yang tahu pasti hal ihwal kemunculan lelaki aneh itu. Pikiran kami terpecah, ada yang bersikukuh pada kepercayaan gaib dan takhayul, separuh lagi menuduh sosok itu sebagai manusia biasa yang menyamar dengan kostum hantu.
Berbulan-bulan kemudian, bisik-bisik dan ketakutan yang menjeramah Madukara luntur seiring lenyapnya sosok lelaki tanpa mata itu. Hingga suatu pagi buta, Subali menggedor-gedor pintu rumah saya. Saya yang masih mengantuk, terhuyung-huyung menghampirinya.
"Terimakasih atas cerita yang kamu tulis dan sebarkan. Tanpa itu semua, tak mustahil penyimpangan Anggaran Dana Desa ratusan juta itu bakal segera terbongkar. Untuk selanjutnya, cobalah bikin cerita yang lebih unik, cerita yang tak cuma seram tapi kalau perlu bikin semua warga tertidur tiap hari," kata Subali seraya memberikan uang 100 juta kepada saya.
Heran saya, cerita apa yang Subali maksudkan. Saya tidak pernah menulis dan menyebarkan cerita apa pun. Ia menepuk-nepuk bahu saya sambil terus tertawa dan berucap terima kasih. Dan alangkah terkejutnya saya, sebab tawa yang terlampau bahak itu, dua bola matanya menggelinding ke lantai. Subali yang sudah tak bermata itu terus terbahak sambil menumpahkan uang 100 juta itu ke atas kepala saya.(*)