Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Sejarah
Diamankan
0
Suka
10
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

‎Ini tahun 1989, enam bulan setelah peristiwa Talangsari, dimana yang aku amati, banyak orang tak berani bicara dengan suara keras tentang peristiwa tersebut.

‎

‎Aku sendiri tidak mau ikut membicarakan urusan seperti itu. Bagiku ibadah ranah pribadi, meski aku juga bukanlah muslimah yang taat.

‎

‎Aku, Rita, baru mencium tangan suamiku yang pulang Jumatan. Biasanya suamiku itu pulang paling akhir di antara jama'ah yang lain.

‎

‎Dirinya tidak terlihat sebagai seorang yang fanatik, tapi doanya sungguhlah khusyuk. Hingga akhirnya suamiku yang bernama Abdul Khoirudin itu dibawa ke Polsek. Alasannya sungguh mengejutkan. Suamiku dituduh sebagai salah satu provokator kasus Talangsari yang masih buron.

‎

‎Aku bingung, bagaimana bisa suamiku yang guru ngaji itu bisa dituduh melakukan hal berat. Ia selama ini ada di Kulon Progo bersamaku. Bagaimana bisa? Telepon? Kami tak punya, dan kadang menumpang tetangga. Telegram? Biasanya aku yang mengirim, jadi aku tahu pasti isi kertas yang ditulis Mas Abdul.

‎

‎Lima hari berselang, aku dikabari tetanggaku bahwa Mas Abdul sudah diserahkan ke Polres. Aku terkejut karena justru tetanggaku yang dikabari terlebih dahulu.

‎

‎Juga... Jika tetangga ku itu bukan istri anggota Polres, dirinya mungkin tak akan dihubungi. Aku naik angkot sendirian menuju Jalan Bhayangkara, untuk melihat keadaan suamiku. Dan setelah aku sampai, ternyata ia sudah dibawa ke Yogyakarta.

‎

‎Aku terkejut karena tetanggaku yang dulu memberi kabar pun tak diberi tahu. Aku rasa suaminya pun tidak diberi tahu juga, karena ia memang hanya anggota biasa.

‎

‎Aku pun merogoh sakuku. Aku bersyukur selalu menyisakan uang koin setelah selesai berbelanja. Segera aku berjalan mencari telepon umum koin terdekat. Aku tak masalah jika koin habis dalam kurun waktu 10-15 detik, aku hanya ingin tahu kondisi suamiku sehat.

‎

‎Tapi... Semua tak seperti yang aku perkirakan, aku sudah mengeluarkan sekitar empat puluh delapan koin, dan tetap saja kurang. Aku kurang jelas mendengar kabar suamiku. Tapi yang kudengar agak jelas, inti nya ia aman.

‎

‎Hanya kalimat, "Terjamin, bu. Terjamin." Yang aku dengar dari suara di telepon yang berat gagangnya membuat aku ngilu itu. Dan aku juga bersyukur aku tak perlu mengantre.

‎

‎Aku pulang ke rumah. Dengan kabar Mas Abdul yang belum jelas. Kulalui hari seperti biasa, meskipun aku terkadang ngeblank ketika Toyo yang mau masuk ke sekolah dasar itu, terus menanyai kondisi sang ayah.

‎

‎Aku tak mau mengganggu suasana hati Toyo. Sebab tiga minggu lagi putraku itu masuk sekolah untuk pertama kalinya. Aku tak mau antusiasmenya diruntuhkan kabar sang ayah yang sedang ditahan. Jadi aku katakan ia sedang ada urusan di luar kota.

‎

‎Saat ia berkata bahwa ada tetangga yang berbicara bahwa ayahnya ditangkap polisi, aku berkata padanya,

‎

‎"Bukan ditangkap, Yo. Tapi diamankan."

‎

‎Saat ia menanyakan tentang apa itu diamankan, aku membeku beberapa saat, kemudian berbohong.

‎

‎Aku gelisah di dalam kamar bicara umum, aku sudah meminjam enam ribu rupiah pada salah satu tetanggaku. Aku sudah berlatih sejak di rumah bagaimana aku harus berbicara, karena aku tak mau uang pinjaman habis tanpa mendapat kabar yang pasti.

‎

‎Lalu aku pun menekan nomornya, tapi setiap lawan bicara menjawab pertanyaanku, justru bunyi desis statis yang aku dengar mendominasi. Akhirnya pinjamanku itu pun sama sekali tak berguna.

‎

‎Meski tetanggaku yang kaya raya tersebut mengatakan tak usah dikembalikan jika tak sanggup, tapi itu jadi beban mental. Apalagi selama ini tetangga bernama Bu Wati tersebut sudah sangat baik pada keluargaku, dimana biasanya di sore hari ia mengirimi aku dan keluarga makanan enak.

‎

‎Aku tak peduli pada para tetangga yang membicarakan isu, bahwa Bu Wati sedang cari tumbal. Karena aku paham, suaminya bekerja di kantor duta besar untuk Prancis.   

‎

‎Aku pun selalu dalam kegelisahan tinggi selama beberapa bulan ini, dan suamiku tetep tidak ada kabar. Pun aku sudah makin tak enak pada Bu Wati yang sudah mendengar perihal suamiku, sama seperti tetangga lainnya. Sebab ibu yang anaknya berkuliah di Oxford tersebut, dengan murah hati mau meminjamkan teleponnya tanpa syarat.

‎

‎Hingga tepat satu tahun setelah suamiku ditahan karena dituduh terlibat sebagai salah satu provokator, aku diberi tahu oleh Bu Wati jika pihak Polwil Yogyakarta menghubungi. Bergegas cepat aku menuju rumah Bu Wati, yang ukurannya tiga kali lebih besar dari rumahku.

‎

‎Lalu aku dikabari, Mas Abdul telah wafat. Alasannya karena serangan jantung. Aku tak sempat menutup telepon. Aku keburu pingsan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Sejarah
Flash
Diamankan
Rere Valencia
Novel
CORONA DITANGAN MANUSIA
Rizal Azmi
Novel
PROTOKOL NUSANTARA II : PENGAMAT TERAKHIR
Prasetya
Novel
Bajak Darat
Vitri Dwi Mantik
Novel
SANTRI DI JALAN MAKRIFATULLAH
Prasetya
Flash
1873: Geger Sekolah Fort de Kock
snang.tjarita
Flash
Keris Bali
Novia dewi
Novel
Dibawah atap yang sama
Yuni ekawaty
Cerpen
Bronze
Patung Pahlawan
Yanti Soeparmo
Novel
Bronze
Penulis vs Karakter
Risti Windri Pabendan
Novel
Hujung Tanah
Nikodemus Yudho Sulistyo
Flash
Bronze
THR UNTUK SIAPA
Shinta Larasati Hardjono
Skrip Film
Jejak yang Hilang
sakuhana
Novel
Bronze
Sebaiknya Kita Berpisah
Aroem Aziez
Novel
Bronze
CANDRA SENGKALA
Nur Baiti (Hikaru)
Rekomendasi
Flash
Diamankan
Rere Valencia
Flash
Bronze
Saga Recorded: Empat Hari Menuju Sempurna
Rere Valencia
Flash
Bronze
Kisah Setelah Revolusi Pertama Yang Gagal
Rere Valencia
Flash
Bronze
Perjodohan
Rere Valencia
Flash
Bronze
Matahari
Rere Valencia
Flash
Bronze
Karunia Untuk Hidup Kita
Rere Valencia
Flash
Bronze
Ending
Rere Valencia
Flash
Bronze
Pendoa Dengan Minimnya Usaha
Rere Valencia
Flash
Bronze
Mati Sebagai Seorang Nenek
Rere Valencia
Flash
Bronze
Sebuah Penantian
Rere Valencia
Flash
Bronze
Dia, Si Pemain Judol
Rere Valencia
Flash
Bronze
Pulang
Rere Valencia
Flash
Bronze
Pecundang Yang Merendahkan
Rere Valencia
Flash
Bronze
Kamu bukan Do-Young
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Paris, 4 Mei
Rere Valencia