Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Thriller
Kata Yang Nomor Satu
0
Suka
30
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Palang kayu yang menyilang itu tergeletak setelah muka pintu diterjang oleh lima orang besar dan tegap. Mereka melihat pria kurus itu. Tulang keringnya lebih rapuh dari kursi kayu yang jadi takhta kekalahannya.

"Al?"

Pria itu tak menjawab. Tak menggeliat. Tak bernapas.

Tangan pria itu diborgol dengan ketat. Borgol kepolisian. Baju pria itu koyak sampai yang tersisa hanya sedikit kain yang menutup pusar dan pinggang. Wajah pria itu, bahkan kekasihnya mungkin tak akan mengenal wajah biru dan ungu akibat darah yang menggumpal. Amir harus menyisir rambut Al yang panjangnya sampai ke hidung; rambut itu tergerai sampai menutup mata sang mayat. Mata itu terbuka lebar.

***

Mataku panas. Cahaya apa ini? Brengsek. Siapa yang berani? Sini, biar kuhajar sampai rahangmu bergeser. Sini, biar kuhajar sampai kau makan pakai selang. Rasa amis apa ini? Darahkah? Tanganku...

"Kau lama sekali bangunnya!" Suara siapa itu? Bising sekali.

BRUKKK!

Serius? Memukul batang hidungku? Perlahan kulihat si paling sok keras yang mematahkan hidungku. Ah sial, jika kau ingin tampil dengan brewok, sebaiknya kau rapikan. Kau tak menyikat gigimu, brengsek?

Kenapa kau tarik rambutku, bajingan!

"Dan mereka bilang kau tidak boleh dibunuh."

Si bajingan anak haram itu menyalakan rokok di depanku.

"Seorang informan. Seorang penyusup. Berapa lama... Ah, lima tahun. Dan si bodoh itu tak curiga."

Ah, jadi begitu. Aku tertangkap. Dalam gudang yang bau minyak solar yang begitu pekat, abu-abu dan hitam yang sama sekali tak elegan.

"Di mana Bos Abil?"

"Sudah mati. Polisi menembak perut gemuknya," bajingan itu terkekeh. Siapa dia? Selama aku menyusup, aku belum pernah bertemu dengan wajah sejelek itu.

"Kau sekarang bosnya?"

"Ya. Berkat kau. Terima kasih, Alif." Kenapa juga dia menyalakan rokok kretek di mulutku?

"Operasi sudah dimulai. Kalian sudah kalah."

"Begitukah?" Bajingan itu berdiri, memerintahkan sesuatu pada anak buahnya. Anak buahnya yang botak kemudian pergi selama sepuluh menit, lalu datang membawa dua tubuh yang tak bernyawa.

"Ini kawan-kawanmu."

"Sudah kubilang untuk mundur."

"Mereka berusaha menyelamatkanmu, tidak ada ucapan terima kasih?"

"Memangnya mayat bisa mendengar? Memangnya mayat bisa membalas ucapan terima kasih?"

Setelah setengah batang sudah menjadi abu, aku meludahkan rokok kretek itu. Si bajingan, bos yang baru, membawa air putih. Rasanya aneh. Payau dan sedikit pahit.

"Beri tahu aku semua nama informan dari polisi. Akan kubiarkan kau hidup."

"Kukira kau yang paling pintar sejagat. Buktinya kau bisa menangkapku," sumpah, rasa air putihnya mirip air Sungai Kapas. Mendorongnya masuk ke kerongkongan bukanlah hal yang bijak. Tapi perlu sedikit banyak.

"Kawan yang mengkhianati kau. Yah, sayangnya dia tak punya daftar informan sebanyak kau. Jadi, mau kubawa pena? Atau foto-foto personel?"

Sudah kulakukan. Kuludahi wajah tak terurus itu. Dia tersenyum.

DAKKKKKKK!

Rusukku... Sepertinya patah. Tendangannya oke juga. Berapa meter kira-kira aku terpental, dua meter?

Kemudian anak buah yang sama biadabnya mengangkat kursi yang melekat, yang menyatu dengan tubuhku yang bau.

"Namanya... sekarang!" Si bajingan ini cewek kah? Berteriak dengan nada tinggi seperti itu? Sumpah, tak ada seram-seramnya.

"Minah, Sri, Slamet. Itu nama-namanya."

BUKKKKKKKK!

Serius? Kali ini telingaku yang kau hantam, brengsek?

Si anak buah tolol ini mau saja disuruh-suruh melakukan hal yang berulang seperti mengangkat kursi dan tubuhku.

"Kau pikir dengan tahu nama-nama keluarga besar, membuat dirimu tiba-tiba jadi hebat? Jadi kebal?"

"Sudahlah. Kau bunuh saja aku."

Telingaku masih bisa menangkap suara tubuhku sendiri yang meraung. Suara tubuhku yang empuk, dipukul sampai ratusan kali. Kemudian tiba-tiba saja mereka semua kelihatannya panik. Kurasa kantor akhirnya bisa melacak mereka. Jadi, mereka pergi terburu-buru.

***

Sudah dua malam, perutku berbunyi setiap dua jam sekali.

"Beri aku makan, beri aku makan!"

Kurasa sudah tiga mililiter air ludahku yang kutelan. Bau kencing dan kotoranku sendiri ternyata sebusuk ini jika tak disiram. HA HA HA HA. Tunggu, ada suara derap kaki... Mereka datangkah? Sialan, hanya khayalanku saja. Eh, tapi benarkah? Itu suara kaki... Ya... Benar. Benar sekali. Benar sekali. Sialan kau, kumbang! Sialan kau, jangkrik! Sialan kau, burung! Bising sekali kalian! Ah, kututup saja mataku. Mimpi apa ini? Aku naik pangkat? Aku menikah? Anak-anakku jadi orang semuanya? Syukur.

Sudah pagikah? Mana semua orang? Mana para jenderal? Mana para tim khusus? Mana? Mana?!

Sudah empat hari. Kata yang nomor tiga, kayaknya kantor lebih memilih untuk mencari si penjahat daripada mencari polisi baik yang sekarat. Kata yang nomor empat bilang, mereka sudah mendapat lokasi terkini ku. Kata yang nomor dua, mereka pasti menyelamatkan informan yang lain. Kata yang nomor satu, aku pasti mati hari ini.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Flash
Kata Yang Nomor Satu
Duntres
Flash
CERMIN ANTIK
Katangga
Novel
Namaku Alice
Sem Irviady Surya
Novel
Bronze
Alhamdulillaahi (Manggala)
Hermawan
Flash
CONVERSATIONS WITH GOD?
Bramanditya
Novel
Bronze
Sedarah Daging Sebangkai Tulang
Adnareth
Flash
Sepuluh Tim Gegana
MosaicRile
Flash
Chaos
Varenyni
Novel
sweet case
zifarak
Novel
OPLAS Perubah Nasib
Ahmad Barnash
Novel
It Was Never An Accident
Khaielle
Flash
Seharusnya Aku Tidak....
Via S Kim
Cerpen
Orleander
Linggarjati Bratawati
Novel
Nemesis : Misi Balas Dendam Untuk Adrian
Azalea Rhododendron
Flash
Bronze
Dinding Apartemen
Amelia Sibarani
Rekomendasi
Flash
Kata Yang Nomor Satu
Duntres
Novel
Taleweaver
Duntres
Novel
Sorot
Duntres
Novel
Tempat Dimana Bintang Tak Pernah Jatuh
Duntres
Flash
Air Jampi Pak Sardi
Duntres