Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Lembar demi lembar buku bersampul kusam itu dibukanya perlahan. Tak ada cerita panjang di sana, hanya coretan kalimat rindu yang tertulis sporadis selama tiga tahun terakhir—hanya muncul saat dadanya terlampau sesak.
"Hai, aku merindukanmu... lagi."
Hanya itu. Ia bahkan sudah lupa bagaimana cara mengekspresikan rindu dengan cara lain.
Denting dentang cangkir dan hiruk-piruk kafe tempatnya mengerjakan tugas mendadak samar saat sebuah lagu yang tidak asing mengalun keras memenuhi ruangan. Musik itu membawanya melompat ke masa lalu, menghadirkan kembali kilasan tawa dan betapa bahagianya mereka dulu.
Ia menghela napas, meraba tanggal hari ini dengan ujung jemarinya, lalu mengambil pena. Tepat di bawah tulisan lamanya, ia menambahkan satu baris baru:
"Aku melihatmu mencapai rencana yang dulu kamu diskusikan denganku. Melihatnya di sosial media saja membuatku ikut senang. Aku merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu."
Buku kusam itu kembali ditutupnya rapat-rapat, mengunci rindu yang lagi-lagi hanya sampai pada lembaran kertas.