Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Setiap hari ia mengenakan seragam pramuka, Yanu biasa ia dipanggil. Ia pun sudah dua kali tinggal kelas.
Adiknya sendiri sudah menjadi kakak kelas, akibatnya remaja yang seharusnya sudah hampir lulus tersebut sering dibully. Raha, si adik, sebetulnya ingin sekali membela sang kakak. Tapi ia tak punya keberanian.
Ditambah Yanu sendiri berkata, masalah keluarga, apalagi seragam sekolah yang hanya ada dua seragam pramuka, satu putih abu serta sepasang seragam olahraga, tak perlu sampai orang luar tahu.
Banyak orang di sekolah mengira Yanu hanya orang sinting, karena setiap hari mengenakan seragam pramuka, sedangkan adiknya berpakaian normal. Padahal ia dan Raha hanya hidup berdua, tanpa orang tua.
Pihak kelurahan sebetulnya berniat membantu, tetapi birokrasi yang berbelit mengakibatkan bantuan tertahan. Orang-orang kelurahan yang merasa takut muka mereka akan tercoreng pun melapor pada pusat bahwa bantuan sudah tersalurkan. Singkatnya bukan hanya Yanu dan Raha yang jadi korban keegoisan pemerintah lokal.
Hari itu seperti biasa Yanu berangkat paling awal, ia juga membersihkan ruang kelasnya, pun menitipkan dagangan. Yanu dan Raha memang menjual gorengan dan dititipkan di kantin sekolah. Warisan mendiang ibu, mereka putar untuk berdagang.
Walau sering tak laku atau dagangan diakali murid lain, Raha sering mengucap alhamdulilah, pun Yanu. Meski jualan mereka yang dibayar tak seberapa.
Dan saat kelas dimulai Yanu kembali ditertawakan. Pemuda tersebut hanya memakai sebelah kaus kaki. Ya, untuk kaus kaki pun sama seperti seragam. Lelucon tentang kaus kaki dan seragam sebetulnya sudah jadi keseharian siswa, tapi seolah penghinaan kepada Yanu tak pernah dianggap basi.
Bahkan seorang murid menirukan gaya orang pincang dengan ekspresi konyol tapi menghina. Tentu ia hanya menggunakan sebelah kaus kaki. Seluruh kelas terbahak-bahak. Guru yang di zaman sekarang justru takut dengan murid, sebab takut diviralkan jika berlaku tegas, seolah tak melihat. Karena terjadi di jam rehat.
Raha yang mendengar dari kelasnya terpaksa berakting tertawa. Ya, seisi kelasnya juga menertawakan Yanu. Raha tak punya pilihan lain, dan Yanu berulangkali menyatakan ia mengerti.
Tapi di angkot Raha menangis. Yanu berusaha menenangkan. Pemuda bernama lengkap Yanu Ade Setiawan menyatakan pada adiknya, bahwa yang mereka alami di sekolah hanya awal.
Mereka harus bebal. Sebab yang mereka alami di sekolah hanya permulaan. Awal dari dunia yang kejam, tak berperasaan, serta menertawakan, walau yang ditertawakan terluka parah sekalipun.