Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku masih tidak mengerti mengapa otakku tidak bekerja hari itu. Dia seharusnya tidak membiarkanku merasa kagum secara berlebihan kepada pria asing yang menjaga meja kasir di tempat di mana aku akan berbelanja! Maksudku, aku dan my Crazy Soulmate a.k.a saudariku datang ke sana untuk membeli sesuatu (bayar lalu pulang), bukan untuk mempertanyakan kemampuan sosialku sebagai manusia. Niat berbelanja yang dipikir-pikir tidak membutuhkan persiapan mental besar-besaran sedikit pun, malah berujung ... duh, lawak.
Tapi, otak dan perasaanku, rupanya punya rencana lain. Rencana yang tidak selaras denganku, tanpa persetujuanku, dan yang paling menyebalkan, tidak menguntungkanku sama sekali. Woylah!
Ini bermula ketika mataku menangkapnya.
Astaghfirullah, astaga, MasyaAllah, eh.
Orang itu tampan, amat tampan, sungguh, tetapi dalam artian yang berbeda, rasanya kata tampan saja tidak cukup. Kata tampan terlalu biasa, terlalu sering digunakan, dan terlalu mudah kehilangan makna sebenarnya karena dihubungkan dengan begitu banyak wajah. Aku harap kamus memiliki kosakata yang tepat untuk menggambarkan ketampanan orang itu, kosakata yang dapat menampung beban ketampanan dan aura MasyaAllah seseorang yang begitu kuat hingga menyebabkan orang lain kehilangan kemampuannya untuk sekadar bertanya mengenai barang tertentu, dan akhirnya tidak mampu membeli satu barang pun! Sebenarnya, tinggal tanya dan beli saja sih, yup, tapi sungguh tak sanggupðŸ˜
Aku sudah melihat banyak pria tampan sebelumnya. Ada yang wajahnya lebih menarik, ada yang senyumnya lebih manis, ada pula yang kalau lewat mungkin membuat orang menoleh dua hingga tujuh kali, oke, itu berlebihan. Tapi, orang ini punya sesuatu yang berbeda.
Dia punya aura.
Aura pria tampan berkarisma, meluluhkan hati tanpa aksi. Diam pun dia ... keren.
Dia punya semacam karisma yang tidak perlu diumumkan melalui pengeras suara, tidak membutuhkan pengakuan orang lain, dan tidak perlu melempar senyuman manis untuk memikat pelanggan. Dia tampak tenang, dingin, dan tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Tidak ada usaha untuk menarik perhatian siapa pun. Dia hanya bekerja seperti pengejar Euro pada umumnya, duduk tenang di balik meja kasir, menatap lurus ke arah ponselnya tanpa niatan diganggu dan mengganggu. Tanpa menyadari bahwa dirinya sedang menjadi sebuah kekacauan di dalam hati orang lain, ea. Duh.
Mungkin, itulah masalahnya.
Orang tampan yang tahu dirinya tampan mungkin masih bisa dihadapi. Kita bisa menuduhnya terlalu pede, memutar bola mata kita secara berlebihan, lalu melanjutkan aktivitas secara normal. Namun, bagaimana menghadapi seseorang yang tampak sama sekali tidak berusaha menjadi tampan dan menarik, tapi entah bagaimana memiliki daya tarik luar biasa yang membuat kita mempertanyakan kewarasan diri sendiri?
Aku tidak tahu apakah ini berlebihan, tetapi aku benar-benar merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan diriku. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak melakukan apa-apa bisa membuatku berpikir begitu keras? Dia bahkan tidak merayuku. Tidak tersenyum kepadaku. Tidak mengatakan sesuatu yang bisa kuingat sepanjang malam. Dia hanya ada di sana, dan entah bagaimana, keberadaannya sudah cukup untuk merusak agenda belanjaku.
Kalau dipikir-pikir, aku seharusnya marah kepadanya. Namun, tentu saja, menyalahkan pria asing karena terlalu berkarisma adalah tindakan yang tidak masuk akal dan GILA. Dia berhak atas wajah tampannya sendiri. Dia juga berhak bekerja dengan tenang tanpa harus bertanggung jawab atas para wanita yang mendadak kehilangan akal sehat di dekat meja kasir. Itu aku, btw. Oh, dan juga saudariku.
Aku menatap saudariku, dia turut menatap, kami saling pandang dan melempar pikiran yang sama, hingga tawa kami meledak di depan wajah masing-masing. Bukan tawa biasa pada umumnya yang keluar, melainkan cengengesan yang terdengar gila dan putus asa. Bisa bayangkan betapa frustasinya menahan tawa di tempat ramai, terlebih sambil melihat wajah itu?
Huft.
Sambil menahan tawa, aku mulai berbisik, "Gila, kenapa yang jaga malah ganteng begitu??"
Saudariku meringis, lalu ikut berbisik, "Bagaimana cara kita bayar ini?"
"Pulang saja, yuk!" Balasku memotong ucapannya dengan cepat, masih dengan suara tertahan.
"Lah, rugi dong kita ke sini?"
"Terus, memangnya kau sanggup bertanya? Kalau sanggup, ke sana gih, kalau gue mah nggak sanggup, orangnya terlalu ganteng, no way."
"Gue juga tidaaak, lah, ih, lucu, please. Masa kita nggak jadi belanja karena wajahnya?"
"Woylah, lihat itu, dia pake jam tangan warna hitam!"
"Terus?"
"Orang lain yang pakai jam itu nggak ada efek sama sekali buat jantung, tapi DIA, ya Alloh, tangannya aja kok bisa secakep dan sekeren itu? Catat, tangannya ganteng, weh. Nonsense!"
"Parah banget kita, lucu banget situasi ini. Ayo, pulang, gue nggak sanggup tahan tawa di sini. Rasanya ingin kentut."
"Sama, hikk."
Aku ingin tahu siapa yang pertama kali menyebarkan kabar bahwa manusia adalah makhluk berakal. Sepertinya orang itu belum pernah melihat kondisi kami di toko. Tentu saja, kan ini pertama kalinya.
Aku heran, pelanggan lain, terutama Ibu-ibu, terlihat 'baik-baik' saja dengan wajah itu. Mereka mencari, memilih, dan membayar barang ini itu dengan lancar, tanpa kendala. What?
Atau karena mereka memang sudah memiliki banyak pengalaman dalam melewati fase pria tampan yang terasa seperti bencana alam, jadi mereka biasa saja? Mungkin pula pengalaman hidup telah mengajarkan mereka bahwa ketampanan tidak bisa digunakan untuk membayar beras, minyak goreng, atau tagihan listrik. Hmm.
Apa pun itu, aku dan saudariku benar-benar memutuskan untuk pulang, dan TANPA belanja. Dari dalam toko hingga ke parkiran, cengengesan itu tak berakhir, walaupun ketika membayar uang parkir tawa kami sedikit diredam, kuharap Pak Jukir tidak menyadari keanehan di wajah kami. Sungguh, perutku sakit luar biasa, menahan tawa memang bawa penyakit, lol.
Aku mungkin akan menceritakan kisah ini berulang-ulang kepada siapa pun yang kutemui. Karena ini pertama kalinya aku menertawakan diriku sendiri atas kekonyolan dan ketidakberdayaanku hanya karena wajah, aura, dan karisma seseorang. Orang asing pula.
Mungkin agak lebay bagi beberapa orang, tapi yeah, belum tentu bagi beberapa orang lainnya. Bergantung pemikiran masing-masing saja, sih. Semua berterima.
Ah, terakhir, aku berharap dia tidak bekerja di apotek, sungguh. Aku tidak ingin membayangkan bagaimana jadinya jika suatu hari aku membutuhkan obat, dan berakhir sekarat ðŸ˜
Cerita May, 2026.
Have you ever met someone like him/her?