Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Lentera di Balik Kabut
0
Suka
63
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Aku tahu Sena berbohong saat bibirnya menyentuh bibirku di bawah pendar lampu peron yang berkedip mati-nyala. Pria yang benar-benar berniat menua bersamamu di sebuah pondok tenang di tepi danau, tidak akan menyembunyikan pistol revolver kaliber 38 yang telah terkokang di balik mantel basahnya.

Peluit kereta malam berjerit membelah kabut pekat jam dua pagi, suaranya terdengar seperti raungan binatang buas yang terluka. Jari-jari Sena mencengkeram bahuku terlampau erat, nyaris menyakitkan, seolah aku adalah sauh terakhirnya di dunia yang perlahan runtuh ini. Mata hitamnya—yang biasanya menatapku dengan kelembutan yang selalu berhasil meluluhkan keras kepalaku—kini memancarkan perpaduan antara keputusasaan dan cinta yang begitu brutal. Hujan musim gugur meresap ke dalam pakaian kami, mengubah kain menjadi pemberat, tapi yang kurasakan hanyalah detak jantungnya yang memburu liar saat ia menarikku ke dalam dekapannya.

Tiga hari pelarian ini telah menguras segalanya. Kami berpindah dari satu motel kumuh ke motel lainnya, menghindari setiap sorot lampu mobil, berlari dari bayang-bayang masa lalu Sena yang akhirnya menagih nyawa. Dan kini, di stasiun perbatasan yang nyaris mati ini, pelarian kami telah mencapai ujungnya.

"Dengar," bisiknya parau, napasnya yang hangat beradu dengan deru mesin diesel kereta. Jempolnya mengusap tetesan hujan dan air mata di pipiku. "Kereta ini tidak akan berhenti sampai di seberang perbatasan. Di gerbong ketiga, ada tas ransel hitam di bawah kursi 3B. Uang, paspor baru, dan alamat tempat kau harus menungguku."

"Kita, Sena. Di tempat kita berdua menunggu," ralatku dengan suara bergetar, mencengkeram kerah kemejanya. "Kau ikut naik sekarang. Kita bisa melawan mereka bersama."

Sena tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang membuat perutku melilit karena itu bukanlah senyum penuh keyakinan, melainkan senyum perpisahan. "Aku harus memastikan mereka tidak mengikutimu. Hanya butuh lima menit untuk menahan mereka. Apapun yang terjadi, jangan pernah menoleh ke belakang."

Di ujung peron yang gelap, bayangan empat pria berjas panjang muncul dari balik tirai kabut. Langkah sepatu bot mereka menggema di atas beton basah, berirama, sinkron, dan mematikan. Waktu seakan membeku. Udara tiba-tiba terasa begitu tipis untuk dihirup.

Sena memutar tubuhku dan mendorongku perlahan ke dalam gerbong yang terbuka, sementara tangan kanannya merayap pasti ke balik bantalan mantelnya, menggenggam gagang baja yang dingin.

"Aku mencintaimu. Lebih dari nyawaku," janjinya, menatapku untuk satu detik terakhir yang terasa seperti keabadian.

Lalu matanya berpaling dariku. Kelembutan itu sirna, berganti dengan kilat tajam seorang pembunuh berdarah dingin yang siap menjemput ajal. Ia melangkah maju, menempatkan tubuhnya sebagai perisai antara diriku dan para algojo yang kian mendekat.

Pintu hidrolik kereta berdesis menutup lambat, memisahkan kami dengan lapisan kaca tebal yang seketika mengembun oleh udara dingin. Aku memukul-mukul permukaan kaca yang sedingin es, meneriakkan namanya hingga tenggorokanku perih, namun suaraku tertelan sepenuhnya oleh decit roda besi yang mulai bergesekan dengan rel. Kereta tersentak maju perlahan.

Tepat saat gerbongku bergerak melewati posisi Sena, sebuah kilatan cahaya menyambar terang membelah kabut peron. Suara letusan pertama memekakkan telinga, merobek pekatnya malam, disusul rentetan tembakan balasan yang seakan meruntuhkan langit. Tubuh Sena berputar menghindari peluru, membalas tembakan di tengah kekacauan, sebelum semuanya tertutup oleh kepulan asap mesiu dan pekatnya kabut stasiun.

Aku merosot jatuh ke lantai kereta yang bergetar, memeluk lututku sendiri di tengah gerbong yang kosong. Mesin menderu semakin kencang, membawaku menembus gelapnya malam menuju perbatasan, meninggalkanku dalam siksaan tanya yang mungkin takkan pernah terjawab: apakah darah yang malam ini membasahi peron itu miliknya, atau apakah janji pertemuannya esok hari di ujung perbatasan hanyalah sebuah ilusi indah sebelum ia menutup mata untuk selamanya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Keysha
nesya ekda
Novel
terracotta
Rey Lasano
Novel
I am Your Boss
Marion Drossi
Flash
Bronze
Amore Pazzo
Anjrah Lelono Broto
Flash
Lentera di Balik Kabut
Muhammad Ahnaf Putranto
Cerpen
Bronze
Ada Aku
Fataya
Novel
Bronze
The Idol's Love
delV
Skrip Film
Ekspatriat
Margo Budy Santoso
Cerpen
Bronze
Sebuah Komitmen
Munkhayati
Novel
LUMINOS: Perempuan dari Balik Bayangan
riza adi wicaksono
Flash
Ruang Tersembunyi dalam Hati
Cheri Nanas
Flash
Bronze
In Korea Means 사랑해
lidia afrianti
Flash
Cinta di Balik Pagar
Lukitokarya
Novel
Alex
Oryza Salsabila
Novel
Bronze
Dear You: Tidak Ada yang Kebetulan
Radiandka
Rekomendasi
Flash
Lentera di Balik Kabut
Muhammad Ahnaf Putranto
Novel
HTS
Muhammad Ahnaf Putranto
Flash
Sang Penjaga Waktu
Muhammad Ahnaf Putranto
Cerpen
Bronze
Hujan di Kota Pelangi
Muhammad Ahnaf Putranto