Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Thriller
Tawa
2
Suka
17
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

‎Tio berteriak sekencang mungkin. Ia mengalunkan golok pada Lurah Sopiyan. Kelurahan sendiri bukan destinasi pertamanya saat membuat keributan.

‎

‎Padahal sebelumnya Tio tak pernah mengacau. Polisi pun sudah berjaga. Mereka diperintahkan untuk siaga. Dan apapun keadaannya untuk tidak mengambil tindakan terukur.

‎

‎Kejadiannya memang terlihat seperti fiksi, tapi empat belas orang telah dihajar. Sebagian sudah dibawa ke puskesmas kelurahan, sebagian dirawat keluarga mereka, karena luka cukup ringan.

‎

‎Warga tak berani melawan bukan karena takut, tapi lebih mengerti akan keadaan psikologis Tio yang mereka perkirakan terganggu.

‎

‎Sudah beberapa bulan ini Tio selalu naik darah ketika ada tetangga yang tertawa. Ayahnya, Darmanto, paham itu waham siar. Tapi melihat keadaan sang anak yang sangat terpuruk, ia memutuskan untuk menunda mengajak putranya itu ke psikiater.

‎

‎Mendadak Tio berteriak, mengatakan bahwa gelar sarjananya layaknya sampah. Darmanto berusaha menenangkan kembali, namun Tio merespon sang ayah dengan berteriak lantang penuh nada keputusasaan, tentang keviralannya dulu.

‎

‎Darmanto paham apa maksud Tio, para tetangga pun paham. Salah satu tetangga kemudian mengusulkan dengan suara pelan, supaya dosen dari kampus Tio saat ia sarjana diundang untuk menenangkan.

‎

‎Semua tahu itu mungkin tidak akan berhasil. Ada yang mencoba menolak usulan, tapi diurungkan karena tidak memiliki ide yang lebih baik.

‎

‎Akhirnya Bu Endang, dosen yang dulu meluluskan Tio datang. Ia dikawal dan berdiri dengan jarak yang cukup aman dari Tio, yang tadi sudah menendang punggung Lurah Sopiyan sampai terjerembab.

‎

‎Ia yang datang dengan diantar taksi Darmanto tersebut, mencoba memikirkan hal apa yang sebaiknya dikatakan pada pria kalap di hadapannya. Sedangkan tetangga yang menjemput mengembalikan kunci pada Darmanto, dengan berusaha menjaga jarak dari Tio.

‎

‎Bu Endang mencoba membujuk, tetapi Tio membalas, saat dirinya susah dan tak kunjung dapat pekerjaan, banyak tetangga malah menertawakan.

‎

‎Ada yang mencoba berkata itu gangguan psikologis, tapi Bu Endang yang membaca situasi memotongnya. Bu Endang tahu, mental Tio saat ini dalam kondisi tak bisa ditentang.

‎

‎Mantan dosen yang kini membantu putri bungsunya berjualan kue basah tersebut mengatakan, bahwa keviralan seseorang saat wisuda, apalagi lulusan terbaik se-Indonesia, ditambah menjadi mahasiswa terbaiknya dengan ekonomi terbatas, belum tentu terjamin masa depan.

‎

‎Endang pun menyatakan jika semua lulusan terbaik otomatis sukses, kompetisi tidak akan ada. Dan itu tidak adil untuk mahasiswa yang meraih nilai lebih rendah. Tio dengan lantang menjawab bahwa itu keadilan. Wanita dengan lima cucu tersebut terdiam, karena yang dikatakan Tio memang fakta.

‎

‎Tio makin ganas, menyatakan kompetensi yang baginya tak adil telah membuat dirinya jadi anti sosial. Padahal dulunya ia pandai bergaul dan sering nongkrong.

‎

‎Ia merindukan ketika dirinya sering azan, ia merindukan mengiringi beberapa kawan mainnya bernyanyi dengan gitar. Rindu bulan ramadhan bersantap dan tarawih bersama.

‎

‎Tapi yang datang padanya justru perlakuan dimana ia merasa dilecehkan. Dimana kawan satu tongkrongan, banyak bertanya soal lamaran diterima atau tidak.

‎

‎Tio pun trauma menonton YouTube pun medsos lain, karena takut akan muncul video ketika diantar ayahnya naik taksi saat wisuda dulu. Hal yang membuat bangga keluarga dan Tio kala itu, karena diliput banyak media besar.

‎

‎Tapi memang hidup Tio berakhir seperti yang sejak lama ia rencanakan. Bu Endang yang berniat menepuk pundak pria 37 tahun itu dengan lembut, malah disalah sangka.

‎

‎Tio mengira itu serangan agresif. Dengan kecepatan yang tak terduga ia merebut pistol polisi. Tetapi ia tidak menembakkannya pada Endang. Tio justru menembak dirinya sendiri.

‎

‎Bunyi letusan mengejutkan banyak warga di luar. Sebagian berani masuk, sebagian tidak. Dan beberapa warga yang masuk melihat Darmanto sedang menangis sesenggukan. Pun Bu Endang, lemah dengan cucuran air mata.

‎

‎Lurah Sopiyan pun mengimbau para warga, agar tidak dendam pada Tio. Dan nanti sore dengan ikhlas hati mau membantu Darmanto, untuk proses pemakaman putranya. Dimana sang putra, diduga kuat mengalami gangguan kejiwaan berat, disebabkan lamaran selalu ditolak.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Thriller
Flash
Tawa
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
BAU APA INI?
Atis Dee Jay
Flash
Aku Sekarat
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Paris, 4 Mei
Rere Valencia
Novel
Bronze
Intrik
Eko Hartono
Novel
Bronze
Bintang Megah
WillsonEP
Flash
Bronze
Membunuh Biang Bunuh Diri
Omius
Novel
Bronze
The Camp
Binnar Kurnia Ramadhan
Novel
SANTRI PINGGIRAN
Prasetya
Novel
KLANDESTIN: DUA SISI
Lirin Kartini
Cerpen
Identity Swap
Surya Hidayat
Novel
OSPEK
Afsheen Amelia
Novel
Bronze
Jejak Aliana
Zakiya NW
Flash
Bronze
Mainannya
Rere Valencia
Novel
9 Nyawa
Sekarmelati
Rekomendasi
Flash
Tawa
Rere Valencia
Flash
Bronze
Sepotong Roti
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Paris, 4 Mei
Rere Valencia
Flash
Bronze
Prasangka Setelah Tragedi
Rere Valencia
Flash
Bronze
Billy dan Greesel (Apa Adanya)
Rere Valencia
Flash
Bronze
Saga Recorded: Empat Hari Menuju Sempurna
Rere Valencia
Flash
Budi
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Aline
Rere Valencia
Flash
Bronze
Vrum
Rere Valencia
Flash
Bronze
Ketikanmu Tanggungjawabmu
Rere Valencia
Flash
Bronze
Lagu dan Mafia
Rere Valencia
Flash
Bronze
Mainannya
Rere Valencia
Flash
Bronze
Sebelum Jumat Tanggal 13
Rere Valencia
Flash
Bronze
Sang Hujan Pembunuh
Rere Valencia
Flash
Bronze
Shani
Rere Valencia