Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Laras sejak tadi terus mencari. Ia merasa tulisan pertamanya lebih berharga, ketimbang seluruh karya terkininya yang ia anggap sampah.
Perpaduan estetika antara diksi puitis dan plot berkelas. Sejak dulu Laras berpikir, kapan lagi ia bisa menulis seperti itu.
Kini tulisannya hanya memenuhi satu syarat saja. Kadang puitis, tapi biasa saja secara plot. Meski orang lain tak menilainya begitu.
Terkadang plotnya luar biasa, hanya saja Laras menemukan diksinya terlalu standar. Meski Laras merasa sejak dulu memang itulah kelemahannya.
Laras sadar karyanya tersebut dapat membuka luka lama. Tapi ia akan menahannya. Baginya, menemukan emas berduri lebih sepadan, ketimbang terus menguburnya dalam cahaya redup.
Laras beranjak dari kursi. Seingat dia tulisan pertamanya itu pernah ia print. Mungkin masih ada di berbagai dokumen yang ia kumpulkan jadi satu.
Laras mencari, memeriksa lembaran kertas satu demi satu. Ia terlihat lelah karena sudah tiga puluh menit memeriksa dengan teliti satu persatu, tapi... Hasilnya nihil.
Wanita yang kini anaknya memasuki kelas dua sekolah dasar tersebut pun menuju gudang, tapi di tengah jalan ia mengurungkan niat. Ia ingat tak pernah menyimpan dokumen di gudang.
Sebetulnya ada beberapa kertas dokumen yang dititipkan di kamar putrinya. Tapi Michelle mengunci pintu kamar. Michelle sendiri sedang sekolah.
Michelle mengatakan di kamarnya ada privasi yang tak boleh ibunya lihat. Laras terkadang tersenyum sendiri melihat kelakuan putri semata wayangnya itu.
Laras kemudian kembali mencari di pencarian internet. Kali ini ia tidak sekedar mencari di Google. Yandex, Bing, DuckDuckGo, Aio Search, dan lainnya ia telusuri.
Bahkan sampai menyuruh kecerdasan buatan untuk mencarikan. Tapi sejauh ini nihil, kecuali Grok yang masih memproses pencarian.
Laras merasa karya terbaiknya itu bukan sekedar karya pertama. Ia sadar, itu adalah manifesto pertama dari dasar hatinya.
Sebuah pernyataan independen dirinya sebagai wanita, yang tak terkekang oleh pria. Ia masih hafal judulnya, yaitu Kembang Terutama.
Memang seperti rancu, tetapi Laras memiliki filosofinya sendiri tentang judul tersebut. Dan Laras menganggap, tak ada hasil karya miliknya yang sekelas Kembang Terutama.
Meski luka pasti tergores kembali jika ia membaca karya tersebut. Ketika fase depresi pertama, mulai meregangkan hubungan antara ia dan keluarga besar. Bahkan Michelle tahunya sang ibu sebatang kara.
Kemudian ada notifikasi dari Grok. Kecerdasan buatan tersebut telah menemukan harta Laras yang paling berharga. Kembang Terutama rupanya diarsipkan di salah satu situs cerpen era 2000an, dan aksesnya publik.
Laras membacanya. Ia tersenyum kemudian menitikkan air mata. Emosinya pun diakhiri dengan menangis tersedu.
Sepersekian detik kemudian Laras mulai tenang, meski sebelumnya ia harus menarik napas untuk menenangkan diri.
Lalu, Laras menghapus chat box dari Grok. Ia tidak menyimpan Kembang Terutama. Baginya lukanya cukup terbuka sekali lagi saja. Ia kemudian membuat draft, dan mulai membuat karya baru.