Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Vitacimin kiwi
1
Suka
565
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

"Mbak, Vitacimin Kiwi satu ya, less sugar 50%, normal ice."

Aku tersenyum saat memesannya. Padahal ini bukan minuman kesukaanku. Rasanya asam dan manis — rasa yang asing, tapi entah kenapa membekas.

"Mbak, Vitacimin Kiwinya sudah jadi."

Aku mengangguk dan duduk di pojokan, spot favorit seseorang saat bersamaku, setiap kami berjalan bersama.

Aku mengirim pesan pada seseorang yang berjarak ratusan kilometer dariku, "Mila, i miss you so bad, jadi aku beli minuman favoritmu. Kalau kita meet harus pelukan sih."

Tak lama notifikasinya muncul, "Haha so sweet, selalu saja minuman favoritku."

Aku kembali tersenyum. Empat tahun bersama sebagai teman yang menimba ilmu di kampus yang sama. Suka dan duka sudah kami lewati bersama. Ya, dia salah satu yang terbaik yang pernah hadir dalam hidupku.

Aku menyesap minuman dingin itu. Rasa asam menjalar di lidah, disusul manis yang menyegarkan. Aku ingat dengan jelas, saat semester 3 kami memutuskan untuk bekerja sambil kuliah. Kami menghabiskan waktu sebagai waitress, tangan penuh salonpas, baik di kaki maupun di jemari karena kelelahan.

"Mil, maaf ya kerjaan yang aku dapat berat gini," ucapku waktu itu.

"Gapapa kali yu, santai aja. Usaha tuh harus mulai dari bawah," ucapnya semangat.

Kami selalu pulang jam 12 malam. Aku dijemput Ayah dan kami bergoncengan bertiga setiap malam. Suatu ketika ia pernah mengatakan hal yang membuatku sedikit lebih bersyukur akan hidupku.

Saat itu aku adalah anak manja yang berusaha tumbuh menjadi gadis tangguh — setelah Ayah-Ibuku bangkrut, kami seperti menjalani hidup di neraka. Aku merasa itu salah mereka yang menyeretku ke dalamnya.

Saat aku mengatakan itu kepada Mila, ia tersenyum dan mengatakan, "Yah gimana pun itu orang tua kamu, mereka sudah berusaha versi terbaik mereka."

Semalam aku dan Ayahku mengantar Mila pulang ke rumahnya saat jam 12 malam memgunakan Vario butut milik Ayahku. Motor satu-satunya yang ia punya setelah bangkrut.

"Makasih ya yu, soalnya aku jadi tau rasanya digonceng Ayah tuh gimana. Bapakku meninggal pas aku masih kecil dan aku gak tau gimana mukanya," ucapnya kala itu, sembari menangis dengan wajah sentimental. Aku pun memeluknya.

"Iya, aku juga berterima kasih karena mengajariku apa artinya sabar dan selalu berusaha semampu kita."

Semester terus berjalan hingga kami mengerjakan skripsi bersama.

"Ah, aku struggle banget mil, Arala janji mau bantuin aku tapi dia malah marahin aku. Padahal kami udah temenan lama banget," tangisku. Ya, masalah dengan sahabat yang sudah kukenal empat belas tahun lebih.

"Jangan dikatain juga harusnya, aku capek banget mil," ucapku sambil menangis. Ia memelukku.

"Sudah yu, kamu cuma capek aja itu, nanti kalau sudah selesai... Itu urusanmu kalau mau chat dia balik," nasihatnya.

Skripsi yang kukerjakan akhirnya selesai dengan segala tetek-bengeknya. Aku merasa Dewi Fortuna ada di sampingku. Aku mengirim pesan ke Arala, "Ra, skripsiku sudah selesai. Maaf ya, waktu itu egois, aku tau aku salah tapi gak seharusnya kamu ngatain kayak gitu ke aku."

Notif dari Arala masuk, "Iya maaf ya, aku gak bermaksud gitu, aku tau skripsian beneran bikin stress banget. Aku bakalan gak ngomong kayak gitu lagi."

"Semoga sidangnya lancar," doa Arala membuatku semakin yakin kalau aku akan berhasil. Dan benar saja, saat presentasi aku mendapatkan nilai delapan puluh tujuh dan dinyatakan lulus.

"Mila! Kita lulus mil! Kita lulus!" teriakku sambil memeluknya dan menangis.

"Mil, sarjana ekonomi mil. Empat tahun cuy, gila keren abis!" ucapku lagi.

Aku tersenyum dengan bangga, memakai topi toga kebanggaanku, sambil duduk di kursi penerima ijazah dengan jantung berdegup kencang seperti lari maraton.

"Ayah, Ibu! Aku berhasil. Kebanggaan ini akan kusimpan erat, bukti kalian berjuang demi aku," pekikku riang dalam hati.

Teman di sampingku bernama Lita tersenyum padaku, "Yu, kalau kamu S2 nanti jangan lupa kasih tau aku ya, biar aku doain yang terbaik buat kamu."

"Pasti," ucapku tenang.

Suara notifikasi membuyarkan lamunanku, "Aku bakalan balik lima tahun lagi kayaknya ke Kalimantan, aku bakalan ngerantau lagi setelah senang-senang di Lombok, atau mungkin siapa tau kerja di luar negeri," balas Mila membuat hatiku menghangat.

"Amiinn, doa yang terbaik untukmu mil," ucapku sembari mengenakan kaos kaki renda pemberian Mila dan boneka koala kecil hadiah ulang tahunku. Sangat berarti untukku dan akan selalu kujaga sebagai harta karun berharga dari sahabatku.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Vitacimin kiwi
Reveniella
Flash
Malam Pertama Riana
Mario Matutu
Flash
Behind the Tears
Ariq Ramadhan Nugraha
Flash
Menolak Lupa 5
Shin No Hikari
Cerpen
Bronze
Hentak Mesin Dini Hari
Johanes Gurning
Novel
Bronze
Mellifluos - The Melody of Heart
Nia Dwi Noviyanti
Novel
Bronze
The Little One Funny Family
Aylanna N. Arcelia
Novel
Menyatukan Kepingan Diri
Rani Septiani
Novel
With You, I'm Okay...
Nadia Amalia
Novel
Bayang-bayang Dibalik Janji
Lukmanul Hakim
Flash
Bronze
Katak dan Lembu
Ahmad Muhaimin
Flash
Bronze
Tengah Malam Terakhir (Membicarakan Adam Series Part 19)
Silvarani
Cerpen
Bronze
Gairah Kopi Pak Bos
Herbayu
Novel
Kutunggu waktu
nasywa wiyanda
Skrip Film
Cooking and Me
Lia Mulidiawati
Rekomendasi
Flash
Vitacimin kiwi
Reveniella
Flash
Stepping with you
Reveniella
Cerpen
Laki-laki Tidak Bercerita
Reveniella
Flash
Gagak di Bubungan
Reveniella
Flash
Anggap Aku Rumahmu
Reveniella
Flash
Janji yang tidak di tepati
Reveniella
Flash
Budak korporat
Reveniella
Flash
Lanang
Reveniella
Flash
Jatuh dan cinta
Reveniella
Flash
Secangkir Cokelat Panas
Reveniella
Cerpen
Dunia Hijau milik Cemara
Reveniella
Flash
Roda berputar
Reveniella
Novel
Ruang Abu-abu
Reveniella
Flash
Ujaranku pada kematian
Reveniella
Flash
Ayahku koruptor
Reveniella