Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Setiap manusia punya luka yang disimpan rapat-rapat, mereka memendam, dan kadang bisa saja menghakimi satu sama lain," ucap Devara — yang biasa dipanggil Ara — menatap langit sendu. Kantung matanya berlipat, ia tidak tidur tiga hari.
Ia merasa kewalahan atas apa yang terjadi di dalam dirinya. Kematian sahabatnya. Azizah.
Ariel memberitahukan kepergiannya dengan lantang di grup Alumni SMP, "Azizah meninggal karena sakit, tekanan darahnya rendah."
Jari-jariku gemetar membalas di grup itu, "Gak mungkin, lima hari lalu dia masih chatan sama aku."
Hatiku berdenyut, sakit. Aku tidak berada di sampingnya saat dia butuh, padahal aku adalah sahabatnya, seseorang yang sedekat nadi. Sial, apa yang sudah aku lakukan.
Lima hari yang lalu, Azizah mengirim pesan personal, "Ara, hari ini meet yuk! Aku takut kita gak bisa ketemu lagi."
Aku membalasnya dua hari kemudian karena ujian, "Boleh tapi, maaf ya bisa gak minggu depan aja, Zah... Aku ujian nih." Tidak ada jawaban setelah itu.
Azizah itu rumahnya berisik. Ayah dan ibunya sudah lama bercerai. Ia pernah cerita sambil tertawa hambar, kalau pacar ibunya menatapnya dengan cara yang salah, dan ketika ibunya tahu, justru ia yang dipukul.
"Mungkin aku yang salah," katanya waktu itu. Sejak itu aku mengerti kenapa ia tidak pernah telat sholat. Ia selalu menarik tanganku di mushola sekolah yang pengap itu, "Ayo sholat, Ra, nanti Allah marah kalau telat." Padahal kurasa, Allah adalah satu-satunya yang tidak pernah marah padanya.
Dia juga aneh. Makan mie pedas harus pakai saus tomat yang banyak sampai kuahnya jadi pink. Ngemilnya harus rasa cokelat. Katanya, "Biar hidup tetap manis, Ra."
Kami bahkan membeli gantungan kunci yang sama sebulan lalu. Bentuknya beruang kecil warna krem. Katanya biar kalau kangen tinggal lihat tas masing-masing.
Aku bahkan tidak berani datang ke kuburannya untuk menyekar karena aku tidak terima ia meninggalkanku secepat ini. Rasanya sesak. Ariel membalas lagi, "Untuk apa aku bohong soal kematian temanku?"
Aku terpekur. Benar, untuk apa?
Masih terngiang ucapannya dulu saat kami masih memakai rok biru tua, "Aku gak pengen Ara dan Lina, atau Ibuku meninggal lebih dulu dariku. Aku maunya yang lebih dulu." Aku marah, "Jangan meromantisasi kematian. Kematian itu sakral."
Ia hanya tersenyum, "Kamu tau, kita gak ada yang tau kapan kita mati? Kematian itu takdir. Aku cuman berusaha hidup dalam keinginanku, karena jika tau aku akan mati besok, aku akan melakukan semua kebaikan yang aku mau yang kita lakuin sebagai manusia tuh cuman berdoa dan berserah. Tapi bukan pasrah ya. Lebih ke kita tau kapan harus berusaha dan kapan harus mengadahkan tangan." Ia menangkup pipiku lembut.
"Ara, kalau aku meninggal lebih dulu, jangan lupain aku. Kenang aku dengan baik ya. Kalau kita suatu saat bertemu lagi, ceritakan lagi alasan aku tetap memilihmu menjadi temanku dan jangan nangis. Nanti aku sedih." Hijab kebesarannya tertiup angin.
"Aku janji," ucapku lantang.
Ucapan belasungkawa teman-teman menamparku ke realita. Eva menghubungiku, "Azizah udah gak ada, kamu yakin baik-baik aja? I can lend my ears for you. Kamu tau nomorku kan chat aja." Aku hanya tersenyum dan tidak membalasnya.
Sore itu aku memandang langit yang mulai meredup sambil memegang dua benda di tanganku: jepitan cherry pemberiannya, dan gantungan kunci beruang krem yang kembar itu. Satu milikku, satu miliknya yang belum sempat aku berikan.
"Za, kira-kira kamu sudah jadi bintang belum?" tanyaku pelan. "Mie saus tomat pink-mu, cokelatmu, gantungan beruang ini, semuanya masih aku jaga."
Langit akhirnya gelap. Jepitan itu masih hangat. Dan malam ini, aku buka Google Maps. Kuburan Azizah 12 menit dari kos. Besok aku akan datang. Bukan cuma untuk menyekar, tapi untuk menggantungkan gantungan kunci satunya di dekatmu, biar kita tetap sama.
Makasih sudah ada di dalam hidupku, Za.