Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hadi bangun. Seperti biasa ingin buang air kecillah yang membangkitkannya. Jika tidak ia akan tetap di kamar.
Hari itu kumpul keluarga, Hadi tak menduga itu, ia kaget. Keluarganya pun berusaha bersikap normal saja. Alasannya emosi Hadi sangat tipis.
Meski tak di depan keluarganya, ia bisa membanting pintu atau menggebrak meja. Memang tidak ada yang takut.
Tapi, Robi, sang ayah, adalah duda dengan ekonomi yang kurang. Darimana meja dan pintu terbeli jika rusak?
Hadi buang air kecil, tapi begitu lama. Keluarga tahu Hadi tegang, jadi mereka menghentikan obrolan. Tapi Hadi semakin tegang.
Hingga akhirnya sekitar delapan menit kemudian ia baru keluar dari kamar mandi. Itu pun dengan kelelahan yang amat sangat. Keluarga pun berusaha bersikap biasa saja.
Lalu Hadi membuka medsosnya, dan dirinya pun langsung berubah 180 derajat. Hadi adalah seorang pembual di medsos.
Ia mengupload videonya menggambar. Gambarnya biasa saja, cenderung menengah ke bawah. Tapi captionnya banyak membuat orang geli.
Dalam caption ia menulis, "Karya seseorang yang selama masa remajanya memenangkan tiga puluh enam kontes menggambar."
Semua kawan medsos Hadi tahu ia hanya membual, apalagi banyak dari mereka yang berpengalaman di lomba menggambar. Mereka tidak pernah tahu ada nama Hadi yang diumumkan sebagai pemenang, selama mereka mengikuti kompetisi.
Setelah mengirim statusnya, Hadi menutup laptop dan kembali tidur. Ia tak mau keluar, karena pemuda dua puluh tahun itu tahu, keluarganya masih berkumpul.
Mungkin Hadi akan bertahan di kamar sampai mereka pulang, walaupun rasa haus dan ingin buang air kecil begitu besar. Yang bisa dilakukan saat ini hanyalah tidur. Menunggu waktu berlalu sampai semuanya pulang.
Keluarga tahu, sebagian membicarakan dan mendiskusikan dengan Robi, tentu dengan suara pelan agar tak terdengar Hadi. Mereka juga paham Hadi menggunakan earphone white noisenya, supaya obrolan keluarga tidak terdengar. Sejak tragedi amukan kala itu, semua sadar diri untuk tidak membuat Hadi emosi.
Mereka membicarakan supaya Hadi dibawa ke psikiater, apalagi setelah Robi curhat, bahwa Hadi kemarin mengamuk, sebab Lamaran kerjanya kembali ditolak.
Semua menyarankan supaya semua dilakukan perlahan. Semisal menaruh obat di dalam makanan atau air minum Hadi. Semua pun lalu mendiskusikan hal tersebut.
Tak ada satupun yang tahu, bahwa mengkonsumsi obat dengan rutin bukanlah jalan untuk pulih seutuhnya. Ada banyak faktor yang mengantarkan pada phase kesembuhan. Tapi dengan ketidaktahuan mereka tetap berharap.