Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Pecundang Pembual
1
Suka
16
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

‎Hadi bangun. Seperti biasa ingin buang air kecillah yang membangkitkannya. Jika tidak ia akan tetap di kamar.

‎

‎Hari itu kumpul keluarga, Hadi tak menduga itu, ia kaget. Keluarganya pun berusaha bersikap normal saja. Alasannya emosi Hadi sangat tipis.

‎

‎Meski tak di depan keluarganya, ia bisa membanting pintu atau menggebrak meja. Memang tidak ada yang takut.

‎

‎Tapi, Robi, sang ayah, adalah duda dengan ekonomi yang kurang. Darimana meja dan pintu terbeli jika rusak?

‎

‎Hadi buang air kecil, tapi begitu lama. Keluarga tahu Hadi tegang, jadi mereka menghentikan obrolan. Tapi Hadi semakin tegang.

‎

‎Hingga akhirnya sekitar delapan menit kemudian ia baru keluar dari kamar mandi. Itu pun dengan kelelahan yang amat sangat. Keluarga pun berusaha bersikap biasa saja.

‎

‎Lalu Hadi membuka medsosnya, dan dirinya pun langsung berubah 180 derajat. Hadi adalah seorang pembual di medsos.

‎

‎Ia mengupload videonya menggambar. Gambarnya biasa saja, cenderung menengah ke bawah. Tapi captionnya banyak membuat orang geli.

‎

‎Dalam caption ia menulis, "Karya seseorang yang selama masa remajanya memenangkan tiga puluh enam kontes menggambar."

‎

‎Semua kawan medsos Hadi tahu ia hanya membual, apalagi banyak dari mereka yang berpengalaman di lomba menggambar. Mereka tidak pernah tahu ada nama Hadi yang diumumkan sebagai pemenang, selama mereka mengikuti kompetisi.

‎

‎Setelah mengirim statusnya, Hadi menutup laptop dan kembali tidur. Ia tak mau keluar, karena pemuda dua puluh tahun itu tahu, keluarganya masih berkumpul.

‎

‎Mungkin Hadi akan bertahan di kamar sampai mereka pulang, walaupun rasa haus dan ingin buang air kecil begitu besar. Yang bisa dilakukan saat ini hanyalah tidur. Menunggu waktu berlalu sampai semuanya pulang.

‎

‎Keluarga tahu, sebagian membicarakan dan mendiskusikan dengan Robi, tentu dengan suara pelan agar tak terdengar Hadi. Mereka juga paham Hadi menggunakan earphone white noisenya, supaya obrolan keluarga tidak terdengar. Sejak tragedi amukan kala itu, semua sadar diri untuk tidak membuat Hadi emosi.

‎

‎Mereka membicarakan supaya Hadi dibawa ke psikiater, apalagi setelah Robi curhat, bahwa Hadi kemarin mengamuk, sebab Lamaran kerjanya kembali ditolak.

‎

‎Semua menyarankan supaya semua dilakukan perlahan. Semisal menaruh obat di dalam makanan atau air minum Hadi. Semua pun lalu mendiskusikan hal tersebut.

‎

‎Tak ada satupun yang tahu, bahwa mengkonsumsi obat dengan rutin bukanlah jalan untuk pulih seutuhnya. Ada banyak faktor yang mengantarkan pada phase kesembuhan. Tapi dengan ketidaktahuan mereka tetap berharap.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Pecundang Pembual
Rere Valencia
Novel
PTSD
diana rahmatika
Novel
Bronze
Awal Pertikaian
Hermawan
Cerpen
Bronze
Pukat Hayat
Larasatijingga
Novel
Best Friend
Rara Rahilah
Novel
Mauliate Gendis
Fitri Handayani Siregar
Flash
Ketika Dosa Berbau
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Tidak Pernah Utuh
novizuzanna
Novel
Bronze
Tell Me Your Secret
Risda Ully Safitri
Novel
Bronze
Purnama
kusnara
Flash
SELINGKUH
Embart nugroho
Flash
DI BALIK KEBUTUHAN
Senna Simbolon
Novel
Bronze
RASA
kiaqiya
Novel
DI UJUNG PRAHARA
Nuraini Mufidah
Novel
Bronze
1121681
Delta
Rekomendasi
Flash
Pecundang Pembual
Rere Valencia
Flash
Perjanjian Pikiran
Rere Valencia
Cerpen
Indonesia Indonesia
Rere Valencia
Flash
Bronze
Prioritas
Rere Valencia
Flash
Bronze
Sang Penulis
Rere Valencia
Flash
Bronze
Werewolf
Rere Valencia
Flash
Bronze
Kisah Setelah Revolusi Pertama Yang Gagal
Rere Valencia
Flash
Final Piala Dunia
Rere Valencia
Skrip Film
Pahit
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Quantum Kayla
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Selamat Tidur
Rere Valencia
Flash
Bronze
Sepotong Roti
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Pandanglah Langit Di Atas Sana, Maru!
Rere Valencia
Flash
Bronze
Realistis dan Arogan
Rere Valencia
Cerpen
Setia
Rere Valencia