Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Semoga hamba sukses, Tuhanku."
"Semoga hamba bisa memberi rezeki,"
"Untuk ibu, saudari saudara."
"Mendiang ayah juga semoga mendapat ketenangan,"
"Keluarga, kucing dan anjing hamba, juga semoga semakin terberkati dan lancar hajat."
"Hamba tak mau menjadi beban lagi."
"Amin... Amin... Amin,"
"Haleluya."
Begitulah untaian doa dari Lala. Doa Lala memang didengar Tuhan. Tapi ada juga yang mendengar.
Bahkan hampir semua orang bisa mendengar hati dan pikiran Lala. Karena lewat alat misterius yang tak diketahui namanya, pikiran serta hati seseorang bisa dibaca.
Lala baru dibaca dua bulan ini. Tadinya banyak orang yang membenci dan mengabaikannya. Dan setelah hampir semua orang tahu ia rajin berdoa, dengan sepenuh hati, semua orang berubah.
Memang pertengkaran masih ada, tapi kebanyakan jadi lebih mau mengalah pada Lala. Lala pun kebingungan, ia yang tidak tahu apapun, merasa kini dirinya bisa dimaklumi jika melakukan kesalahan. Itulah yang membuat orang kesal, tapi tetap dimaklumi, karena Lala seorang pendoa.
Lala memang pemalas, jika menginginkan sesuatu, bukannya usaha mengiringi doa, ia malah hanya berdoa. Memang dirinya punya penyakit bawaan, tapi sikap itu tak bisa dibenarkan.
Namun kebiasaan dan budaya masyarakat yang menormalisasikan bahwa orang berdoa itu pasti orang baik, membuat kebiasaan buruk Lala tetap awet.
Lalu apa yang dilakukan Lala sehari-hari? Ia memang bekerja, tapi bekerjanya tidak setulus hati. Bahkan banyak melakukan kesalahan.
Sekembalinya dari bekerja, Lala melihat kucingnya yaitu Angora, mengeong di depannya. Angora sedang hamil besar, Lala pun memberinya makan, tapi apa adanya.
Lalu ada pula John Paul, anjing warisan mendiang ayah Lala. Tapi ia pun mengabaikan anjing malang tersebut, dan hanya memberinya makan beberapa hari sekali.
Lala bukannya tak mampu, gaji bulanannya bahkan bisa dibilang masih tersisa banyak jika mensteril Angora juga memberi perhatian pada John Paul.
Tapi gadis 28 tahun itu entah kenapa berpikir itu bukan prioritas. Akibatnya seringkali Angora melahirkan di alam liar, juga John Paul hanya tergeletak tanpa daya. Dan Lala? Ia acuh saja.
Kebiasaan orang yang hormat padanya karena ia rajin berdoa, membuat Lala makin lupa diri. Pun ibunya yang sedang sakit, ia tak urus. Alasannya terlalu sibuk.
Apalagi menurut Lala, lembur dapat membuat ibunya lebih baik. Sebab pikirnya... Membayar tunai tanpa program pemerintah itu lebih menjamin, ketimbang membawa ibundanya ke rumah sakit saat ini.
Ibunda Lala yang bernama Indri, pun hanya mendapatkan obat seadanya. Padahal seharusnya Indri sudah wajib dibawa ke rumah sakit. Alasan Lala, biaya belum mencukupi.
Tapi pola yang lama kembali, Lala kembali berdoa, bekerja lembur demi ibunya nanti, tanpa mengurus wanita yang melahirkannya itu, juga mengabaikan Angora serta John Paul.
Lala sebenarnya sama seperti kebanyakan orang. Mengira menjadi orang baik, dengan hanya berdoa, tanpa usaha yang gigih, merupakan kebenaran mutlak.
Hingga akhirnya Indri meninggal. Masyarakat pun tetap berbaik sangka padanya. Alasannya karena Lala orang baik, dan tentu rajin berdoa.
Mereka tak peduli jika si pendoa tersebut telah menelantarkan ibu serta dua hewan peliharaannya. Satu hal yang dapat dibenarkan dari seorang Lala ialah, ia berniat baik, tapi niat saja tidak cukup.
Dan aku sebagai narator meminta maaf karena berceramah. Aku sendiri adalah Lala dari masa depan. Akulah yang membuat mesin agar pikiran dan hati dapat dibaca.
Aku fokus pada masa laluku, karena aku tahu apa yang terjadi setelahnya. Setelah semua orang membaca pikiran aku yang lalu. Alasanku yang lain ialah... Aku ingin menyampaikan, usaha tanpa doa adalah kosong melompong.
Maaf, terlalu banyak berceramah. Selamat tinggal. Sepertinya ini yang terakhir. Karena sudah ada sirene bahwa nuklir dari Korea Utara sedang mengarah ke negara kita. Semua itu karena kesalahanku di masa lalu.
"Selamat tinggal. Semoga kalian bisa mengambil hikmah."