Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Pendoa Dengan Minimnya Usaha
0
Suka
22
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

‎"Semoga hamba sukses, Tuhanku."

‎

‎"Semoga hamba bisa memberi rezeki,"

‎

‎"Untuk ibu, saudari saudara."

‎

‎"Mendiang ayah juga semoga mendapat ketenangan,"

‎

‎"Keluarga, kucing dan anjing hamba, juga semoga semakin terberkati dan lancar hajat."

‎

‎"Hamba tak mau menjadi beban lagi."

‎

‎"Amin... Amin... Amin,"

‎"Haleluya."

‎Begitulah untaian doa dari Lala. Doa Lala memang didengar Tuhan. Tapi ada juga yang mendengar.

‎

‎Bahkan hampir semua orang bisa mendengar hati dan pikiran Lala. Karena lewat alat misterius yang tak diketahui namanya, pikiran serta hati seseorang bisa dibaca.

‎

‎Lala baru dibaca dua bulan ini. Tadinya banyak orang yang membenci dan mengabaikannya. Dan setelah hampir semua orang tahu ia rajin berdoa, dengan sepenuh hati, semua orang berubah.

‎

‎Memang pertengkaran masih ada, tapi kebanyakan jadi lebih mau mengalah pada Lala. Lala pun kebingungan, ia yang tidak tahu apapun, merasa kini dirinya bisa dimaklumi jika melakukan kesalahan. Itulah yang membuat orang kesal, tapi tetap dimaklumi, karena Lala seorang pendoa.

‎

‎Lala memang pemalas, jika menginginkan sesuatu, bukannya usaha mengiringi doa, ia malah hanya berdoa. Memang dirinya punya penyakit bawaan, tapi sikap itu tak bisa dibenarkan.

‎

‎Namun kebiasaan dan budaya masyarakat yang menormalisasikan bahwa orang berdoa itu pasti orang baik, membuat kebiasaan buruk Lala tetap awet.

‎

‎Lalu apa yang dilakukan Lala sehari-hari? Ia memang bekerja, tapi bekerjanya tidak setulus hati. Bahkan banyak melakukan kesalahan.

‎

‎Sekembalinya dari bekerja, Lala melihat kucingnya yaitu Angora, mengeong di depannya. Angora sedang hamil besar, Lala pun memberinya makan, tapi apa adanya.

‎

‎Lalu ada pula John Paul, anjing warisan mendiang ayah Lala. Tapi ia pun mengabaikan anjing malang tersebut, dan hanya memberinya makan beberapa hari sekali.

‎

‎Lala bukannya tak mampu, gaji bulanannya bahkan bisa dibilang masih tersisa banyak jika mensteril Angora juga memberi perhatian pada John Paul.

‎

‎Tapi gadis 28 tahun itu entah kenapa berpikir itu bukan prioritas. Akibatnya seringkali Angora melahirkan di alam liar, juga John Paul hanya tergeletak tanpa daya. Dan Lala? Ia acuh saja.

‎

‎Kebiasaan orang yang hormat padanya karena ia rajin berdoa, membuat Lala makin lupa diri. Pun ibunya yang sedang sakit, ia tak urus. Alasannya terlalu sibuk.

‎

‎Apalagi menurut Lala, lembur dapat membuat ibunya lebih baik. Sebab pikirnya... Membayar tunai tanpa program pemerintah itu lebih menjamin, ketimbang membawa ibundanya ke rumah sakit saat ini.

‎

‎Ibunda Lala yang bernama Indri, pun hanya mendapatkan obat seadanya. Padahal seharusnya Indri sudah wajib dibawa ke rumah sakit. Alasan Lala, biaya belum mencukupi.

‎

‎Tapi pola yang lama kembali, Lala kembali berdoa, bekerja lembur demi ibunya nanti, tanpa mengurus wanita yang melahirkannya itu, juga mengabaikan Angora serta John Paul.

‎

‎Lala sebenarnya sama seperti kebanyakan orang. Mengira menjadi orang baik, dengan hanya berdoa, tanpa usaha yang gigih, merupakan kebenaran mutlak.

‎

‎Hingga akhirnya Indri meninggal. Masyarakat pun tetap berbaik sangka padanya. Alasannya karena Lala orang baik, dan tentu rajin berdoa.

‎

‎Mereka tak peduli jika si pendoa tersebut telah menelantarkan ibu serta dua hewan peliharaannya. Satu hal yang dapat dibenarkan dari seorang Lala ialah, ia berniat baik, tapi niat saja tidak cukup.

‎

‎Dan aku sebagai narator meminta maaf karena berceramah. Aku sendiri adalah Lala dari masa depan. Akulah yang membuat mesin agar pikiran dan hati dapat dibaca.

‎

‎Aku fokus pada masa laluku, karena aku tahu apa yang terjadi setelahnya. Setelah semua orang membaca pikiran aku yang lalu. Alasanku yang lain ialah... Aku ingin menyampaikan, usaha tanpa doa adalah kosong melompong.

‎

‎Maaf, terlalu banyak berceramah. Selamat tinggal. Sepertinya ini yang terakhir. Karena sudah ada sirene bahwa nuklir dari Korea Utara sedang mengarah ke negara kita. Semua itu karena kesalahanku di masa lalu.

‎

‎"Selamat tinggal. Semoga kalian bisa mengambil hikmah."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Langkah: Romantic Love Story #2
Imajinasiku
Komik
Tibu & Ireng
faisal hidayat
Flash
Pendoa Dengan Minimnya Usaha
Rere Valencia
Novel
I Will Always...
Wildan Ravi
Flash
Tanggal Lima
Indra Afriza Arsad
Novel
Mad
UQ.Rivai
Novel
Gold
KKPK Magic and Friendship
Mizan Publishing
Novel
40 hari salatku tak diterima karena khamar
After Future
Novel
Behind The Mask
Retchaan
Flash
Bronze
Jangan Mengolok Rengasdengklok!
Silvarani
Novel
Bronze
LUKA BARA
Muhamad Irfan
Flash
PURA PURA WARAS
IGN Indra
Novel
Bronze
Siluet
violia natha
Novel
Rumah Sepasang Luka
Reza Lestari
Flash
FULL DOT
Lady Mia Hasneni
Rekomendasi
Flash
Pendoa Dengan Minimnya Usaha
Rere Valencia
Flash
CCTV & Videocall
Rere Valencia
Flash
Bronze
Talenta Yang Tersiakan
Rere Valencia
Flash
Bronze
Hikayat Yang Diwariskan
Rere Valencia
Flash
Bronze
Mainannya
Rere Valencia
Flash
Bronze
Sang Komedian Runtuh
Rere Valencia
Flash
Bronze
Werewolf
Rere Valencia
Flash
Bronze
Mengalihkan Sial Melalui Mimpi
Rere Valencia
Flash
Bronze
70 Musim
Rere Valencia
Cerpen
Trump's Era
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Ranjem
Rere Valencia
Flash
Bronze
Tanpa Kompromi
Rere Valencia
Flash
Bronze
Zee
Rere Valencia
Flash
Drama Panggung Resepsi Pernikahan
Rere Valencia
Flash
Bronze
Prasangka Setelah Tragedi
Rere Valencia