Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Malam itu layaknya dengung nyamuk yang ingin disingkirkan. Dalam suasana purnama beberapa remaja lebih memilih menggunakan headset. Ada yang mendengar white noise, musik, atau apapun yang membebaskan mereka dari dunia luar.
Pun Kay, lebih memilih masuk ke dalam ketimbang ikut berpadu dengan ramainya dunia. Ia tidak punya gangguan mental, tidak pula kecemasan akut. Kay hanya remaja yang mencintai sunyinya malam melampaui apapun.
Kadang buku dongeng pun membuatnya tak nyaman. Juga medsos. Jadi ia tak memiliki medsos satupun. Ia tak memiliki teman baik nyata maupun maya. Bahkan teman khayalan pun ia enggan untuk mengurusi.
Lalu Kay ingin minum. Sayang air mineral di kulkas yang berada di dalam kamarnya sudah habis, jadi ia memutuskan mengeksekusi dahaga dari air di kulkas ruang tamu.
Saat itulah ia melihat pemuda bermata sendu. Mereka berpapasan. Meski Kay adalah putri pemilik kos-kosan, pemuda keturunan timur tengah bernama Akbar tersebut hanya berlalu, tanpa reaksi apapun.
Kay pun tak merasa kesal. Sesuai wataknya itu memang sesuatu yang ia harapkan. Tidak ada obrolan, tidak ada ocehan tak berguna, apalagi saling menjilat. Apa adanya, tanpa sandiwara yang menurut Kay membuang waktu juga bodoh.
Saat melamun sambil menatap kamar yang serba berwarna pink, pikiran gadis berambut bondol tersebut seolah diberi wahyu. Tapi Kay sangat tahu ia butuh modal untuk itu.
Akhirnya ia nekat mendatangi Julia, kakaknya. Ia tahu berbeda dengannya yang hidup serba ada, Julia sebetulnya sedang menghadapi masalah finansial serius. Tapi mau bagaimana lagi, meski kaya, itu semua uang ayah serta ibu, karena Kay masih terlalu muda untuk bekerja. Ya, usia Kay masih empat belas tahun.
Saat mendatangi Julia, Kay tahu kakaknya itu sedang sibuk. Tapi hasratnya untuk membuka cafe seperti bayi yang harus sudah dilahirkan. Kay langsung mengatakan tujuannya, meski saudari tuanya belum menyuguhkan apapun.
Sebetulnya Julia ingin menolak. Tapi melihat adiknya yang berbinar, dan tak ingin Kay selalu menyendiri lagi, wanita dengan dua putri tersebut langsung menyetujui.
Tiga puluh juta untuk kafe sederhana sesuai permintaan sang adik pun langsung ia transferkan. Meski setelah itu dirinya bingung karena uang untuk membayar hutang justru diberikan secara suka rela pada salah satu orang yang paling ia cintai. Ya, Julia mengatakan pada Kay, supaya uangnya tak usah dikembalikan.
***
Dua minggu kemudian, kafe yang bertempat di halaman depan rumah Kay yang disulap, mulai ramai setelah awalnya sepi. Tentu hal itu karena promo media sosial masif dari ibu dan keluarga Kay, juga Kay sendiri.
Pun yang datang insan yang mencintai kesepian layaknya Kay. Awalnya semua lancar. Yang berada di sana serasa menyicip surga. Kafe Kesepian, begitulah Kay menamai kafenya.
Tapi pelan namun pasti semua merasa seperti mengkhianati pribadi mereka.
"Kalau memang hakikatnya mencintai kesepian, kenapa harus berada di sebuah kafe yang pada dasarnya untuk nongkrong bersama?"
Itulah yang ditanyakan semua yang ada di Kafe Kesepian. Termasuk... Kay sendiri.
Bahkan mulai terjadi gesekan. Ada yang berdehem sedikit saja, salah satu pasti menggebrak meja. Ada yang merokok, beberapa pengunjung mengeluh. Serta banyak gesekan lain.
Akibatnya Kay pun mulai kewalahan, sampai ia mulai menunjukkan gejala gangguan psikologis. Untungnya ada sang ibu yang selalu menemani. Namun suasana kafe sudah tidak dapat lagi dikondisikan.
Juga, Akbar, ia yang sebelumnya merasa tenang mulai terganggu. Tanpa banyak argumen pemuda tersebut pamit dari kos. Akibatnya Kay pun semakin stres. Cowok yang diam-diam ia kagumi pergi, setelah dua tiga kali ikut merasakan suasana Kafe Kesepian.
Hingga akhirnya semuanya merasakan berisik hati dan tak datang lagi. Mau bagaimana lagi, yang datang untuk mendapatkan ketenangan, justru pulang dengan hati dongkol.
Hanya tiga minggu setelah Kafe Kesepian buka, tempat yang dibangun dengan tujuan mulia itu pun tutup.
Awalnya Kay murung, ia lebih banyak melamun. Tapi, dalam lamunannya, di dalam kamar Kay justru merasakan ketenangan. Kay dengan perlahan merasakan itu kembali.
Rasa stresnya perlahan menghilang dan ia mendapatkan ketenangan. Hanya satu yang ia sesali, kepergian Akbar.
Dan dalam beberapa hari, Kay kembali tenang. Gadis keturunan Palembang tersebut menyadarinya, meski itu datang perlahan. Tentang ketenangan yang tak mungkin dicampur dengan suasana massal, apapun aksesorinya.