Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku mengantarmu sore itu ke bandara. Gerimis tak berhenti sejak malam.
Kamu mengajakku jalan-jalan menyusuri kafe di riverbank bantaran sungai di sisian Peunayong yang hangat, singgah menyesap Vanilla Latte sambil menikmati gerimis dan gemericik alun sungai di bawahnya. "Ini bukan perpisahan, hanya untuk menjaga ingatan dan kenangan," begitu ujarmu saat itu.
Besok kamu berangkat ke Jepang, membawa hatiku. Aku kira kamu hanya akan menjadi teman baikku saja, tapi ternyata hatiku sendiri, dan kamu memintanya lebih dari itu.
"Aku di sana tidak sebentar. Tapi hatiku akan tetap tinggal di sini bersamamu."
"Kamu yakin?" Aku bertanya padanya bukan karena ragu, tapi takut merindu.
Kamu mengangguk dengan mata berbinar. "Aku akan sibuk, memikirkan pekerjaan, kuliah, dan kamu, selainnya tidak."
Aku mengiyakan saja, mengangguk meskipun hatiku berisik. Aku tahu, kamu selalu bisa menyembunyikan air matamu di depanku. Aku lihat titik air matamu di boarding gate, menjelang kepergianmu. Tapi aku tak bisa menahanmu menuju Kyoto University seperti cita-citamu sejak dulu.
"Aku di sini juga akan menyibukkan diri, bekerja. Mengajar akan melarutkan banyak waktuku, begitu juga dengan novel-novel yang harus aku selesaikan seperti janjiku."
"Aku tunggu setiap bulan, novelmu," begitu pintamu saat aku menggenggam tanganmu terakhir kali di bandara.
Genggaman hangat itu lebih terasa seperti perpisahan.
***
Langkahmu ke Narita terhenti selamanya di Selat Malaka, membawa hatimu dan seluruh ceritamu tak pernah pergi jauh dariku.
Aku sekarang sering ke riverbank Peunayong, yang muaranya tak lagi di Selat Malaka, tapi di hatiku yang selalu mengingatmu.