Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hening —
Desiran angin tipis menerpa wajahku dan pria di sampingku. Ia nampak tegar dengan raut sendu yang membuatku sedikit terpikat. Sopan, santun, wajahnya begitu asing bagiku. Kami baru pertama kali bertatap muka. Dia menyenangkan. Aku nyaman. Entah, ada perasaan hangat yang cukup lama membuat hati berdesir. Leo. Nama yang cukup pemberani itu membiusku.
Kami bertemu di salah satu grup cosplayer. Aku cosplayer pemula, ia yang mengajakku berkenalan. Setelah mengobrol beberapa saat, kami memutuskan untuk jogging malam hari. Karena jadwalku padat, kami menyempatkan olahraga ringan di sekitar pelabuhan tongkang menuju ke kelenteng.
Kami berbicara banyak hal, pekerjaan dan hobi, hingga pembicaraan menjadi cukup berat.
"Aku berkunjung ke psikiater yang kamu sarankan. Katanya aku cemas," ujarnya membuka suara.
"Benarkah? Aku berhenti ke sana sudah empat bulan lalu. Aku baik-baik saja," ucapku lugas.
Dia cukup pengertian. "Aku dapat dua obat, satu untuk kecemasan, satunya penenang."
Aku tertawa kecil, "Aku dapat empat. Aku juga sama, generalized anxiety disorder, tapi dispesifikkan ke post traumatic syndrome."
"Post traumatic syndrome? Itu apa?" tanyanya penuh perhatian.
"Ya, semacam trauma," ucapku, tidak ingin melanjutkan.
"Trauma ya... Ya, kita harus memikirkan masa lalu tapi tetap berpegang teguh pada masa depan. Jika masa lalumu buruk, maka masa depanmu bisa dibangun lebih baik. Masa lalumu bukan menentukan siapa kamu di masa depan."
Aku tertegun dengan ucapannya. Selama ini aku terpuruk.
Kami berjalan cukup lama hingga tiba di sebuah kelenteng yang sedang renovasi.
"Lihat warnanya, merah," ucap Leo. Aku tersenyum cukup lama.
"Iya. Merah yang ini nggak nyakitin mata. Sungguh menenangkan."
"Maaf aku cukup berisik ya," ucapku tiba-tiba.
Leo menggeleng pelan, "Tidak apa-apa kok, aku sudah terbiasa dengan hal seperti itu," ucapnya sembari melempar senyum hangat miliknya.
Kami berdiam cukup lama. Suasana tiba-tiba menjadi lebih berat.
"Kamu tau, aku putus dari pacarku— yah sebenarnya salahku, karena aku pernah selingkuh sekali. Mungkin aku anggap saat itu aku masih penasaran, coba-coba dan akhirnya aku menyakitinya. Tapi, dia membalasku," ucapannya memberat. Aku tertegun. Ini topik yang cukup berat di awal pertemuan.
"Aku memaafkannya, namun ia melakukannya lagi hingga dua kali. Sehingga aku mengambil keputusan itu. Aku tau jika yang kulakukan itu salah, tapi dia sama bersalahnya denganku kan?" Leo berhenti sejenak, lalu menatapku.
"Eumh... aku nggak berani nge-judge sih, karena aku nggak pernah menjalin hubungan seperti itu, dan nggak pernah ada di posisi kamu. Aku cukup jadi pendengar aja. Walaupun itu salah, tapi seperti yang kamu bilang tadi, kalian berdua salah." Aku tersenyum, bahu kami saling bersenggolan.
"Kalian berdua bersalah karena tidak menjaga hati masing-masing. Katakan saja pertemuan kalian itu saling mengajarkan untuk tulus dan lebih belajar mencintai orang yang sudah memberikan hatinya. Jadi, jangan mengulangi kesalahan yang sama," ucapku menarik napas berat.
"Udah mau jam delapan kurang, mau balik?" tanyanya.
"Iya," aku tersenyum.
"Yaudah lewat rute yang tadi aja," ucapnya kemudian.
"Nanti jogging lagi ya?" ajakku tersenyum.
Dia mengangguk pelan, tidak salaman, hanya menatapku sebentar.
"Ya, Nin. Kita olahraga bareng lagi. Janji."