Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Saya masih ingat, saat itu Pak Guru sedang menjelaskan bab Homo Sapiens yang saya simak baik-baik karena cukup tertarik dengan mata pelajaran sejarah.
Suatu kali, embusan angin mendadak datang. Posisi bangku saya yang berada paling depan dekat pintu membuat angin itu menerpa bebas.
ππΆπ΄π΄π©π©!
Teman sebangku spontan membenarkan rambutnya yang berantakan sementara saya cuek saja.
Saya tetap fokus ke Pak Guru yang selama menjelaskan beberapa kali melirik atau terang-terangan menatap ke arah saya. Waktu itu saya mengira beliau ingin main tebak-tebakan seperti biasa dan diri ini begitu siap untuk menjawab.
Sayangnya, dugaan itu salah karena sampai bel pulang berbunyi, Pak Guru tidak memberikan pertanyaan sama sekali.
Beliau segera merapikan barangnya dan berpesan agar kami selalu hati-hati saat di perjalanan pulang.
Dan, inilah klimaksnya!
Ketika melewati bangku saya, Pak Guru menorehkan senyum. Saya pun segera membalasnya dengan ramah. Meski di mata saya saat itu, ada yang aneh dengan senyum beliau ditambah cekikikan beberapa teman. Hingga teman sebangku memukul bahu saya sambil berkata,
"Heh, itu ada sarang daun di kepala!"
Spontan saya merabanya.
π½ππππ!
Sekian helai daun kering bersarang di sana. Rupanya senyum simpul dari Pak Guru tadi mempunyai makna tersirat mendalam penuh hikmah. Semenjak itu, saya memilih duduk di bangku belakang setiap beliau mengajar. Kepalang malu!