Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Kisah Insan Yang Bertahan Untuk Hari Ini
1
Suka
8
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

‎Siang itu matahari tepat di atas kepala. Panasnya Jakarta Barat membuat tulang hampir setiap orang melepuh. Joni masih menunggu di depan sekolah.

‎

‎Dia bukan menjemput anaknya, bukan pula murid yang menanti kawannya untuk diajak ngelayap, atau bukan pula seorang murid budiman yang sedang membantu guru.

‎

‎Joni adalah seorang fakir yang meminta sisa makan bergizi gratis. Ia meminta bukan karena maruk, bukan pula serakah. Ia hanya ingin mengisi perut dirinya serta adik perempuannya yang masih kecil.

‎

‎Yatim piatu tersebut tidak mendendam, walau isunya kedua orang tua tewas tak wajar. Yang konon diprakarsai mafia setempat.

‎

‎Fokus Joni, bersama Tata, si adik perempuan, kala mendengar kedua orang tua mereka tewas, adalah bertahan untuk hari ini. Bukan mencari sesuatu untuk hari esok, atau fokus membangun diri demi cita.

‎

‎Joni disapa ramah Bu Atin, salah satu guru yang sebetulnya seusia dirinya, dan memiliki kecantikan layaknya bidadari.

‎

‎Sama sekali tidak ada harapan dari Joni untuk bisa berpacaran apalagi meminang. Bahkan sekedar pikiran untuk akrab pun tidak. Joni cukup tahu diri.

‎

‎Setelah menerima sisa paket makan bergizi dari Bu Atin, Joni langsung pulang. Jarak rumah sekitar lima kilometer. Joni terbiasa berjalan kaki. Ia tak punya uang untuk naik transportasi umum.

‎

‎Sebetulnya ia punya kartu transportasi yang diberikan pemerintah secara gratis. Namun dulu ia pernah sekali menaiki bus Trans Jakarta, sayangnya jadi bahan tontonan.

‎

‎Tidak ada yang mengejek atau menjelekkan dirinya. Tapi lebih ke gestur juga tatapan yang membuat tidak nyaman. Sejak saat itu Joni memutuskan untuk berjalan kaki kemanapun ia pergi, dan kartu itu sekarang sudah berdebu di rumahnya, yang lebih tepat disebut gubuk tak layak.

‎

‎Beberapa pemuda juga pemudi bermain gitar, mereka tetap bernyanyi dan sibuk dengan aktifitas mereka. Joni bersyukur dirinya tidak jadi sasaran bully. Atau mereka hanya tidak melihat Joni saja? Tapi ia bersyukur tak dihina.

‎

‎"Alhamdulillah, Ya'Allah."

‎

‎Ya. Bagi Joni tidak menjadi sasaran ejekan saja, sudah cukup untuk membuat dirinya mengucap puji syukur pada penciptanya.

‎

‎Rumah masih sekitar delapan ratus meter. Bukan jarak yang jauh, tapi tidak dekat pula. Dan kebetulan waktu menunjukkan pukul tiga lebih.

‎

‎Sebetulnya ada masjid untuk berhenti tuk solat ashar, tapi pikiran Joni lebih tertuju pada perut adiknya, yang kemungkinan sudah menahan lapar sejak dua jam lalu.

‎

‎Ia pun melewati masjid. Hati Joni sebetulnya sedih. Joni berpikir seandainya dirinya orang mampu. Tapi menjadi mampu pun tidak menjamin dirinya akan lebih dekat dengan Tuhannya. Joni sangat paham itu.

‎

‎Dalam lamunannya Joni dikagetkan oleh bunyi klakson motor. Rupanya Bu Atin yang faktanya cantik jelita itu, menawarkan tumpangan pada Joni.

‎

‎Guru muda tersebut mengatakan jarak rumah tinggal lima ratus meter, jadi Joni tak perlu merasa bersalah karena bensinnya tak seberapa.

‎

‎Beberapa saat kemudian Joni turun dari motor, ia sampai di kediamannya. Tata yang berusia sembilan tahun pun muncul. Ia mencium tangan Atin, juga tangan Joni.

‎

‎Atin membelai rambut Tata, kemudian memberinya dua puluh ribu rupiah. Joni berterima kasih. Ia tidak enak menolak karena sudah cukuo akrab dengan guru yang telah bertunangan tersebut.

‎

‎Joni dan Tata tersenyum sambil melambaikan tangan, pun Atin membalas dengan membunyikan klakson.

‎

‎Keduanya kemudian masuk, tidak bisa bersantai. Karena dalam tiga puluh menit Joni harus kembali memulung. Dan Tata... Kembali kesepian. Mengkhayalkan sesuatu, yang seharusnya menjadi hak untuk anak seusianya.

‎

‎Esok pun berbagai aktivitas yang sama bakal dilakoni. Entah sampai kapan. Ya. Entah sampai kapan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Bronze
Banned
Rere Valencia
Flash
Kisah Insan Yang Bertahan Untuk Hari Ini
Rere Valencia
Novel
Bipolar Buddha
Kirana Aisyah
Novel
I Want You, Uncle
Error 404
Novel
Dream Changes Me
Auli Inara
Novel
Cemburu
Belaamelristika
Novel
Gold
Talijiwo
Bentang Pustaka
Novel
Gold
The Red Haired Woman
Mizan Publishing
Skrip Film
Bagaimana Aku Bertemu Denganmu
Rumpang Tanya
Flash
Bronze
Si Buta di Angkutan Kota
Herdi Riswandi
Flash
Nggak Kenal
BANYUBIRU
Cerpen
Rindu Yang Tak Terucap
Fauzan Tamam Arzaaqi
Skrip Film
AURORA
Yustini Kusumadewi
Skrip Film
Dinding Temaram
Aksarabuntara
Novel
Bronze
GURU
Di Pindho Bismoko
Rekomendasi
Flash
Kisah Insan Yang Bertahan Untuk Hari Ini
Rere Valencia
Flash
Bronze
Banned
Rere Valencia
Flash
Alasan Masih Berdiri
Rere Valencia
Flash
Bronze
Shani
Rere Valencia
Flash
Bronze
Rahasia Besar
Rere Valencia
Flash
Bronze
Pulang
Rere Valencia
Flash
Bronze
Es Krim Dari Kakek
Rere Valencia
Flash
Bronze
Penggantiku
Rere Valencia
Skrip Film
Pahit
Rere Valencia
Flash
Bronze
Tempat Untuk Pulang
Rere Valencia
Flash
Bronze
Mengapa?
Rere Valencia
Flash
Bronze
Talenta Yang Tersiakan
Rere Valencia
Flash
Bronze
Comel
Rere Valencia
Flash
Bronze
Prasangka Setelah Tragedi
Rere Valencia
Flash
Bronze
Ending
Rere Valencia