Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Repitisi
0
Suka
10
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

"Berita hari ini. Idi Amin melarikan diri setelah menjadi pembantai. Niatnya menggulingkan Obote untuk kepentingan negara, justru dia yang menjadi lebih berbahaya dari ..."

Suara radio bercampur gemerisik mengisi senyap di ruang tamu. Seorang anak tertidur di dekatnya, di atas kursi kayu tanpa bantalan.

Di luar rumah, sekumpulan laron mengelilingi lampu jalanan. Sayap-sayap patah berserakan, tubuh-tubuh bergelimpangan. Banyak yang masih terbang namun tak peduli dengan rekannya.

Seorang pria menggeser pagar perlahan, langkahnya tenang lalu kembali menutup pagar. Ia mematung sejenak melihat jalanan basah sedikit menggenang dan tanah yang mengeluarkan uap.

Pria itu membuka pintu tanpa suara dan disambut suara radio yang berbisik. Ia terdiam menatap anaknya yang pulas. Ia mengendap-endap mematikan radio itu dan kembali ke pintu hendak menguncinya lagi.

"Pak..."

Pria itu terkesiap lalu membalikkan badannya, ia melihat anaknya dengan rambut bermodel mangkok duduk mengucek matanya.

"Hah, Sutardi, kenapa tidur di luar?"

Anak itu menggelengkan kepala. "Ardi mau tidur sama Bapak."

"Ibu mana?"

Anak itu menunjuk pintu kamar sembari menguap.

"Kenapa tidak tidur sama Ibu?"

"Apa Ardi tidak boleh tidur dengan Bapak?"

Si pria menghela napas lalu meletakkan koper kerjanya dan membuka jaket serta kemeja hingga menyisakan singlet putih lusuh. Ia duduk di kursi menggeser anaknya. "Sini duduk sama Bapak." Tangannya menarik anaknya. "Tapi Bapak asem nih, belum mandi," ucap si pria sembari menggosok rambutnya yang kusut.

Sutardi merangkul tangan kiri bapaknya.

"Tadi kamu sama ibu nonton TV di rumah Pak Subagyo?"

Sutardi mengangguk.

"Nonton apa?"

"Nonton Bu Mar. Tadi Didu main dan bercanda sama Pak Awal. Ardi iri melihatnya."

"Masak kamu iri dengan sandiwara?"

Sutardi menunduk dan merapatkan bibir.

"Sutardi, kamu jangan tidur malam begini, kan sudah Bapak bilang, kalau sudah siaran Mana Suka Siaran Niaga kamu pulang sama Ibu terus tidur."

"Apa Ardi tidak boleh menunggu Bapak?"

"Boleh, Sutardi sayang... tapi kan kamu harus tidur cepat karena besok pagi harus sekolah."

"Bapak pulang malam setelah Ardi tidur, pergi sebelum Ardi bangun. Apa Bapak tidak mau ketemu dengan Ardi?"

Si pria terdiam, memandang jam dinding yang sudah berada di pukul 01.10. Ia mengelus kepala Sutardi. "Hm, bapak mau cerita sedikit, Bapak teringat waktu kecil."

Sutardi memandang bapaknya dengan serius.

"Bapak dulu sering sekali protes sama Kakek yang juga pulang malam terus, cuma bisa main hari Sabtu dan Minggu. Bapak benci sekali sama Kakek yang tidak pernah ada waktu, dan Kakek waktu itu bilang, 'Ini semua buat kamu, nanti kamu juga akan paham.'"

"Terus Bapak jawab apa?"

"Bapak bilang, 'Apa Bapak sama sekali tidak punya waktu untuk main?'", Bapak tertawa ringan. "Ya, kurang lebih sama dengan yang kamu lakukan sekarang."

Sutardi melotot dan mendengus lalu mendorong bapaknya. "Ardi benci Bapak."

Si pria mengernyit. "Hah? Kamu kenapa, sayang?"

"Bapak... kenapa Bapak jadi orang yang Bapak benci?"

"Bukan begitu, Nak, tapi nanti kamu pasti akan mengerti kenapa Bapak begini."

"Bapak sama kayak Kakek, bahkan Bapak lebih parah hari Minggu pun masih bekerja."

"Tapi, Nak, ini semua buat kamu."

"Bapak bilang benci Kakek karena tidak ada waktu, dan Bapak sendiri sekarang bahkan lebih tidak ada waktu."

Si pria menarik napas panjang dengan rahang mengeras. "Sudahlah, Sutardi. Lebih baik kamu tidur!" Si pria berdiri memandang anaknya dengan mata memerah.

"Apa aku nanti jadi seperti Bapak juga?" Sutardi menunduk.

"Tidur sana!" teriak si pria.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Om Nakula!
Hana Firya Putri Arimbi
Flash
Repitisi
Pipo Vernandes
Cerpen
Bronze
Kekacauan di Pagar Sekolah
Ron Nee Soo
Cerpen
Bronze
Perjalanan impian Toni part 2
Azis Sulaeman
Skrip Film
Rumah No.47
mufida saediman
Novel
Itu kau
Farida Rach
Novel
Sang Pemalas
Ighavianna
Novel
Bronze
Tell Me Your Secret
Risda Ully Safitri
Novel
Alpha vs Alpha
mikaji Al daufan
Cerpen
Bronze
Bagaimana Dini Menemukan Subagio Sastrowardoyo
Habel Rajavani
Flash
Bronze
BUNGA YANG DIPUPUK DENGAN DARAH DAN DAGING MANUSIA
Mu Xuerong
Novel
Bronze
ANGEL WITHOUT WING
Angie Wiyaniputri
Flash
Bronze
PENCURI PENGLIHATAN
Nimas Rassa Shienta Azzahra
Novel
Bronze
Sabda Sabda Cinta (Buku Pertama)
Imajinasiku
Novel
Bronze
Laksana Angkasa
Syafi'ul Mubarok
Rekomendasi
Flash
Repitisi
Pipo Vernandes
Cerpen
Babuy
Pipo Vernandes
Novel
Hayalism
Pipo Vernandes
Novel
Detik Ruang Keluarga
Pipo Vernandes
Cerpen
bayi
Pipo Vernandes
Flash
Tiga Ketukan
Pipo Vernandes
Cerpen
Cugak
Pipo Vernandes
Flash
Pintu Dingin
Pipo Vernandes
Flash
Pintu Gelap
Pipo Vernandes
Cerpen
Catatan Kotor Ayah
Pipo Vernandes
Skrip Film
Bergumul Dengan Tuhan
Pipo Vernandes
Cerpen
Bergumul Dengan Tuhan
Pipo Vernandes
Cerpen
Icak-icak
Pipo Vernandes
Novel
HAYALISM : Antusiasm
Pipo Vernandes
Cerpen
kotak hiburan
Pipo Vernandes