Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Malam itu suasana kampung Jambu Biji begitu meriah, HUT buyutnya buyut Lurah, lebih tepatnya HUT kampung sedang berlangsung.
Malam itu suasana begitu pecah. Berbagai hiburan terlaksana. Baik untuk semua kalangan, sampai yang disembunyikan pada anak kecil, atau dewasa yang dianggap anak kecil.
Pukul delapan malam Pak Lurah, Onde, berdiri di atas panggung. Ia mulai berpidato. Semua orang langsung tertuju padanya. Bahkan yang sedang berlomba adu mekanik secara perumpamaan, pun beristirahat dulu.
Onde mengumumkan bahwa tahun ini tokoh utama sampai tahun depan adalah Anjar. Pemuda tanggung yang hobi bersepeda.
Anjar kaget, ia naik panggung dengan gemetar. Bagaimana tidak merinding, tokoh utama dari tahun ke tahun selalu saja apes.
Ambil contoh untuk tokoh utama tahun lalu, Jalal, ia sampai pindah desa. Bahkan rumornya pemuda keturunan Arab Qatar yang entah kenapa tidak ikut kaya raya tersebut depresi berat. Sampai... Sempat masuk rumah sakit jiwa.
Beberapa kawan Anjar menertawakan, bahkan ada yang bilang,
"Mampus lu. Mampus."
Tidak ada yang tahu mengapa, orang yang diumumkan menjadi karakter utama oleh lurah, pasti selalu hidup sial sepanjang satu tahun.
Banyak yang percaya, itu karena saat mengumumkan, Lurah selalu dalam keadaan mabuk. Ya, tak ada yang tahu. Yang pasti, hal tersebut sudah berlangsung sangat lama.
***
Anjar pulang ke rumahnya, tentu dengan sepedanya walau jarak dekat. Dalam pikiran, selalu terbayang kesialan apa saja yang akan menimpa sepanjang tahun.
Dan benar saja, kesialan pertama datang, dua kesialan malah. Kelelawar yang sedang masuk angin tanpa sengaja memuntahkan isi sarapannya. Bau muntahan sangat menyengat, sampai Anjar kehilangan keseimbangan dan jatuh dari sepeda.
Lalu handphone berbunyi, Anjar pun mengambil handphone dari kantongnya. Bukan telepon, tapi pesan WhatsApp. Anjar pun mengeceknya. Rupanya itu Rahmad, kawan segrup adu mekanik. Isi pesannya,
"Bro, jatah lu tahun ini dihapus, ya. Kita gak mau ikut kena sial."
Anjar hanya bisa pasrah. Ia menuntun sepedanya, karena saat jatuh dari sepeda, ia sudah sangat dekat dengan rumahnya.
Sesampainya di rumah ia hanya mau tidur. Ibu dan ayahnya pun tak menanyai apapun, mereka seperti menghindar. Anjar tahu karena dirinya tahun ini jadi tokoh utama.
Anjar langsung merebahkan diri, pekerja bengkel 18 tahun tersebut berniat langsung tidur. Dan mungkin selama satu tahun ini ia akan tidur.
Soal kerjaan? Anjar merasa mungkin semua orang di bengkel akan bersyukur, jika satu tahun ini dirinya tak terlihat dulu. Karena ia tahu banyak rekan-rekannya di bengkel desa, akan merasa aman jika dirinya tak di sekitar mereka.
***
Lalu dalam tidurnya Anjar bermimpi bertemu jin, yang entah kenapa bertubuh kurus kering. Dengan kecemasan yang menguasai dirinya, Anjar meminta agar dirinya tak jadi tokoh utama untuk tahun ini.
Jin bernama Asep tersebut pun menyatakan sesuatu. Ia bisa mengabulkan. Tapi saat itu terjadi hidup akan selesai.
Anjar ketakutan, ia mengira dirinya akan mati. Asep pun menenangkan. Ia menyatakan itu bukan mati, tapi lebih kepada... Kisah hidup Anjar tak bisa lagi dinikmati oleh pembaca atau penonton.
Anjar tak paham tapi mengiyakan saja. Ia pun terbangun. Saat terbangun suasana hati Anjar masih seperti biasa. Ia pun menggerutu karena pengalaman dengan Jin Asep, ternyata hanya mimpi.
Lalu Anjar beraktivitas layaknya seseorang yang sedang cuti kerja pada umumnya, pun seperti yang diperkirakan, kesialan demi kesialan terus menimpa sepanjang hari itu.
"Padahal ini baru hari pertama. Gini amat." Anjar menggerutu.
Mendadak Samsudi, sang ayah memanggil. Meminta putra yang tidak bisa dibanggakannya tersebut membantu membetulkan genteng kamar Anjar. Pantas saja Anjar semalam juga bermimpi berjalan di tengah badai salju.
Anjar berjaga jangan sampai kena sial. Untungnya sampai selesai membantu membetulkan genting dirinya tak mengalami masalah. Anjar lega. Pun Samsudi yang tak kecipratan sial.
Begitu gembiranya Anjar sampai bersorak gembira dan akhirnya menubruk tubuh ibunya, Tuti, yang gempal. Anjar pun kena gampar. Anjar tahu itu kesialan.
Lalu Anjar scrol medsos. Hal umum yang sering dilakukan orang gabut. Lalu seperti biasa ia menonton cerpen karya Rere Valencia, yang cantiknya mempesona. Membayangkan kalau saja ia adalah kekasih dari penulis yang akrab disapa ReVa tersebut.
Tanpa Anjar sadari ia menulis kalimat tersebut di kolom komentar Rere. Membuat banyak fans Rere menghujat lewat direct message. Anjar kewalahan sampai mematikan pesannya.
Lalu, tidak ada angin tidak ada hujan, Tuti menyuruhnya untuk mengambil belanjaan di warung Mpok Indah. Anjar tahu ini bagian dari kesialan. Ia tahu kesialan lain akan menanti. Tapi Anjar tahu, tak menggubris permintaan ibunya, sama saja membiarkan bencana masuk. Ia pun mengiyakan.
Seperti biasa dengan sepedanya ia pun menuju rumah Mpok Indah, yang jujur terkadang membuat Anjar meneteskan sesuatu.
Lalu sesampainya di warung Mpok Indah, sambil memandangi tubuh wanita yang lebih tua tujuh tahun darinya tersebut, Anjar menerima belanjaan Tuti. Ia pun...