Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Anthoni, biasa dipanggil Toni, sejak kecil berharap membuka restoran makan keluarga yang besar. Dengan syair atau puisinya yang mempercantik tiap dinding restoran.
Ia ingin membangun keontetikan serta keunikan. Segalanya berjalan lancar. Toni adalah orang kaya, ia mendapat modal dari Rahmat, ayahnya. Tapi mendadak ia kini kesulitan untuk menulis puisi.
Tangan Toni bergetar. Dadanya berdetak sangat cepat. Sejak tadi ia kesal karena buntu ide. Puisi yang rencananya ingin ia letakkan di tengah restoran bahkan satu huruf pun belum diketik.
Sedangkan Rahmat sejak tadi memanggil. Meminta anaknya itu untuk membantu. Ya, hari itu hari pertama restoran dibuka. Restoran yang khusus menghidangkan masakan Jawa.
Restoran keluarga yang baru dibuka tersebut sangat ramai, karena dibuka di New York. Banyak orang yang penasaran bagaimana makanan Indonesia, apalagi dilabeli makanan Jawa Tengah yang otentik.
Suara Rahmat tidak didengar oleh Toni, ia fokus dengan puisi yang bahkan kata pertama pun belum ia ketik. Rahmat mengetuk pintu kembali. Berkata restorannya adalah restoran Toni, seharusnya ialah yang menyambut para pelanggan pertama.
Toni langsung memukul meja dan berteriak kencang. Rahmat paham kemudian berlalu. Sedangkan para pelanggan bingung karena mendadak ada suara teriakan.
Saat mereka bertanya pada Rahmat, Rahmat menjawab jujur. Sesuatu yang tidak dapat ia lakukan di Indonesia karena stigma. Pelanggan maklum. Rahmat pun bersyukur restoran milik putranya tersebut dibuka di New York, bukan di salah satu daerah di Indonesia.
Toni akhirnya menemukan percikan ide, ia mulai menulis. Tapi baru dua tiga larik ia kembali buntu. Ia pun mencari bantuan, bertanya dan curhat ke AI. Menyatakan kenapa ia kini kesulitan untuk mendapat dan mengembangkan ide.
Tentu Toni juga bercerita tentang restoran barunya, juga menceritakan konsep restoran yang ia rencanakan. AI yang menjawab berdasarkan banyaknya data yang masuk tersebut pun menjawab.
Bahwa dulu Toni begitu lancar menulis karena pemuda tersebut hanya fokus pada satu hal, yaitu puisi. Sedangkan sekarang lelaki berusia 25 tahun tersebut harus membagi fokus pada restoran. Apalagi keduanya memiliki tekanan besar yang berbeda secara psikologis.
AI pun menyarankan, jika Toni ingin menghias seluruh isi restoran untuk bermacam puisinya, ia harus fokus untuk hal tersebut, dan harus membicarakannya dengan Rahmat. Bahwa itulah pekerjaan dan fokus dirinya untuk saat ini.
Saat ditanya bagaimana untuk memunculkan ide dengan cepat, kecerdasan buatan itu pun menjawab, Toni bisa meniru salah satu cara dari studio animasi besar di Hollywood. Yaitu memikirkan endingnya terlebih dahulu.
Karena dengan ending yang sudah terlahir terlebih dahulu, otomatis sudah ada patokan dan juga kerangka, kemana arah puisi yang ingin Toni pajang di restorannya.
Toni langsung menutup tab ChatGPT-nya. Ia yang merasa sudah paham, langsung mencari ide ending. Tapi mencari ide ending tidak semudah yang awalnya ia kira.
Salahnya Toni, ia langsung tutup saja tab AI yang sedang ia tanyai. Toni tak membaca, menemukan ending terlebih dahulu juga harusnya ada percikan ide di awal.
Toni pun kesal karena merasa sudah dibodohi AI, padahal itu kesalahannya sendiri yang gegabah. Merasa kesal, ia pun keluar kamar. Dimana ia harus melewati ruang restoran terlebih dahulu.
Toni kaget, ia kira restorannya sepi, tapi rupanya ramai. Dan ia makin terkejut ketika banyak pengunjung yang memotret sesuatu di dalam bingkai. Setelah Toni cek, itu beberapa puisi lamanya. Toni pun mendengar banyak pujian pada puisi lama karyanya.
Rahmat menepuk pundak Toni, Toni menoleh kemudian bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Rahmat menjawab, bahwa ia mengatakan pada pengunjung restoran, bahwa pemilik restoran amat mencintai puisi, dan sudah menulis begitu banyak.
Kemudian, Rahmat juga mengatakan, ada pengunjung yang menyarankan, supaya jangan puisi baru saja yang dipajang. Karena karya lama pun tetaplah karya. Mereka abadi.
Saat mendengar kata abadi, Toni menitikkan air mata. Dalam hati ia meminta maaf pada semua karyanya yang ia tulis dulu. Ia salah mengira, dulu ia mengira karya lama sudah tak memiliki nilai apapun, ketika usianya semakin bertambah.
Kini Toni sadar, karya tetaplah karya, yang nilainya tidak pernah turun. Apalagi jika dibuat dengan segenap hati. Mendadak muncul ide di kepalanya.
Toni akhirnya sadar, bahwa ide tidak bisa dipaksakan untuk keluar. Ide menanti inspirasi, suasana, juga pengalaman di sekitar.