Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di suatu desa yang tenteram ada suatu hukuman unik. Jika suami ketahuan berpoligami.
Hukumannya, sang istri harus menyaksikan suaminya membacakan berbagai dosa yang telah dilakukan suami mereka.
Tak cukup sampai disitu, istri yang suaminya bersalah, juga harus menyaksikan suaminya mandi air seni mereka sendiri.
Harus melihat langsung tanpa diperbolehkan menutup mata dan telinga. Di sebuah panggung yang telah disediakan. Dimana seluruh warga menyaksikan semuanya.
Pagi itu Bronya tak kuasa menahan malu, di atas panggung yang dikerumuni masa. Ia harus menyaksikan suaminya, Pawel, membacakan seluruh aib yang telah ia perbuat, sambil mandi air seni, tentunya.
Pawel sedang menjalani hukuman, ia kedapatan berpoligami. Sebuah hal yang sangat ditentang seluruh komunitas.
Bronya sebenarnya menerima dan sudah lama tahu, ia juga tidak takut pada suaminya. Sikap yang disangkakan warga desa padanya.
Yang membuat Bronya sangat malu ialah semuanya bocor ke publik. Ia juga kecewa karena ternyata suaminya bercinta di sembarang tempat. Di luar tempat yang disepakati.
Pengamat memperhatikan Bronya. Ia membentak wanita muda tersebut karena nampak meleng. Pawel merasa sakit hati istrinya dibentak. Dirinya sangat ingin membela, tapi tak punya keberanian. Lagipula ia terdakwa yang sedang menjalani hukuman.
Sejak tadi dalam hati ia berulang kali meminta maaf. Meski akar masalahnya adalah Bronya sendiri, yang meminta ia untuk berpoligami.
Alasannya cukup kompleks, Bronya masih muda, tetapi secara psikologis, wanita 22 tahun tersebut, merasa tidak dapat memberikan nafkah biologis untuk Pawel.
Pernikahan Pawel dan Bronya sendiri baru berlangsung dua tahun. Bukan pernikahan yang dipaksakan. Mereka juga saling mencintai. Tapi semua menjadi kacau setelah Bronya memberitahu Pawel tentang kondisi psikologisnya.
Akibat sangat mencintai Bronya, Pawel pun menuruti, ketika istrinya itu menjodohkan dirinya dengan teman akrab. Alasannya agar kebutuhan biologis Pawel bisa terpenuhi.
Pawel tidak tahu dan tidak paham, bahwa secara psikologis Bronya terganggu. Ia pun menuruti istrinya tersebut. Meski itu justru membuat batin Pawel tersiksa.
Hukuman selesai, Pawel, Bronya, dan hakim pengamat turun secara berurutan. Warga desa menyoraki Pawel, sedang suara dukungan pada Bronya menggema.
Hati Bronya menangis karena merasa ia mendapatkan dukungan yang seharusnya tak ia dapatkan. Tapi ia tak boleh memperlihatkannya, karena jika ketahuan, akan ada sidang ulang, dan bisa membuat dirinya, Pawel, serta Zofia, sahabat nya, dibuang ke luar desa.
Bronya serta Pawel tak mau itu terjadi. Karena jika mereka dibuang, ibu Bronya, Wanda, yang sudah uzur, bisa hidup sebatang kara di desa.
Sedang dari belakang Zofia memperhatikan. Sejak dulu ia sebetulnya ingin memberitahu. Bahwa ia sesungguhnya adalah adik tiri Bronya. Tapi urung dilakukan karena mental sang kakak tiri.
Ya. Dulu Wanda mengizinkan suaminya untuk mempoligami dirinya. Alasannya sungguh identik dengan Bronya. Bedanya, mental Wanda baru terganggu setelah melahirkan.
Dan pada akhirnya, putrinya itu mengulang hal yang sama. Hal yang tak ingin Wanda ulang lagi seumur hidup.
Wanda sendiri sekarang melamun sendirian di rumah. Merasa menyesal telah menurunkan genetik yang bagi ia, keluarganya, dan warga desa, amat memalukan.
Wanda sudah mempersiapkan diri. Merasa menyesal. Karena tak bisa mengikis sampai habis, hal yang ia anggap sebagai dosa warisan.
Saat Bronya dan Pawel mengetuk pintu, hanya suara derit jendela yang menjawab. Wanda telah pergi. Pergi untuk meminta maaf pada suaminya yang sejak lama terlebih dahulu menjadi mendiang.