Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Self Improvement
Tiga Ketukan
2
Suka
182
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Pintuku diketuk pelan dan terdengar suara lirih, "Aku adalah Takdir, buka pintu ini!"

Aku termangu sejenak dengan dahi berkerut lalu bertanya, "Kau takdir yang bisa diubah atau tidak?"

"Kau membuka pintu ini untukku akan menjadi takdirmu, walaupun kau ada pilihan untuk tidak melakukannya."

"Terdengar janggal jika suatu takdir yang sudah ditetapkan bisa tidak tetap."

"Memang betul, takdir itu akan tetap sama atau tetap berubah."

"Jadi apa pun hasil dari yang aku kerjakan itu sudah ditakdirkan?"

"Ya, tapi kau terlalu banyak bicara, cepat buka pintu ini! Kau tidak bisa menolak takdir."

Aku menelan ludah dan menarik gagang pintu yang dingin ini dengan perlahan, lalu melihat kehampaan di baliknya. "Di mana kau?" tanyaku sembari memastikan ke segala arah.

"Aku di hadapanmu, kau takkan bisa melihatku tapi kau bisa melihat bayanganku."

Aku melirik cepat memastikan, dan melihat bayangan buram di lantai.

"Kau hanya bisa melihat itu dan seolah mampu mendengarkan takdir."

"Jadi kau kosong? Jadi kau bukan apa pun? Tapi aku harus menerimamu?"

***

Saat ini pintuku diketuk lagi diiringi suara seseorang yang berkata bahwa ia adalah Waktu.

Aku pun bertanya apa kepentingannya mendatangiku.

"Tanpa kepentingan apa pun, aku pasti mendatangimu."

"Aku tidak mau bertemu denganmu!"

"Bagaimana mungkin kau bisa Waktu?"

Suaranya kini terdengar dari arah belakang dan membuatku memutar badan lalu menempel di pintu, pandanganku menyapu sekitar dengan cepat.

"Aku datang di belakang Takdir dan kau harus menerimaku juga," ucap Waktu lagi.

"Hah? Bagaimana kau bisa masuk? Di mana kau? Apa kau sama seperti Takdir yang tidak terlihat?"

"Tidak ada ruang yang bisa mengikatku dan memang kau tak akan mampu melihatku."

"Kalau kau memang Waktu, aku mau lihat masa depanku seperti apa?"

"Coba kau tutup matamu dengan tangan."

Aku mengikuti perintahnya.

"Apa yang kau lihat?"

"Gelap."

"Seperti itulah masa depan, hanya Takdir yang bisa menggapainya."

Aku membuka mata dan memandang sekitar dengan tajam. "Artinya kau bukan Waktu, karena kau tidak tahu masa depan!"

"Tidak ada yang bisa meminta padaku atau mengaturku sekalipun Takdir. Aku tak bisa dipercepat, aku hanya bisa berjalan maju sesuai pola Takdir."

"Hah? Kau bilang tak ada yang bisa mengaturmu, tapi kau berjalan sesuai pola Takdir?"

"Tanpaku Takdir tidak ada masanya dan tanpa Takdir aku hanya hampa."

Aku mengernyit. "Jawabanmu membingungkan. Aku tak percaya jika kau adalah waktu."

"Tidak masalah jika kau tak percaya, aku tak butuh kepercayaanmu. Dan pertanyaanmu soal masa depan dapat terjawab dari masa lalumu, dari apa yang kau lakukan, dan aku bisa membuatmu mengingatnya."

"Artinya, masa laluku adalah takdir untuk masa depanku?"

***

Hari ini pintuku kembali diketuk dan aku mendengar suara seseorang dengan warna suara yang kukenal.

Sejenak aku mematung mencari pemilik suara itu di dalam kepalaku.

Suara itu kembali memanggil dan aku memutuskan untuk segera membukanya.

Aku terkesiap melihat diriku yang berasal dari beberapa tahun lalu.

Wajahnya datar. Tangannya tiba-tiba memegang pundakku.

Aku menahan napas dan melirik ke tangan itu.

Ia berkata dengan suara datar, "Kau adalah orang yang aku benci."

Aku melihat lagi wajahnya yang kosong.

"Aku benci dirimu yang mengkhianatiku, semua karena waktu yang mengubah takdirku," ucapnya tanpa berkedip sedikit pun.

Napasku tersendat. "Mmm... maksudnya?"

"Jika saja aku tahu akan seperti ini, maka akan lebih baik jika tidak ada aku." Dia menurunkan tangannya dan berlalu menghilang di balik gelap.

Tamat

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Self Improvement
Flash
Tiga Ketukan
Pipo Vernandes
Flash
Bronze
Akselerasi Politis Jakarta Bandung
Silvarani
Flash
Bronze
A Rose Bouquet in the Trash
Silvarani
Cerpen
Bronze
Kampus Impian
T. Filla
Flash
Perempuan
lidia afrianti
Flash
After Nine
Hans Wysiwyg
Cerpen
Alasan Orang Indonesia Beremigrasi Keluar Negeri
Yovinus
Flash
Arunika
Adam Nazar Yasin
Flash
Setoples Bintang Kecil
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bronze
ANAK LELAKI DI ATAS KURSI
Lady Mia Hasneni
Flash
Warna Pertama
INeeTha
Cerpen
Alam Akan Menemukan Jalannya Untuk Menunjukkan Bahwa Kita Kecil
awod
Flash
Dia Yang Bernafas
lidia afrianti
Flash
Uang Panas
Hans Wysiwyg
Cerpen
Aku untuk Diriku Part 2
Dyah
Rekomendasi
Flash
Tiga Ketukan
Pipo Vernandes
Flash
Pintu Dingin
Pipo Vernandes
Novel
Hayalism
Pipo Vernandes
Cerpen
bayi
Pipo Vernandes
Cerpen
Babuy
Pipo Vernandes
Flash
Repitisi
Pipo Vernandes
Flash
Pintu Gelap
Pipo Vernandes
Cerpen
Icak-icak
Pipo Vernandes
Cerpen
Cugak
Pipo Vernandes
Novel
Detik Ruang Keluarga
Pipo Vernandes
Cerpen
Bergumul Dengan Tuhan
Pipo Vernandes
Cerpen
kotak hiburan
Pipo Vernandes
Cerpen
Catatan Kotor Ayah
Pipo Vernandes
Novel
HAYALISM : Antusiasm
Pipo Vernandes
Skrip Film
Bergumul Dengan Tuhan
Pipo Vernandes