Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku hanyalah pejalan kaki, pejuang yang terus melangkah untuk mencari kemenangan.
Langkahku sudah berat, sudah berhari-hari aku tidak berhenti. Jika aku istirahat, aku hanya akan semakin tertinggal ribuan mil lagi dengan yang lainnya.
Sangat lelah.
Aku sebenarnya juga ingin menyerah.
Hidup ini terlalu sesak. Jalan yang kulalui terlalu memutar. Tangga yang kunaiki terlalu terjal. Jurang kegagalannya juga terlalu curam.
Bekalku cuma seadanya.
Rumahku jauh di antah berantah sana.
Kalau kembali sudah pasti kalah, tapi kalau lanjut sudah pasti babak belur.
Kalau aku lebih memaksa lagi, aku malah akan mati di jalan.
Aku akhirnya berhenti sejenak, berniat mengambil istirahat di perjalanan yang masih jadi misteri ini.
"Buang saja nasi kepalmu!" kata salah satu pelancong yang kutemui. "Apa layak disebut makanan?"
Dia menyuruhku membuang nasi kepal yang kubeli dengan uang hasil keringatku sendiri?
Bagaimana bisa?
Nasi kepal yang di matanya hanya barang murah itu, di mataku adalah barang berharga.
Lalu aku tersadar.
Bagaimana barang yang sama bisa punya sudut pandang yang berbeda?
Lah, kita juga sama-sama manusia, kenapa dia punya segala aku sebaliknya?
Aku ini apa?
Apa aku hanya pelengkap hidup orang punya?
Apa aku layak berada di sini?
Tunggu!
Kenapa aku harus mempertanyakan kelayakanku di saat bukan mereka yang punya kuasa mutlak sebenarnya?
"Ini nasi kepalku!" jawabku padanya. "Aku mendengar ucapanmu, tapi tindakanku selanjutnya adalah sepenuhnya pilihanku."