Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Waria Berperut Buncit & Berkumis Tipis
0
Suka
21
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

‎Semua orang takut, merasa ngeri. Mince, waria berperut buncit dan berkumis tipis dengan eyeliner-nya yang menghitam karena air mata, terus mengacungkan golok.

‎Pak Haji Mamat yang ingin menenangkan pun ditebasnya beberapa menit lalu, dan sekarang sedang ditangani di rumah sakit.

‎Disitu sebetulnya ada polisi, tapi mereka seperti menunjukkan wajah mereka yang sebenarnya. Meski punya pistol, mereka manusia yang punya rasa takut.

‎Soleh, keponakan Mamat, meminta Mince yang bernama asli Gatot itu untuk tenang. Tapi kesalahan penyebutan nama malah membuat Mince semakin tinggi emosinya.

‎Mereka terjebak di warung remang, pun dua orang polisi, yang tak bisa melakukan apapun. Mince tetap bertahan, di depan pintu warung remang, sambil terus mengacungkan golok.

‎Berteriak dengan keras, karena kesalahan Dika, yang kurang uang setelah mendapat service. Mince terus mengungkit dunia yang absen untuk orang seperti dia.

‎Waria berusia empat puluh lima tahun itu merasa ia sudah berusaha keras, namun tak diberikan hak yang layak.

‎Soleh sempat memotong, kalau itu soal istri Mince, Yuli, yang menuntut cerai, dunia pun tidak bisa menyelesaikan. Tapi dibentak, menyatakan Soleh tak usah ikut campur.

‎Mendadak handphone Mince berdering, Mince mengangkatnya. Dengan masih mengacungkan golok Mince mendapat kabar dari Yuli yang menemani Haji Mamat di rumah sakit.

‎Haji Mamat meninggal. Kemungkinan pria yang jadi waria karena tuntutan ekonomi tersebut akan dipenjara cukup lama. Emosi Mince pun terdistraksi, ia nampak terhuyung. Kebingungan.

‎Tapi ketika salah satu polisi bergerak cukup cepat dan hendak meringkusnya, Mince bergerak lebih cepat. Akibatnya tangan polisi bernama Firman itu pun terluka. Rekan polisi satunya, Ido, bahkan tertindih badan Firman yang terlempar.

‎Mince mengancam supaya tidak ada yang bergerak. Ido mencoba merayu, supaya ia dibiarkan mengambil baju dari kamar, untuk disobek dan dijadikan kain untuk menutupi luka.

‎Mince berteriak tak peduli, karena polisi seperti Ido dan Firman memang pantasnya mati. Mince juga menyinggung kalau pendapatan mereka berdua sebagai backing penyakit masyarakat, bahkan lebih besar ketimbang pengorbanan jiwa dan raganya. Mince merasa berkorban, tapi stigma membuat pengorbanannya ditertawai.

‎Soleh mencoba masuk, ia mengatakan sah-sah saja jika Mince merasa kesal pada Firman dan Ido. Tapi ia tahu, Mince adalah pribadi yang memiliki rasa kemanusiaan. Berbeda dengan polisi korup. Saat mendengar Soleh berkata polisi korup, Ido dan Firman menoleh. Ekspresi mereka seperti ingin membela diri, karena mereka punya alasan.

‎Mince tetap teguh pada pendiriannya. Ia masih mengacungkan golok. Namun matanya kini tertuju pada Dika, yang masih menutupi kepala dan badan sejak tadi. Ada rasa iba terhadap pemuda berusia dua puluh tahun tersebut, ia merasa Dika adalah versi muda dirinya.

‎Itulah sebabnya saat Dika mengatakan uangnya kurang setelah mendapat pelayanan, emosi Mince meledak. Sebab, ia mendadak ingat, dulu sewaktu muda dirinya begitu brengsek, dan melakukan hal yang sama seperti yang Dika lakukan. Bahkan tak hanya sekali.

‎Mince berdebar, ia kembali emosi. Ia marah pada Dika bukan karena pemuda itu kurang uang. Tapi lebih kepada, ia kesal pada moral dirinya ketika muda dulu.

‎Di tengah lamunan pria dengan dua anak tersebut, Ido dengan presisi menembak golok yang dipegang Mince. Mince terkejut, ia terjatuh sambil mengaduh kesakitan. Kemudian Ido sigap berlari, mengamankan dan mengunci tubuh Mince.

‎Tapi ia tak kuat sehingga harus dibantu Soleh dan dua warga lainnya yang juga ikut tertawan. Sedangkan Firman menatap dengan khawatir. Ia ingin membantu tetapi tubuhnya tak sanggup. Sedangkan Dika masih menutupi kepala dan tubuh dengan tangannya. Masih belum sadar jika Mince sudah diamankan.

‎Mince yang sempat menoleh pada Dika, makin merasa panas dan kesal. Ia makin yakin dunia adalah siklus. Ia percaya di masa depan Dika akan jadi seperti apa. Dan kelak akan ada pemuda yang mungkin membuat Dika kesal. Layaknya ia yang kini kesal pada pemuda tersebut.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Laksana Angkasa
Syafi'ul Mubarok
Novel
Bronze
Kilatan Api di Langit Biru
Hargo Trapsilo
Flash
Waria Berperut Buncit & Berkumis Tipis
Rere Valencia
Flash
Sekejap Senja, Selamanya Rasa.
Putri Rafi
Flash
LAMARAN
Ida Ahdiah
Flash
Bronze
Lelaki Kemarin Sore (Membicarakan Adam 6)
Silvarani
Cerpen
Bronze
Intelektualitasnya Ternodai
T. Filla
Novel
Hadiah dari TUHAN
Rizky Ade Putra
Skrip Film
Sejak Juni Menjadi Dingin
Ralali Sinaw
Cerpen
Aluna dan Sepatu Kiri
Mahalawan
Cerpen
Bronze
Bintang Pagi
Zaki S. Piere
Cerpen
Sihir
9inestories
Novel
Ku Bawa Cintaku Berkunjung ke Rumah - Mu
Utami Syahdiah
Komik
Penantian
Salsa Putri
Novel
Bronze
My Name is Mawar
Renny Juldid
Rekomendasi
Flash
Waria Berperut Buncit & Berkumis Tipis
Rere Valencia
Flash
Bronze
Billy dan Greesel (Apa Adanya)
Rere Valencia
Flash
Bronze
Suatu Hari Pasti Terjadi
Rere Valencia
Cerpen
Demi Yang Tersayang
Rere Valencia
Flash
98.5 Persen Show Don't Tell
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Quantum Kayla
Rere Valencia
Flash
CCTV & Videocall
Rere Valencia
Flash
Bronze
Sang Diva
Rere Valencia
Flash
Bronze
Shani
Rere Valencia
Flash
Bukan Milik Dunia
Rere Valencia
Flash
Bronze
Reviewer Handal
Rere Valencia
Flash
Bronze
Kimia
Rere Valencia
Flash
Bronze
Harus Tidur
Rere Valencia
Flash
Bronze
Demi Pohon Lemon
Rere Valencia
Flash
Bronze
Habib Gadungan Kena Azab Instan
Rere Valencia