Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Saat ini pintuku diketuk lagi diiringi suara seseorang yang berkata bahwa ia adalah Waktu.
Aku pun bertanya apa kepentingannya mendatangiku.
"Tanpa kepentingan apa pun, aku pasti mendatangimu."
"Aku tidak mau bertemu denganmu!"
"Bagaimana mungkin kau bisa menolakku?"
Suaranya kini terdengar dari arah belakang dan membuatku memutar badan lalu menempel di pintu, pandanganku menyapu sekitar dengan cepat.
"Aku datang di belakang Takdir dan kau harus menerimaku juga," ucap Waktu lagi.
"Hah? Bagaimana kau bisa masuk? Di mana kau? Kau sama seperti Takdir yang tidak terlihat?"
"Tak ada ruang yang bisa mengikatku dan
memang kau tak akan mampu melihatku."
"Kalau kau memang Waktu, aku mau lihat masa depanku seperti apa?"
"Coba kau tutup matamu dengan tangan."
Aku mengikuti perintahnya.
"Apa yang kau lihat?"
"Gelap."
"Seperti itulah masa depan, hanya Takdir yang bisa menggapainya."
Aku membuka mataku dan memandang sekitar dengan kesal. "Artinya kau bukan Waktu, karena kau tidak tahu masa depan!"
"Tidak ada yang bisa mengaturku sekalipun Takdir. Aku tak bisa dipercepat, aku hanya bisa berjalan maju sesuai pola Takdir."
"Hah? Kau bilang tak ada yang bisa mengaturmu, tapi kau berjalan sesuai pola Takdir?"
"Tanpaku Takdir tidak ada masanya dan tanpa Takdir aku hanya hampa."
Aku mengernyit. "Jawabanmu membingungkan. Aku tak percaya jika kau adalah waktu."
"Hm, pertanyaanmu soal masa depan dapat terjawab dari masa lalumu, dari apa yang kau lakukan, dan aku bisa membuatmu mengingatnya."
"Artinya, masa laluku adalah takdir untuk masa depanku?"