Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hujan rintik-rintik berubah menjadi gerimis yang kian rapat dan deras, menghantam atap mobil dengan suara bising. Namun di dalam kabin, keheningan justru terasa begitu pekat.
Aksara mulai bercerita dengan suara yang gemetar, membuka luka lama yang selama satu dekade ini ia kunci rapat-rapat di dasar ingatan paling gelap. Ia menceritakan bagaimana kebodohan masa mudanya yang ingin diakui oleh lingkungan tongkrongan membawanya ke basemen ruko pengap berbau bir basi itu. Ia menceritakan bagaimana sebuah kesalahpahaman sepele antar-kelompok memicu pertikaian liar.
Auryn tidak berteriak. Tidak ada amarah yang meledak dari matanya. Ia hanya menatap Aksara dengan kekosongan yang teramat dalam. Tatapan seorang wanita yang jiwanya sudah terlalu lelah untuk sekadar memproses kejutan baru. Pikiran Auryn melompat ke segala arah, bergulung seperti ombak besar yang siap menenggelamkan apa saja.
Pagi tadi, ibunya kembali memaki-makinya lewat telepon, menuntut uang bulanan tambahan yang tak diketahuinya harus dicari dari mana lagi, sembari membanding-bandingkan dirinya dengan sang adik yang dianggap lebih beruntung. Siang tadi, manajemen kantor mengumumkan restrukturisasi masif; perusahaan di ambang kebangkrutan dan namanya masuk dalam daftar karyawan yang bersiap untuk dirumahkan. Dan sore tadi, sebelum ia bertemu Aksara, sahabat karibnya sejak masa sekolah menangis di hadapannya, mengaku bahwa dia telah mencintai Aksara jauh sebelum Auryn mengenal lelaki itu di bangku kuliah.
Dan sekarang, lelaki yang menjadi satu-satunya tempatnya bersandar, mengaku pernah mengenakan baju tahanan atas kasus kematian seseorang. Dunia Auryn rasanya runtuh menjadi kepingan-kepingan tak berbentuk.
Auryn menghela napas panjang, sangat panjang, hingga bahunya yang ringkih naik-turun. Ia mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Aksara yang gemetar di atas kemudi.
"Aku nggak marah, Sa," bisik Auryn hangat, namun suaranya terdengar sangat jauh. "Itu sepuluh tahun lalu, nggak ada yang bisa diubah dari masa lalu seseorang. Yang penting gimana kamu yang sekarang."
Aksara terpaku, ada secercah kelegaan yang amat besar menyeruak di dalam dadanya. Namun, senyum kecil di wajah Auryn justru mengisyaratkan hal lain.
"Tapi, aku butuh waktu sendiri, Sa," lanjut Auryn, setitik air mata akhirnya luruh melewati pipinya yang pucat.
"Kamu pasti benci banget sama aku,"
Auryn menggeleng cepat, "nggak. Aku cuma butuh ruang buat memproses ini semua. Ada banyak hal yang terjadi hari ini, kepalaku rasanya mau pecah."
"Bagi sama aku?" Tawar Aksara, menatap lembut ke manik hazel Auryn.
Auryn tetap pada pendiriannya. Menganggap semuanya bisa ia tampung, bisa ia kendalikan seorang diri. Selalu seperti itu. Hingga mereka berdebat hampir tiga puluh menit, berakhir dengan mereka sepakat untuk memberi ruang sendiri untuk masing-masing. Tidak ingin berdebat lebih jauh, dan hanya akan menyakiti perasaan satu sama lain.
"Aku antar kamu pulang." Tandas Aksara tatkala Auryn memaksa untuk memesan taksi online karena tidak mau merepotkannya.
"Kamu jadinya mutar dua kali, Sa." Tolak Auryn.
"Tolong," Aksara menatap Auryn dengan tatapan yang sulit diartikan, alis Auryn hampir bertaut menerjemahkannya. Sejurus kemudian ia mengangguk, mengaminkan permintaan Aksara.
Mazda 3 hatchback milik Aksara membelah Jl. Pahlawan Seribu yang mulai dipadati pengendara. Dengan kecepatan pelan karena hujan mengetuk kaca depan mobil begitu kerasnya di malam hari, membiaskan pendar lampu jalanan kota menjadi bulir-bulir cahaya yang buram.
Aksara mengulurkan tangan kirinya ke layar kecil di dashboard, memilih saluran radio, pikirnya untuk menyamarkan kecanggungan yang ada.
I'll probably be a waste of your time, but who knows?
Oh, shit! Aksara merutuki dirinya sendiri dalam diam. Lirik sialan, katanya. Ia melirik sekilas ke arah Auryn, namun perempuan itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Hanya diam.
Aksara sudah berniat mengganti saluran, namun Auryn menginterupsinya. "It's okay, Sa," ucapnya lirih.
Lagu dari Daniel Caesar menggema memenuhi kabin, tidak ada masalah dari suaranya, hanya saja liriknya seperti menghantam ego Aksara, membuatnya seperti dipermalukan entah mengapa. Jemarinya mencengkram kemudi dengan erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Tiga ratus enam puluh lima hari bergulir, dan malam ini Aksara seperti berdiri di tebing yang paling curam.
Auryn sedari tadi hanya melempar pandangan ke jalan, menghadap ke jendela. Wajahnya tampak begitu kuyu. Kantung mata yang menghitam menceritakan dengan jelas betapa perempuan itu tidak pernah benar-benar tidur nyenyak selama berminggu-minggu. Kesibukan kantor, tuntutan menjadi tulang punggung keluarga, serta dinginnya jarak di antara mereka telah menguras habis sisa-sisa energinya.
Maybe we get married one day, but who knows?
Aksara buru-buru mematikan saluran radio, sekali lagi melirik ke arah Auryn yang masih sama. Tidak merasa terganggu sama sekali.
Tidak butuh waktu lama, deru mesin mobil memelan di depan pagar rumah Auryn. Perempuan itu dengan tergesa membuka seatbelt, meraih tasnya dan membuka pintu mobil.
Sebelum turun, Auryn menoleh sebentar, "makasih, Sa. Kamu pulangnya hati-hati." Lirih Auryn, suaranya teredam hujan, terdengar serak menahan tangis.
Aksara hanya menyunggingkan senyum sebagai balasan, tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak langsung pergi, menatap punggung perempuan yang dicintainya itu berlalu tanpa menoleh sekali pun. Beberapa menit kemudian ia bisa melihat lampu kamar Auryn menyala, perempuan itu sudah benar-benar sampai dengan selamat.
Sementara Auryn berdiri di depan jendela kamarnya yang menghadap ke jalan, menatap Aksara yang terlihat mengusap wajahnya dengan kasar di balik kemudi.
Air matanya akhirnya tumpah begitu melihat mobil Aksara menjauh dari rumahnya, hilang dalam pekatnya malam dan derasnya hujan.
Ia jadi bertanya kepada dirinya sendiri, akankah lelaki itu akan kembali suatu hari nanti? Ataukah... memang ini akhir dari semuanya?
Auryn ingin memeluk kekasihnya itu dengan erat. Namun entah mengapa, segala yang ada di dalam kepala dan hatinya seolah menahannya melakukan itu. Ia tidak ingin menjebak lelaki itu lebih jauh ke dalam kehidupannya yang rapuh. Meski lelaki itu selalu saja mampu mendobrak seluruh pertahanannya setiap waktu.
***