Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
SERAT-SERAT SUARA
7
Suka
28,692
Dibaca

Setiap ada dinding, di tempat yang dikunjunginya, kini Perempuan itu pasti akan menempelkan telinganya. Rapat-rapat, hingga dingin dindingnya terasa melekat di pipi.

"Di sini, ya, persis di sini. Masih terdengar langkah kedatanganmu, tadi."

Matanya berkedip, dan napasnya menghirup pelan, lantas ia embuskan udara lewat mulutnya. Agar dengan saksama mendapati suara yang ingin sekali didengarkannya lagi.

"Kita pernah janjian di tempat ini."

"Oh ya?" seorang Lelaki kemudian seperti lupa, berusaha mengingat.

"Yang aku tahu kamu suka kopi di kafe ini, kamu suka duduk memandang keluar jendela, kamu suka memainkan jarimu mengetuk mejanya, dan kamu suka....."

"Tapi aku tak suka waktu yang berjalan, berlalu begitu saja."

Lelaki itu menunjuk jam dinding persis di atas meja resepsionis.

"Tak perlu mendengar detik jarum jam, cukup dengarkan suara kita!"

"Bahkan ketika di sini bising?"

"Sekalipun riuh dan sedang ramai."

Perempuan itu meminta untuk memelankan percakapannya. Tangannya melambai, seolah mengajak bergegas menghampiri.

"Sini, lakukan seperti apa yang kuperbuat barusan!" 

Lelaki itu enggan, karena ia tahu itu seperti kurang kerjaan.

"Kamu malu ya?"

"Kemarin di stasiun, kamu menempelkan telingamu di pilar. Di mal, kamu menempelkennya di lift, di bioskop kamu menempelkannya di kursinya, di..."

"Ssstt.. coba dulu!" Perempuan itu sedikit protes karena Lelaki itu bukannya menurut, malah ngomel.

"Baiklah, baiklah!" sedikit terpaksa, Lelaki itu beranjak bangkit dari kursi.

"Ni aku tempelin telingaku." 

Mula-mula lelaki itu kikuk, karena akibat ulah mereka berdua beberapa pengunjung merasa aneh melihat tingkah mereka.

Dalam hitungan beberapa detik kemudian, Lelaki itu tiba-tiba setengah berteriak, "Hah?" lantas mengangguk ke arah Perempuan di sampingnya.

"Aku mendengar..."

"Ya," Perempuan itu memotong seolah memintanya untuk tak usah terkejut.

"Kamu mendengar kan, serat-serat suara kehadiran kita tak pernah benar-benar hilang?"

"Semuanya terserap, semuanya meresap dan akan memanggil kita untuk kembali kelak." Lelaki itu pun tersadar, hanya ada secangkir kopi dan sebuah kursi yang kosong sebenarnya dari tadi.***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Bronze
Setetes Rasa Berluka
Nur Aina
Novel
Bronze
Cerita Kia untuk Randi
Arum mania sukma
Novel
Bronze
Singularity
Rezky Armitasari
Flash
SERAT-SERAT SUARA
Faisal Syahreza
Novel
Bad Romance Curse
Thu Jun
Novel
Eunoia
Name of D
Novel
Antara Alif dan Hamzah
Imroatul Mufidah
Novel
Ai Ni
Tara Lee
Novel
Bronze
TOO IN LOVE TO LET GO
Heri ST
Novel
Cartwheels and Heartbreaks
Hilwa Taqiyya
Flash
Titip Dua Ribu Rasa
lidia afrianti
Novel
Kisah Yang Tak Sempurna
Yuki Chen
Flash
Bronze
JIKA SURGA NGOMONG SAMA KAMU...
Shabrina Farha Nisa
Novel
Bronze
PESANTREN IN LOVE
Lailatul Rif'ah
Novel
Bronze
Cerita Rumah Kita
Gun Kuntara Adhiarta
Rekomendasi
Flash
SERAT-SERAT SUARA
Faisal Syahreza
Flash
PELUKAN SETENGAH ABAD
Faisal Syahreza
Flash
JAS REMBULAN
Faisal Syahreza
Flash
ES AIRMATA BAHAGIA
Faisal Syahreza
Skrip Film
Yang Lupa Diajarkan Cinta
Faisal Syahreza