Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
SERAT-SERAT SUARA
7
Suka
28,628
Dibaca

Setiap ada dinding, di tempat yang dikunjunginya, kini Perempuan itu pasti akan menempelkan telinganya. Rapat-rapat, hingga dingin dindingnya terasa melekat di pipi.

"Di sini, ya, persis di sini. Masih terdengar langkah kedatanganmu, tadi."

Matanya berkedip, dan napasnya menghirup pelan, lantas ia embuskan udara lewat mulutnya. Agar dengan saksama mendapati suara yang ingin sekali didengarkannya lagi.

"Kita pernah janjian di tempat ini."

"Oh ya?" seorang Lelaki kemudian seperti lupa, berusaha mengingat.

"Yang aku tahu kamu suka kopi di kafe ini, kamu suka duduk memandang keluar jendela, kamu suka memainkan jarimu mengetuk mejanya, dan kamu suka....."

"Tapi aku tak suka waktu yang berjalan, berlalu begitu saja."

Lelaki itu menunjuk jam dinding persis di atas meja resepsionis.

"Tak perlu mendengar detik jarum jam, cukup dengarkan suara kita!"

"Bahkan ketika di sini bising?"

"Sekalipun riuh dan sedang ramai."

Perempuan itu meminta untuk memelankan percakapannya. Tangannya melambai, seolah mengajak bergegas menghampiri.

"Sini, lakukan seperti apa yang kuperbuat barusan!" 

Lelaki itu enggan, karena ia tahu itu seperti kurang kerjaan.

"Kamu malu ya?"

"Kemarin di stasiun, kamu menempelkan telingamu di pilar. Di mal, kamu menempelkennya di lift, di bioskop kamu menempelkannya di kursinya, di..."

"Ssstt.. coba dulu!" Perempuan itu sedikit protes karena Lelaki itu bukannya menurut, malah ngomel.

"Baiklah, baiklah!" sedikit terpaksa, Lelaki itu beranjak bangkit dari kursi.

"Ni aku tempelin telingaku." 

Mula-mula lelaki itu kikuk, karena akibat ulah mereka berdua beberapa pengunjung merasa aneh melihat tingkah mereka.

Dalam hitungan beberapa detik kemudian, Lelaki itu tiba-tiba setengah berteriak, "Hah?" lantas mengangguk ke arah Perempuan di sampingnya.

"Aku mendengar..."

"Ya," Perempuan itu memotong seolah memintanya untuk tak usah terkejut.

"Kamu mendengar kan, serat-serat suara kehadiran kita tak pernah benar-benar hilang?"

"Semuanya terserap, semuanya meresap dan akan memanggil kita untuk kembali kelak." Lelaki itu pun tersadar, hanya ada secangkir kopi dan sebuah kursi yang kosong sebenarnya dari tadi.***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Sabina's Dream
Jennifer Halim
Flash
SERAT-SERAT SUARA
Faisal Syahreza
Novel
Bronze
Sampah Di Bulan Juni
Yuni Sarah
Flash
Alinya Rahmah
me_filyas
Flash
Tak Usah Belanja
Biru Tosca
Novel
Cinta Sampai Mati
Nakshatra B.
Novel
Titik Temu
Amrullah Ibrahim
Novel
Dear, My Baby
Renny Ariesya
Novel
Senja Pertama
Intan Resvilani
Novel
AKHIRA
Mulya ave
Novel
Di Antara Bintang Di Langit
Lirin Kartini
Skrip Film
Trapped Between Two Boss
Bintang Maharani Rahmania Putri
Novel
Bronze
SENYUMAN TERAKHIR
Gunawan Ha
Novel
Katakan Pada Senja
Kinno Rita L
Novel
SEMESTA RASA
Nerisyah putri cahyani
Rekomendasi
Flash
SERAT-SERAT SUARA
Faisal Syahreza
Flash
PELUKAN SETENGAH ABAD
Faisal Syahreza
Flash
ES AIRMATA BAHAGIA
Faisal Syahreza
Flash
JAS REMBULAN
Faisal Syahreza
Skrip Film
Yang Lupa Diajarkan Cinta
Faisal Syahreza