Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Dari balik dinding kaca ruang kerjanya, Ayumi Sekara selalu punya alasan untuk mengalihkan pandangan. Di luar sana, pada undakan rooftop yang menghadap parkiran, Bhumi Sagara sedang berdiri. Lelaki itu selalu ada di sana tiap jam istirahat. Menyelipkan sebatang rokok di antara jemari, membiarkan asap abu-abu bergulung ditiup angin lalu hilang.
Mereka tidak pernah berkenalan langsung. Jarak terdekat mereka hanya sebatas lorong kantor, sudut pantry, atau barisan meja foodcourt. Mata mereka yang lama bicara, saling melirik nama pada lanyard yang menggantung di leher masing-masing. Bagi Ayumi, ada misteri yang menenangkan dari sosok Bhumi. Bagi Bhumi, Ayumi adalah jeda visual dari badai di kepalanya. Bhumi tidak punya waktu untuk berkencan. Pikirannya habis dibagi untuk biaya kuliah dua adik laki-lakinya dan kemoterapi sang ibu yang mengidap kanker payudara sejak ayahnya wafat waktu ia SMP. Hidup Bhumi adalah tentang bertahan, bukan jatuh cinta.
Keheningan itu runtuh saat kertas voting family gathering dibagikan.
Ayumi membulatkan tekad. Jantungnya berdegup lebih kencang dari mesin cetak saat kakinya menaiki undakan rooftop. Bhumi menoleh, sedikit terkejut mendapati seseorang mendekati teritorinya.
Ayumi mengulurkan tangan. Di jemarinya, ada secarik kertas HVS berwarna berbentuk segi empat kecil. "Buat voting nanti," suara Ayumi agak bergetar. "Kamu harus milih antara Bali atau Banda Neira."
Bhumi menatap kertas itu, lalu beralih ke wajah Ayumi. Sudut bibirnya terangkat tipis—sebuah senyuman langka. "Terima kasih, Ayumi," ucap Bhumi pelan, suaranya serak khas perokok.
Tepat saat itu, pintu pembatas terbuka. Renata berjalan naik membawa tumpukan berkas. Matanya melirik jenaka. "Kencan kok di rooftop, apalah gaji dua digit itu."
Ayumi mendelik tajam, wajahnya mendadak panas. "Ngobrol biasa, Ta. Apa sih," sanggahnya cepat.
Renata berlalu dengan senyum mencemooh. Sebagai sahabat, Renata tahu betul Ayumi jatuh hati pada lelaki yang tampak membosankan dan hampir tidak pernah mengobrol dengan siapa pun itu. Namun bagi Ayumi, di dalam kesendirian Bhumi, ada ketabahan yang justru membuatnya terpikat.
Di undakan itu, keheningan kembali turun. Namun kali ini, kepulan asap rokok Bhumi tidak lagi terasa dingin.
***