Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hari ini Andre seperti biasa jadi bahan perbincangan. Sudah jadi keseharian dirinya dibicarakan, sebab hampir tidak pernah keluar rumah, bahkan keluar kamar.
Keluarganya sendiri pun sudah asing dengannya. Bahkan adiknya yang bungsu menyangka Andre adalah tetangga sekitar apartemen.
Tapi Andre tetap bebal. Ia masih mengurung dirinya di rumah. Hanya untuk menonton film dokumenter dari langganan berbayar suatu streaming service, dan menontonnya di laptop.
Andre tidak pernah jajan, makan hanya sehari sekali. Kadang hanya dengan bumbu Masako yang bisa ia hemat, bahkan sampai dua minggu perbungkus. Ya, uang jajan dan makan, Andre alokasikan untuk langganan streaming.
Tapi sebentar lagi Andre akan berubah, dan itu karena dokumenter yang sedang ditontonnya.
Andre dengan tanpa cemilan apapun menonton serius, ia tidak pernah melewatkan satu adegan pun. Itu kebiasaannya. Bahkan jika dirinya meleng sedikit saja ia akan mengulang dari beberapa detik sebelum adegan yang terlewat.
Hingga sekitaran menit empat puluh sembilan, saat beberapa warga Afro Amerika diwawancarai. Sekilas Andre melihat dua orang menembak seorang kakek hingga rubuh.
Mulanya Andre menyangka itu hanya bagian dari naskah. Andre sadar betul dokumenter juga ada yang memiliki naskah. Hingga dokumenter menyisakan lima menit durasi, adegan dua penembak tidak ada korelasinya dengan tema yang diangkat.
Hati Andre bimbang. Meneruskan sisa lima menit atau mencoba mencari tahu. Yang pertama tentu lokasi. Dan karena dedikasi nya terlalu tinggi, pemuda pengangguran tersebut pun, memutuskan akan menonton dulu sampai selesai, setelah itu baru penyelidikan.
Andre mencoba melakukan screenshot, tapi gagal. Andre lupa bahwa kebanyakan streaming service melarang pengambilan gambar. Andre tak hilang akal, ia mengambil hapenya dan memotret adegan pembunuhan.
Kemudian ia men zoom bangunannya, lalu mencari lewat Google Lens. Didapati bahwa bangunan tersebut berada di wilayah kumuh Baltimore.
Andre pun bergegas. Seperti biasa, tanpa mandi tanpa, berganti pakaian, ia keluar. Di bus semua memperhatikan, tentu karena penampilan dan bau tubuhnya. Supir pun tak bisa mengusir karena Andre bisa membayar.
Sesampainya di tempat yang dituju, Andre mengamati dari tempat warga sekitar diwawancarai. Dari sudut pandang tempat tersebut, memang sulit untuk melihat kejadian.
Lalu Andre bergegas menuju tempat kejadian perkara. Ia sudah tahu tempatnya di lantai delapan, meski tak tahu nomor rumahnya, ia akan mencari tahu. Sikap Andre yang anti sosial membuatnya tak mau bertanya pada warga sekitar.
Saat berada di lantai delapan Andre kebingungan, karena ada sekitar delapan kamar di sana. Tapi yang ia tahu pasti, kamarnya menghadap barat. Jadi tinggal tersisa kamar lima sampai delapan.
Tanpa diduga muncul lah kakek yang di dalam dokumenter ditembak. Andre melongo, ia membeku beberapa saat. Andre melihat kakek tersebut tersenyum memandang.
Lalu, karena Andre memandangnya secara aneh, kakek bernama Lucas tersebut mendekati Andre, bertanya ada apa. Meski mencium bau menyengat, Lucas tetap berusaha bersikap ramah.
Dengan nada yang retak, Andre membalas tentang yang ia lihat di dokumenter yang ia tonton. Lucas terbahak. Ia berkata itu cuma akting. Editor, sutradara, dan kru lainnya tidak mungkin luput melihat kejadian yang sudah terekam kamera. Pun lembaga sensor yang tak boleh berkedip sedikit pun.
Andre kemudian bertanya apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kru membuat adegan seperti itu di film dokumenter. Lucas menjawab itu demi keviralan, dan memang viral waktu itu.
Lucas juga mengatakan sampai ada satu juta tweet di X, dan postingan tentang adegan tersebut sampai diposting ulang ratusan ribu kali di Facebook, Instagram, Threads, juga Tiktok.
Lucas kemudian bertanya balik. Hal seviral itu kenapa Andre tidak tahu? Andre pun menjawab ia tidak memiliki medsos. Lucas terbahak, ada anak muda jaman sekarang yang tak punya medsos.
Lucas kemudian berpamitan pada Andre, berkata shift siangnya sudah semakin dekat. Saat ditanya honor dalam film dokumenter, Lucas makin terbahak. Ia berkata, sekedar terekam kamera dan mendapat peran, belum tentu hidup terjamin.
Andre terdiam membatu, ia memandangi Lucas yang sudah renta itu menekan tombol lift. Andre pun berniat pulang. Lalu seperti biasa menonton dokumenter lagi di kamarnya. Dan soal mandi? Andre sepenuhnya lupa.