Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
CCTV & Videocall
1
Suka
255
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

‎Malam ini aku keluar kota. Tepatnya ke kota ibuku, hanya untuk memasang CCTV.

‎

‎Bukan tanpa alasan aku memasangnya. Ibuku punya gangguan jiwa, jadi aku harus memantaunya dari jarak jauh.

‎

‎Alasannya ayahku ringkih. Badannya lebih kecil meski ia seorang pria. Dan yang menjadi penghambat utama, ayahku sudah berusia delapan puluh lima tahun. Terpaut tiga puluh tahun lebih tua dari ibu.

‎

‎Aku akhirnya sampai, aku beralasan pada ibu aku kangen jadi aku datang. Tukang pasang CCTV pun aku perkenalkan sebagai teman.

‎

‎Saat ibuku menyediakan kopi untuk dua tukang itu aku mengobrol dengan ayahku. Ayahku berkata ibuku sekarang lebih pendiam di depan banyak orang. Tapi di dalam kamar terdengar ibuku seperti mengobrol dengan seseorang.

‎

‎Dua asisten rumah tangga dan supir pun mengiyakan. Bahkan saat mengantar makan. Bi Prapto pernah mendengar ibu seperti sedang menyuapi seseorang.

‎

‎Lalu seperti biasa, ibuku tidur. Saat itulah dua orang tukang memasang di berbagai titik rumah. Sedang di kamar ibuku diletakkan CCTV berbentuk pin di atas ventilasi kamar.

‎

‎Aku dan dua tukang pun pamit. Aku harus kembali ke Klaten karena kesibukan kerjaku. Aku hanya berpamitan pada ayah, karena mood ibu akan memburuk jika dibangunkan tidur.

‎

‎***

‎

‎Tiga hari kemudian sesekali aku cek CCTV. Semua aman. Ibuku bertingkah sewajarnya. Tapi di hari keenam, aku melihat ibuku sedang membenturkan kepalanya ke tembok.

‎

‎Aku panik, kutelepon Bi Zahra, salah satu asisten ayah dan ibu yang lain. Bi Zahra menyatakan tidak ada yang terjadi. Aku naik pitam. Kukatakan supaya jangan berbohong.

‎

‎Kemudian Bi Zahra melakukan video call, terlihat jelas ibuku sedang disuapi Bi Prapto. Pun disitu ada ayahku yang sedang menonton televisi.

‎

‎Lalu aku kembali mengecek CCTV. Ibuku masih membenturkan kepala. Sangat kontras dengan pemandangan ibu yang sedang disuapi.

‎

‎Aku yang bingung sempat ngeblank sesaat. Aku mulai mempertanyakan, "Apa aku mulai terkena gangguan jiwa?". Ibuku orang dengan gangguan jiwa. Wajar menurun padaku, putrinya.

‎

‎Lalu kuhubungi Mang Soleh, supir ayah dan ibu, menggunakan handphone satunya. Aku terkejut ketika dia berkata,

‎

‎"Nona Dira, kapan ke rumah bapak ibu? Semua kangen, loh."

‎

‎Lalu saat itu kudapati CCTV sudah mati, dan panggilan videocall sudah dimatikan. Kulihat log panggilan, dan faktanya aku tidak pernah menelepon Bi Zahra. Aku membeku ketakutan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Horor
Flash
CCTV & Videocall
Rere Valencia
Flash
ANGGORO KASIH
Endah Wahyuningtyas
Cerpen
Bronze
Neon Ghost Cafe
Silvarani
Cerpen
Bronze
Bayang Bayang Dokter
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Petaka Dara Haid
Bintang kecil@15
Novel
Cursed on the Witching Hours
Roy Rolland
Novel
MISTERI PAVILIUN KAWEDANAN
Heru Sanjaya
Novel
Misteri Caraka
Sisca Wiryawan
Novel
Bronze
ALONE~Novel~
Herman Sim
Novel
TOLONG RUMAHNYA DIRAWAT
Indra S Miraj
Novel
Bronze
Jamkos ~Novel~
Herman Sim
Novel
Kisah Horor
Maghfira Izani
Cerpen
Bronze
Hantu Tanpa Kepala dan Kekasihnya
Wafa Nabila
Novel
Bisikan Malam
A.R. Rizal
Novel
Bronze
MUSLIHAT
Rachma Nurlela
Rekomendasi
Flash
CCTV & Videocall
Rere Valencia
Flash
Bronze
Talenta Yang Tersiakan
Rere Valencia
Flash
Bronze
Hikayat Yang Diwariskan
Rere Valencia
Flash
Bronze
Mainannya
Rere Valencia
Flash
Bronze
Sang Komedian Runtuh
Rere Valencia
Flash
Bronze
Werewolf
Rere Valencia
Flash
Bronze
Mengalihkan Sial Melalui Mimpi
Rere Valencia
Flash
Bronze
70 Musim
Rere Valencia
Cerpen
Trump's Era
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Ranjem
Rere Valencia
Flash
Bronze
Tanpa Kompromi
Rere Valencia
Flash
Bronze
Zee
Rere Valencia
Flash
Drama Panggung Resepsi Pernikahan
Rere Valencia
Flash
Bronze
Prasangka Setelah Tragedi
Rere Valencia
Novel
Bronze
Berharga
Rere Valencia